Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
HIBURAN

Legenda Tu’ Burod: Asal Usul Padang Buang Anak di Belitung

Ilustrasi suasana Padang Buang Anak dan sosok Tu' Burod dalam legenda asal usul daerah tersebut
Ilustrasi suasana Padang Buang Anak dan sosok Tu' Burod dalam legenda asal usul daerah tersebut

Setelah seminggu menunggu agar kayu tebangan menjadi kering, tibalah saatnya membakar lahan. Sekali lagi, Burod terlihat tidak bergerak. Sementara yang lain sibuk mengumpulkan sisa kayu dan membakarnya, ia malah tidur nyenyak di pondok kecil di tengah ladang. Tidak ada yang berani membangunkannya karena takut menyinggung perasaannya.

Malam harinya, keluarga bermusyawarah untuk melanjutkan ke tahap menanam padi. Namun mereka kecewa karena lahan Burod belum dibakar sehingga menghambat rencana bersama. Saat ditegur, Burod dengan tenang berkata, “Besok saya bakar. Tenang saja, semuanya akan beres. Kita tetap bisa menanam dan memanen pada waktunya.”

Keesokan harinya justru turun hujan. Sang mertua kembali menegur, “Bagaimana kamu akan membakar lahan jika hujan turun seperti ini?”

Burod hanya menyuruh semua orang untuk diam dan menunggu. Setelah sarapan, ia menebang sebatang pohon pisang yang besar, membakarnya hingga menjadi obor raksasa, lalu berjalan menuju lahannya. Sesampainya di sana, ia berseru, “Wahai api, jika kau benar kawan setiaku, maka habiskanlah kayu ini setinggi dan sedalam yang kau bisa jangkau!”

Sekejap kemudian, nyala api yang hebat melahap seluruh lahan itu meskipun hujan terus turun. Tidak hanya kayu dua meter di atas tanah yang terbakar, bahkan lapisan tanah humus, daun kering, hingga akar pohon sedalam satu meter di bawah tanah pun habis musnah. Setelah api padam, lahannya menjadi sangat gosong dan tandus hingga tidak ada lagi unsur kesuburan yang tersisa untuk menanam padi.

Asal Usul Padang Buang Anak

Karena peristiwa itu, Burod tidak dapat menanam padi di lahannya. Itulah sebabnya, hingga kini kawasan tersebut tidak ditumbuhi pohon-pohon besar dan hanya berupa hamparan tanah lapang yang tandus. Tempat inilah yang kemudian dikenal dengan nama Padang Buang Anak.

Seiring berjalannya waktu, Burod yang dikenal sebagai Tu’ Burod mengubah kebiasaan malasnya. Karena memiliki kelebihan yang luar biasa, ia sering diminta bantuan oleh warga lain untuk membuka dan membakar lahan pertanian. Konon, lahan yang dikerjakannya selalu menghasilkan panen padi yang jauh lebih melimpah dibandingkan lahan orang lain. Sebagai imbalan atas jasanya, Tu’ Burod tidak meminta bayaran mahal, melainkan hanya menerima kerak nasi atau nasi anyam saja sebagai tanda terima kasih.

Kesimpulan

Legenda Tu’ Burod dan asal usul Padang Buang Anak merupakan salah satu kekayaan budaya lisan yang masih terjaga dengan baik di masyarakat Belitung. Kisah ini tidak hanya menjelaskan terbentuknya bentang alam yang unik, tetapi juga mengandung pesan moral bahwa kelebihan atau kekuatan yang dimiliki harus digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab agar tidak membawa kerugian bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Cerita Rakyat Belitung ini disadur dari Bule Sahib via UBB

Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda