Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Hong Kong Diminta Ubah Usia Pensiun untuk Redam Kemiskinan Lansia

HONG KONG — kemiskinan lansia di Hong Kong diperkirakan makin menekan masyarakat dalam beberapa dekade ke depan jika kota itu tetap bertahan pada usia pensiun 65 tahun. Dalam analisis yang dimuat South China Morning Post, masalah utamanya bukan sekadar jumlah warga tua yang bertambah, melainkan cara pemerintah dan dunia usaha memandang masa kerja orang lanjut usia.

Pesannya lugas. Jika orang Hong Kong kini hidup lebih lama, kata tulisan itu, tidak ada alasan kuat untuk memutus masa kerja pada usia 65 tahun ketika banyak dari mereka masih sanggup memberi sumbangan bagi ekonomi kota.

Kemiskinan lansia di Hong Kong jadi ancaman jangka panjang

Penulis analisis itu menyebut Hong Kong menghadapi kemungkinan “gelombang pasang” kemiskinan lansia yang akan menyapu masyarakat pada tahun-tahun mendatang. Kekhawatiran ini muncul karena beban hidup di kota itu tinggi, sementara masa pensiun yang panjang menuntut tabungan yang jauh lebih besar dari yang selama ini diperkirakan banyak orang.

Masalahnya sederhana, tapi berat. Banyak warga menyiapkan pensiun dengan asumsi umur hidup yang lebih pendek dan masa tidak bekerja yang terbatas. Saat harapan hidup naik, perhitungan itu langsung goyah. Dana pensiun yang terlihat cukup hari ini bisa terasa tipis saat usia 70-an datang dengan biaya hidup yang tetap tinggi.

Dalam tulisan itu, angka 65 tahun dipakai sebagai patokan yang umum diterima secara lokal. Namun penulis menilai patokan tersebut sudah waktunya ditantang, karena rencana pensiun yang dibangun untuk 20 tahun masa istirahat di ujung karier tidak lagi realistis bila rata-rata orang bisa hidup hingga 85 tahun atau lebih.

Kalimatnya tajam. Tidak praktis.

Kenapa usia pensiun 65 tahun dipersoalkan

Logika di balik kritik ini berkaitan langsung dengan perubahan demografi. Ketika penduduk hidup lebih lama, sistem pensiun ikut menanggung beban lebih panjang. Jika usia keluar dari pasar kerja tidak ikut bergeser, jumlah tahun tanpa penghasilan akan makin besar, sementara simpanan yang tersedia belum tentu ikut naik.

Analisis tersebut juga mengingatkan pembaca agar tidak menelan mentah-mentah setiap angka rata-rata tabungan. Rata-rata itu sering tertarik ke bawah atau ke atas oleh kelompok tertentu, misalnya pekerja yang baru mulai berkarier dan belum sempat menimbun dana. Yang lebih penting justru kondisi mereka yang sudah mendekati masa pensiun. Di kelompok ini, gambaran yang muncul disebut tetap suram.

Masalah lain datang dari asumsi sosial. Banyak kebijakan ketenagakerjaan masih melihat usia 65 sebagai garis akhir yang wajar, seakan produktivitas otomatis habis pada titik itu. Padahal, di banyak sektor, kemampuan kerja tidak runtuh mendadak hanya karena seseorang merayakan ulang tahun ke-65. Yang sering berubah justru jenis pekerjaan, jam kerja, atau kebutuhan penyesuaian fisik.

Soal ini bukan perkara kecil. Bagi warga, keputusan tentang usia pensiun menentukan apakah mereka akan hidup dari gaji, tabungan, atau bantuan sosial. Bagi negara atau kota, keputusan yang sama akan memengaruhi pasokan tenaga kerja, belanja sosial, dan daya tahan ekonomi dalam jangka panjang.

Apa artinya bagi pekerja senior dan ekonomi kota

Jika Hong Kong benar-benar mengubah pendekatan terhadap usia pensiun, dampaknya bisa terasa di dua sisi. Pertama, pekerja senior mendapat kesempatan tetap aktif lebih lama. Kedua, ekonomi kota memperoleh tambahan tenaga kerja yang masih berpengalaman. Dalam kota dengan biaya hidup tinggi seperti Hong Kong, dua hal ini punya bobot besar.

Perusahaan juga dapat melihat manfaat praktisnya. Pekerja senior biasanya membawa pengalaman, jaringan, dan pengetahuan lapangan yang tidak mudah diganti. Mereka bisa dipertahankan di posisi yang tak terlalu menuntut fisik, dibantu pelatihan ulang, atau dialihkan ke peran yang lebih ringan. Itu jauh lebih masuk akal ketimbang memaksa mereka berhenti total lalu bergantung penuh pada dana pensiun.

Tentu, perubahan seperti ini tidak otomatis mulus. Kebijakan usia pensiun terkait erat dengan aturan ketenagakerjaan, skema tunjangan, dan ekspektasi sosial yang sudah lama mengakar. Tapi justru karena itulah, analisis ini menekankan perlunya memulai sejak sekarang. Bila reformasi ditunda, biaya yang muncul di kemudian hari bisa lebih besar.

Hong Kong sudah memberi sinyal peringatan yang keras. Saat harapan hidup terus naik, menutup pintu kerja pada 65 tahun bisa memperlebar jurang antara kebutuhan hidup dan tabungan pensiun. Di kota yang penduduknya bisa hidup sampai 85 tahun atau lebih, satu angka itu terasa makin menentukan.

Dan itulah inti persoalannya: kemiskinan lansia bukan ancaman jauh di depan, melainkan risiko yang sedang tumbuh diam-diam, dengan patokan usia pensiun 65 tahun sebagai titik tekan yang paling mudah dilihat.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda