Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
HIBURAN

Legenda Tu’ Burod: Asal Usul Padang Buang Anak di Belitung

Ilustrasi suasana Padang Buang Anak dan sosok Tu' Burod dalam legenda asal usul daerah tersebut
Ilustrasi suasana Padang Buang Anak dan sosok Tu' Burod dalam legenda asal usul daerah tersebut

BANGKA BELITUNG, JOURNALARTA.COM – Padang Buang Anak adalah sebuah hamparan tanah tandus yang luas, terletak di sekitar kaki Gunung Tajam mengarah ke wilayah Air Batu Buding, Kecamatan Kelapa Kampit, Belitung. Tempat ini memiliki ciri khas tersendiri: luasnya terbentang sejauh mata memandang, hanya ditumbuhi rumput setinggi lutut orang dewasa tanpa adanya pohon-pohon besar yang tumbuh di atasnya.

Ada dua versi cerita yang berkembang mengenai asal usul nama dan terbentuknya tempat ini. Namun versi yang paling tua dan dianggap menjelaskan peristiwa kejadiannya adalah kisah tentang Tu’ Burod. Berbeda dengan versi lain yang hanya menjelaskan asal penyebutan nama, kisah ini mengisahkan mengapa daerah tersebut akhirnya menjadi padang terbuka seperti yang terlihat hingga saat ini.

Kehidupan di Masa Lalu

Pada zaman dahulu, ketika penduduk Belitung masih banyak menghuni kawasan hutan di hulu sungai demi menghindari serangan perompak atau lanun, terdapat sebuah perkampungan kecil yang disebut keleka’ di sekitar kaki Gunung Tajam. Di sana tinggal sebuah keluarga besar yang memiliki beberapa anak perempuan yang sudah menikah dengan pemuda dari perkampungan tetangga. Salah satu menantu dalam keluarga itu bernama Burod.

Di antara para menantu lainnya, Burod memiliki sifat yang berbeda. Ia dikenal sebagai pemuda yang sangat malas bekerja. Kehidupan masyarakat saat itu sangat bergantung pada alam; mereka membuka ladang, berburu di hutan, dan menangkap ikan di sungai dan genangan air sekitar tempat tinggal.

Menjelang pergantian musim dari kemarau ke hujan, warga mulai melakukan kegiatan nebas, yaitu menebang pohon di hutan untuk dibakar sebagai persiapan lahan pertanian. Kepala adat atau dukun telah membagikan lahan secara adil, di mana setiap kepala keluarga mendapatkan bagian seluas sekitar dua hektar atau 20 surik. Lahan milik Burod terletak di bagian paling ujung dari seluruh kawasan yang akan digarap.

Kebiasaan Burod dan Keajaiban Pertama

Sementara semua warga dan ipar-ipar Burod sudah menyelesaikan pekerjaan menebang pohonnya, Burod belum melakukan apa-apa. Setiap hari ia hanya duduk bersantai sambil memakan bekal berupa rebus kembili’, sejenis umbi-umbian kecil. Sambil mengunyah, ia hanya berkhayal membayangkan sedang menebang pohon demi pohon. Ketika bekalnya habis, belum ada satu pun pohon yang tumbang di lahannya.

Melihat hal itu, sang mertua pun menegurnya. “Rod, malas benar kamu bekerja. Bekalmu sudah habis, tapi mana hasil tebanganmu? Semua orang sudah selesai, mengapa kamu belum memulai sama sekali?” tanya sang mertua.

Burod menjawab santai, “Tunggu sebentar, Pak. Biar saya habiskan dulu bekal ini.”

Setelah bekalnya habis, Burod berdiri, mengambil parang, dan berjalan menuju pinggir hutan. Di sana ia berbicara kepada parangnya, “Jika kau benar-benar patuh kepadaku, maka dalam tiga kali ayunan, habislah pohon yang terlihat sejauh pandanganku!”

Segera ia mengayunkan parangnya sebanyak tiga kali. Ajaibnya, dalam sekejap mata seluruh pohon di hadapannya tumbang semuanya. Kejadian ini membuat semua orang terkejut dan heran. Salah satu iparnya hanya berkomentar, “Sudah begitu saja, kita tidak boleh menyakiti hatinya lagi, nanti dia marah.” Mendengarnya, Burod hanya diam dan pulang bersama keluarga.

Keajaiban Membakar Lahan di Tengah Hujan

Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda