JAKARTA — AI meniru gaya artis kembali memicu perdebatan setelah sutradara Tim Burton menyebut praktik itu terasa seperti mesin yang mengambil jiwa dari karya kreatif. Komentarnya muncul ketika gambar-gambar bergaya khas filmnya ikut dipamerkan lewat alat AI generatif, seperti dilaporkan The Independent dan TechRadar Pro pada artikel yang membahas pandangan Burton soal seni buatan mesin.
Isunya sederhana di permukaan. AI kini bisa membuat gambar dan video dari instruksi teks. Hasilnya sering mengesankan. Tapi di balik tampilan yang memukau, ada persoalan yang membuat banyak seniman gelisah: model AI belajar dari jutaan karya yang sudah ada, lalu menelurkan visual baru yang sangat mirip dengan gaya penciptanya. Di titik itu, batas antara terinspirasi dan menyalin mulai kabur. Dan kabur itu mahal.
Kenapa kritik Tim Burton terasa penting
Burton bukan nama kecil dalam budaya visual. Ia membangun reputasi lewat film seperti Edward Scissorhands dan The Nightmare Before Christmas, dua karya yang langsung dikenali lewat siluet, warna, dan suasana yang ganjil tapi puitis. Maka ketika gaya seperti itu ditiru AI, yang dipersoalkan bukan sekadar gambar mirip Burton. Yang dipertaruhkan adalah rasa hormat pada proses artistik.
Kepada The Independent, Burton membandingkan pengalaman melihat gaya seninya dijiplak AI dengan kepercayaan di beberapa budaya bahwa kamera dapat “mengambil sesuatu dari jiwa”. Analogi itu keras, tapi mudah dipahami. Banyak kreator merasa karya bukan cuma hasil akhir. Ada pilihan, kegagalan, kebiasaan tangan, bahkan memori pribadi yang menempel di dalamnya.
Kalau mesin bisa menyalin semua lapisan itu hanya dari ratusan kata perintah, lalu apa arti orisinalitas? Pertanyaan ini bikin ruang diskusi makin panas. Soalnya, industri kreatif hidup dari pembeda. Begitu gaya personal berubah jadi template yang bisa dipencet siapa saja, nilai pembuat aslinya ikut tergerus.
Dari Miyazaki sampai studio film besar
Burton bukan satu-satunya yang resah. Nama besar lain, Hayao Miyazaki, juga pernah melontarkan penolakan keras saat melihat AI dipakai membantu pekerjaan ilustrasi. Ia menyebutnya “penghinaan yang mengerikan terhadap kehidupan” ketika menanggapi demo AI pada proyek Boro the Caterpillar. Bagi Miyazaki, seni memerlukan sentuhan manusia yang tidak bisa dipadatkan jadi formula.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.