JAKARTA — IPO Hong Kong yang dibidik unit chip AI Baidu, Kunlunxin, disebut menargetkan valuasi US$50 miliar, menurut laporan The Information yang dikutip Reuters pada Minggu. Di saat yang sama, perusahaan itu juga disebut meminta calon investor IPO berkomitmen membeli semikonduktor mereka.
Permintaan itu membuat rencana pencatatan saham Kunlunxin terasa tidak biasa. Investor tak cuma diajak menanam modal, tapi juga diarahkan jadi pembeli produk. Garis antara pemegang saham dan pelanggan jadi kabur. Dan justru di situlah letak pentingnya cerita ini.
Valuasi melonjak dari proyeksi sebelumnya
Jika angka US$50 miliar itu benar, lonjakannya tergolong tajam. South China Morning Post sebelumnya melaporkan Kunlunxin membidik valuasi sekitar US$14,7 miliar, sementara TrendForce pada Mei menyebut angka HK$100 miliar atau sekitar US$12,8 miliar. Artinya, target terbaru jauh di atas dua proyeksi yang beredar sebelumnya.
Reuters menyebut belum bisa memverifikasi laporan The Information secara independen. Jadi, angka US$50 miliar masih perlu dibaca sebagai target yang dilaporkan media, bukan kepastian final dari perusahaan. Namun, pola penggalangan dana seperti ini sudah cukup untuk menunjukkan betapa agresifnya pasar chip AI di Hong Kong.
Kunlunxin sendiri bukan nama baru di ekosistem Baidu. Unit ini berdiri pada 2012 sebagai divisi chip internal untuk mendukung ambisi Baidu menjadi perusahaan AI penuh dari hulu ke hilir. Dari mesin pencari, layanan awan, sampai komputasi AI, Baidu tampak ingin menguasai lebih banyak lapisan teknologinya sendiri.
Skema investor dan pembeli chip memicu tanda tanya
Bagian paling menarik dari laporan itu bukan sekadar valuasinya. Kunlunxin disebut meminta calon investor IPO untuk ikut berjanji membeli chip mereka. Skema seperti ini, kalau benar terjadi, mencampur dua kepentingan yang biasanya dijaga terpisah.
Di satu sisi, investor mengejar imbal hasil dari saham. Di sisi lain, perusahaan butuh kepastian penjualan produk. Saat keduanya dipaketkan dalam satu transaksi, muncul pertanyaan soal transparansi, kualitas penilaian valuasi, dan risiko konflik kepentingan.
Bank for International Settlements atau BIS baru-baru ini menyoroti pola pembiayaan sirkular di sektor AI. BIS memperingatkan struktur yang membuat produsen chip mengambil saham di laboratorium AI, lalu laboratorium itu berkomitmen membeli produk mereka. Menurut BIS, pengaturan semacam ini umumnya kurang dibuka ke publik.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.