Senin, 29 Juni 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Keamanan siber: Sebuah ‘perisai’ yang melindungi transformasi digit…

Keamanan siber melindungi transformasi digital dan data nasional
Keamanan siber jadi perisai transformasi digital. (Ilustrasi: AI)

HANOI — Keamanan siber kini diposisikan sebagai perisai utama transformasi digital di tubuh pemerintahan Vietnam, setelah Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam menegaskan bahwa sistem digital, basis data, dan platform negara harus aman sejak tahap desain, bukan dibenahi setelah insiden terjadi.

Pesan itu disampaikan dalam pertemuan tematik tentang transformasi digital dalam sistem politik Komite Pengarah Pusat Bidang Sains, Teknologi, Inovasi, dan Transformasi Digital. Arahan tersebut datang di saat risiko kebocoran data, serangan siber, berita palsu, dan konten berbahaya makin besar seiring meluasnya layanan publik berbasis digital.

Bagi pembaca, inti pesannya sederhana: digitalisasi yang terburu-buru tanpa pagar keamanan justru membuka celah baru. Layanan makin cepat, tapi data warga, arsip pemerintahan, dan sistem lintas instansi bisa menjadi target empuk jika keamanan tidak dirancang dari awal.

Kenapa keamanan siber jadi fondasi, bukan pelengkap

To Lam menilai banyak instansi terlalu sibuk membangun sistem, memindahkan proses manual ke ranah digital, dan menambah layanan online. Masalahnya, perlindungan data sering datang belakangan. Pola seperti ini menciptakan celah yang berbahaya.

Ia menekankan bahwa setiap sistem digital harus mematuhi prinsip keamanan dan keselamatan sejak desain. Artinya, perlindungan tidak boleh ditempel di akhir, seperti tambalan. Sistem yang tidak aman bisa memicu fragmentasi data, penyalahgunaan, atau eksploitasi. Basis data yang tidak seragam dan tidak terlindungi juga sulit dipakai sebagai sumber daya untuk tata kelola nasional dan ekonomi digital.

Dalam praktiknya, risiko seperti itu terasa sangat nyata. Bayangkan satu instansi punya data warga, instansi lain menyimpan data layanan, dan daerah mengelola basis data sendiri-sendiri tanpa standar yang sama. Ketika sistem itu tidak saling bicara dengan aman, data jadi tercecer. Susah dipakai. Sulit dipercaya.

To Lam juga meminta pengakuan jujur atas kekurangan yang masih ada. Menurutnya, investasi di banyak sistem, platform, dan basis data belum otomatis menghasilkan interoperabilitas yang memadai. Data makin banyak, tapi nilai penuhnya belum muncul sebagai alat untuk melayani warga, dunia usaha, dan tata kelola negara.

Masalah lama: tumpang tindih sistem dan data yang terpecah

Ini bagian yang sering luput. Banyak negara, termasuk Vietnam, menghadapi problem klasik dalam transformasi digital: terlalu banyak platform berdiri sendiri, terlalu sedikit koneksi antar-sistem, dan sumber daya yang tersebar di mana-mana. Ujungnya boros.

To Lam menyebut titik terlemah justru ada pada kapasitas implementasi dan tanggung jawab utama tiap lembaga, unit, dan pemimpin. Dengan mekanisme serta kebijakan yang sama, hasil di lapangan bisa berbeda. Ada yang berhasil. Ada yang macet.

Karena itu, ia menolak pola pikir bahwa transformasi digital cukup diserahkan ke departemen teknis. Kepala instansi tidak boleh lepas tangan. Keamanan informasi juga tidak bisa menunggu sampai terjadi insiden. Kalau kebocoran sudah terjadi, biaya perbaikan biasanya jauh lebih mahal daripada pencegahan.

Pesan ini relevan untuk banyak pembaca, termasuk di Indonesia. Saat pemerintah, kampus, rumah sakit, atau perusahaan menambah layanan digital, mereka sering mengejar kecepatan dulu. Padahal, satu keputusan desain yang ceroboh bisa berujung pada kebocoran data, gangguan layanan, atau hilangnya kepercayaan publik.

Data harus bersih, akurat, dan bisa dipakai bersama

Arah baru yang ditegaskan To Lam juga menyentuh soal tata kelola data. Ia meminta data dikembangkan dengan prinsip akurat, lengkap, bersih, layak pakai, dan bisa digunakan bersama secara terpadu. Data, katanya, bukan lagi tumpukan informasi yang terpisah-pisah di setiap lembaga atau daerah.

Data harus dibuat, dikelola, dihubungkan, dibagi, dan dimanfaatkan secara efektif. Tujuannya jelas: membantu tata kelola, mendorong ekonomi digital, serta menciptakan nilai bagi lembaga, organisasi, warga, dan bisnis.

Di sini, keamanan siber dan kualitas data bertemu di titik yang sama. Data yang bersih tanpa keamanan tetap rawan dicuri. Sistem yang aman tanpa standar data yang baik juga tidak banyak berguna. Dua-duanya harus jalan bareng.

To Lam menegaskan bahwa ketika setiap lembaga dan daerah menganggap pembangunan serta pembersihan data sebagai tanggung jawab politik, transformasi digital punya fondasi yang jauh lebih kokoh. Fondasi yang kokoh itu yang membedakan digitalisasi yang benar-benar produktif dengan digitalisasi yang hanya terlihat modern di permukaan.

AI boleh dipakai, tapi manusia tetap memegang kendali

Dalam pidatonya, To Lam juga menyinggung kecerdasan buatan. Sikap yang ia dorong cukup tegas: pemerintah perlu proaktif memanfaatkan AI, tapi tidak boleh puas diri. AI harus dipandang sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja.

Namun, ia mengingatkan bahwa AI tidak bisa menggantikan tanggung jawab, wewenang, dan keputusan manusia. Penggunaannya harus dikendalikan, bertanggung jawab, dan dijaga agar tidak disalahgunakan. Ini penting, sebab AI yang ditempatkan tanpa kontrol bisa mempercepat kesalahan dalam skala besar.

Untuk pembaca, poin ini mengingatkan bahwa transformasi digital bukan cuma soal membeli sistem pintar. Yang lebih penting justru aturan pakai, pengawasan, dan garis komando yang jelas. Teknologi boleh canggih. Tapi keputusan tetap harus bisa dipertanggungjawabkan oleh manusia.

Di sinilah keamanan siber kembali masuk. AI yang terhubung ke data sensitif butuh pagar lebih rapat. Kalau tidak, alat bantu yang tadinya dipakai untuk efisiensi bisa berubah jadi pintu baru bagi serangan dan kebocoran.

Keputusan baru untuk hentikan investasi yang tumpang tindih

Di saat yang sama, Wakil Perdana Menteri Ho Quoc Dung menandatangani Keputusan No. 1132/QD-TTg yang menetapkan kriteria dan daftar platform digital bersama nasional untuk lembaga-lembaga dalam sistem politik.

Aturan ini menegaskan bahwa platform digital bersama nasional harus dipelihara, dioperasikan, ditingkatkan, dan diperbaiki secara berkala agar sesuai kebutuhan praktis serta perkembangan teknologi. Setelah platform bersama dioperasikan, lembaga dan organisasi dilarang membangun atau membeli sistem lain yang fungsinya serupa, kecuali untuk kebutuhan khusus seperti pertahanan nasional, keamanan, kriptografi, atau aturan khusus lain.

Kebijakan itu dirancang untuk menekan masalah lama: investasi yang tumpang tindih, platform yang tercerai-berai, dan sistem yang tidak saling terhubung. Dengan satu fondasi bersama, negara bisa menghemat sumber daya dan menata arus data dengan lebih disiplin.

Daftar platform digital bersama nasional dibagi dalam dua kelompok. Kelompok A mencakup platform lintas sektor seperti Portal Layanan Publik Nasional, identifikasi dan autentikasi elektronik, pertukaran dokumen nasional, berbagi dan koordinasi data, integrasi dan berbagi data nasional, Portal Data Nasional, komputasi awan, blockchain nasional, asisten virtual nasional, hingga platform SOC nasional generasi baru. Detail lain dari daftar itu menunjukkan satu hal: negara ingin semua lapisan sistem digital bergerak di jalur yang sama, aman, dan terukur.

Di ujungnya, pesan terbesar dari arahan To Lam cukup terang. Digitalisasi tanpa keamanan siber hanya akan melahirkan sistem yang cepat tapi rapuh. Dan ketika data sudah jadi nadi layanan publik, kerapuhan sekecil apa pun bisa berbiaya mahal. Bahkan sangat mahal.

Ringkasan cepat

1. Keamanan siber harus masuk sejak tahap desain sistem, bukan dibenahi setelah insiden terjadi.

2. Data yang terpecah, platform yang tumpang tindih, dan kurangnya interoperabilitas membuat transformasi digital tidak efisien.

3. Keputusan baru Vietnam membatasi pembangunan platform serupa agar sumber daya lebih hemat dan sistem lebih terhubung.

FAQ singkat

Apa inti arahan To Lam? Semua sistem digital harus aman sejak awal dan tiap instansi memikul tanggung jawab langsung atas keamanan jaringannya.

Mengapa ini penting? Karena digitalisasi tanpa perlindungan data membuka risiko kebocoran, serangan siber, dan penyalahgunaan informasi.

Apa dampak aturannya? Investasi platform yang tumpang tindih bisa ditekan, sementara data nasional punya fondasi yang lebih disiplin dan mudah dipakai bersama.

(PE)

Tag: keamanan siber kecerdasan buatan perlindungan data platform digital nasional tata kelola data transformasi digital
📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Artikel Untuk Anda