BANGKA BELITUNG, JOURNALARTA.COM – Padang Buang Anak adalah sebuah hamparan tanah tandus yang luas, terletak di sekitar kaki Gunung Tajam mengarah ke wilayah Air Batu Buding, Kecamatan Kelapa Kampit, Belitung. Tempat ini memiliki ciri khas tersendiri: luasnya terbentang sejauh mata memandang, hanya ditumbuhi rumput setinggi lutut orang dewasa tanpa adanya pohon-pohon besar yang tumbuh di atasnya.
Ada dua versi cerita yang berkembang mengenai asal usul nama dan terbentuknya tempat ini. Namun versi yang paling tua dan dianggap menjelaskan peristiwa kejadiannya adalah kisah tentang Tu’ Burod. Berbeda dengan versi lain yang hanya menjelaskan asal penyebutan nama, kisah ini mengisahkan mengapa daerah tersebut akhirnya menjadi padang terbuka seperti yang terlihat hingga saat ini.
Kehidupan di Masa Lalu
Pada zaman dahulu, ketika penduduk Belitung masih banyak menghuni kawasan hutan di hulu sungai demi menghindari serangan perompak atau lanun, terdapat sebuah perkampungan kecil yang disebut keleka’ di sekitar kaki Gunung Tajam. Di sana tinggal sebuah keluarga besar yang memiliki beberapa anak perempuan yang sudah menikah dengan pemuda dari perkampungan tetangga. Salah satu menantu dalam keluarga itu bernama Burod.
Di antara para menantu lainnya, Burod memiliki sifat yang berbeda. Ia dikenal sebagai pemuda yang sangat malas bekerja. Kehidupan masyarakat saat itu sangat bergantung pada alam; mereka membuka ladang, berburu di hutan, dan menangkap ikan di sungai dan genangan air sekitar tempat tinggal.
Menjelang pergantian musim dari kemarau ke hujan, warga mulai melakukan kegiatan nebas, yaitu menebang pohon di hutan untuk dibakar sebagai persiapan lahan pertanian. Kepala adat atau dukun telah membagikan lahan secara adil, di mana setiap kepala keluarga mendapatkan bagian seluas sekitar dua hektar atau 20 surik. Lahan milik Burod terletak di bagian paling ujung dari seluruh kawasan yang akan digarap.
Kebiasaan Burod dan Keajaiban Pertama
Sementara semua warga dan ipar-ipar Burod sudah menyelesaikan pekerjaan menebang pohonnya, Burod belum melakukan apa-apa. Setiap hari ia hanya duduk bersantai sambil memakan bekal berupa rebus kembili’, sejenis umbi-umbian kecil. Sambil mengunyah, ia hanya berkhayal membayangkan sedang menebang pohon demi pohon. Ketika bekalnya habis, belum ada satu pun pohon yang tumbang di lahannya.
Melihat hal itu, sang mertua pun menegurnya. “Rod, malas benar kamu bekerja. Bekalmu sudah habis, tapi mana hasil tebanganmu? Semua orang sudah selesai, mengapa kamu belum memulai sama sekali?” tanya sang mertua.
Burod menjawab santai, “Tunggu sebentar, Pak. Biar saya habiskan dulu bekal ini.”
Setelah bekalnya habis, Burod berdiri, mengambil parang, dan berjalan menuju pinggir hutan. Di sana ia berbicara kepada parangnya, “Jika kau benar-benar patuh kepadaku, maka dalam tiga kali ayunan, habislah pohon yang terlihat sejauh pandanganku!”
Segera ia mengayunkan parangnya sebanyak tiga kali. Ajaibnya, dalam sekejap mata seluruh pohon di hadapannya tumbang semuanya. Kejadian ini membuat semua orang terkejut dan heran. Salah satu iparnya hanya berkomentar, “Sudah begitu saja, kita tidak boleh menyakiti hatinya lagi, nanti dia marah.” Mendengarnya, Burod hanya diam dan pulang bersama keluarga.
Keajaiban Membakar Lahan di Tengah Hujan
Setelah seminggu menunggu agar kayu tebangan menjadi kering, tibalah saatnya membakar lahan. Sekali lagi, Burod terlihat tidak bergerak. Sementara yang lain sibuk mengumpulkan sisa kayu dan membakarnya, ia malah tidur nyenyak di pondok kecil di tengah ladang. Tidak ada yang berani membangunkannya karena takut menyinggung perasaannya.
Malam harinya, keluarga bermusyawarah untuk melanjutkan ke tahap menanam padi. Namun mereka kecewa karena lahan Burod belum dibakar sehingga menghambat rencana bersama. Saat ditegur, Burod dengan tenang berkata, “Besok saya bakar. Tenang saja, semuanya akan beres. Kita tetap bisa menanam dan memanen pada waktunya.”
Keesokan harinya justru turun hujan. Sang mertua kembali menegur, “Bagaimana kamu akan membakar lahan jika hujan turun seperti ini?”
Burod hanya menyuruh semua orang untuk diam dan menunggu. Setelah sarapan, ia menebang sebatang pohon pisang yang besar, membakarnya hingga menjadi obor raksasa, lalu berjalan menuju lahannya. Sesampainya di sana, ia berseru, “Wahai api, jika kau benar kawan setiaku, maka habiskanlah kayu ini setinggi dan sedalam yang kau bisa jangkau!”
Sekejap kemudian, nyala api yang hebat melahap seluruh lahan itu meskipun hujan terus turun. Tidak hanya kayu dua meter di atas tanah yang terbakar, bahkan lapisan tanah humus, daun kering, hingga akar pohon sedalam satu meter di bawah tanah pun habis musnah. Setelah api padam, lahannya menjadi sangat gosong dan tandus hingga tidak ada lagi unsur kesuburan yang tersisa untuk menanam padi.
Asal Usul Padang Buang Anak
Karena peristiwa itu, Burod tidak dapat menanam padi di lahannya. Itulah sebabnya, hingga kini kawasan tersebut tidak ditumbuhi pohon-pohon besar dan hanya berupa hamparan tanah lapang yang tandus. Tempat inilah yang kemudian dikenal dengan nama Padang Buang Anak.
Seiring berjalannya waktu, Burod yang dikenal sebagai Tu’ Burod mengubah kebiasaan malasnya. Karena memiliki kelebihan yang luar biasa, ia sering diminta bantuan oleh warga lain untuk membuka dan membakar lahan pertanian. Konon, lahan yang dikerjakannya selalu menghasilkan panen padi yang jauh lebih melimpah dibandingkan lahan orang lain. Sebagai imbalan atas jasanya, Tu’ Burod tidak meminta bayaran mahal, melainkan hanya menerima kerak nasi atau nasi anyam saja sebagai tanda terima kasih.
Kesimpulan
Legenda Tu’ Burod dan asal usul Padang Buang Anak merupakan salah satu kekayaan budaya lisan yang masih terjaga dengan baik di masyarakat Belitung. Kisah ini tidak hanya menjelaskan terbentuknya bentang alam yang unik, tetapi juga mengandung pesan moral bahwa kelebihan atau kekuatan yang dimiliki harus digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab agar tidak membawa kerugian bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Cerita Rakyat Belitung ini disadur dari Bule Sahib via UBB
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.