Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Keiko Fujimori Menang Tipis, Kembali Kuasai Peru

Keiko Fujimori
Foto: Keiko_Fujimori.jpg: Congreso de la República del Perú derivative work: Athenchen (talk) / Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

LIMA — Keiko Fujimori memenangkan kursi presiden Peru. Kemenangannya hanya selisih kurang dari 50.000 suara dari total lebih 18 juta surat suara yang masuk — margin terkecil yang bisa membawa seseorang ke istana kepresidenan.

Hasil resmi putaran kedua pemilu 7 Juni itu menempatkan Keiko unggul atas kandidat kiri Roberto Sanchez. Ini bukan kemenangan lantang. Tapi ini cukup — dan bagi perempuan 51 tahun yang sudah empat kali mencoba merebut jabatan ini, rasanya tentu berbeda.

“Setiap kali kita semakin dekat untuk memulai jalan menuju ketertiban dan harapan bagi seluruh rakyat Peru,” tulisnya di X setelah dinyatakan sebagai pemenang.

Nama yang Membagi Peru

Kemenangan Keiko membawa kembali nama Fujimori ke istana kepresidenan — lebih dari dua dekade setelah kejatuhan sang ayah. Alberto Fujimori memerintah Peru dari 1990 hingga 2000. Ia dipuji karena menumpas pemberontak Maois dan mengendalikan hiperinflasi. Tapi ia juga dihukum penjara atas korupsi dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan atas nama pemberantasan terorisme.

Warisan itu masih terasa berat. Jutaan warga Peru menyimpan kenaman gelap soal era sang ayah dan menolak memilih siapa pun bernama Fujimori. Tiga kali sebelumnya, tembok itu menghalangi Keiko. Kali ini tidak.

Keiko tumbuh besar di lingkaran kepala negara. Ia menjadi ibu negara pertama pada usia 19 tahun setelah ibunya memutuskan hubungan dengan sang ayah secara terbuka. Ia kemudian menempuh pendidikan di Amerika Serikat sebagai administrator bisnis — kembali ke Peru dengan citra yang jauh lebih rapi dan terukur dibanding sang ayah.

Peru yang Diwarisi: Kriminalitas dan Ketidakstabilan

Negara yang ia warisi bukan dalam kondisi mudah. Peru membakar delapan presiden dalam satu dekade terakhir. Geng pemerasan dan pembunuhan bayaran kian marak. Ketidakstabilan politik sudah jadi semacam kondisi permanen.

Keiko berkampanye dengan janji tangan besi — mirip pendekatan ayahnya — untuk memulihkan keamanan. Itu yang resonan di kalangan pemilihnya.

“Dia akan memerintah dengan baik karena punya usulan-usulan yang bagus. Dia punya ide-ide yang baik untuk melakukan sesuatu bagi Peru,” kata Jenny Martinez, pedagang berusia 40 tahun di Lima, dilaporkan CNA.

Tapi Keiko juga sadar negaranya terbelah. “Kita punya tanggung jawab untuk mendengar kedua pihak. Pintu dialog terbuka,” ujarnya, secara implisit menyebut Sanchez dan kubu kiri.

Sanchez Belum Akui Kekalahan

Pesaingnya tidak diam. Sanchez sempat memimpin penghitungan suara di satu titik sebelum akhirnya tersalip. Sebelum hasil resmi diumumkan, ia sudah menyatakan tidak akan mengakui pemerintahan Keiko — menuding adanya ketidakberesan administratif dalam penghitungan suara dari luar negeri.

Hingga berita ini ditulis, Sanchez belum memberi respons resmi atas pengumuman hasil akhir.

Gelombang Kanan Latin Amerika

Kemenangan Keiko bukan kejadian tunggal. Peru menjadi bagian dari gelombang besar sentimen kanan di Amerika Latin — sebuah pola yang juga terjadi di Kolombia, Bolivia, Ekuador, dan Chili, di mana pemimpin-pemimpin baru menunggangi kemarahan publik soal kejahatan dan ketidakstabilan untuk meraih kursi teratas.

Keiko akan dilantik pada 28 Juli untuk masa jabatan lima tahun. Tugasnya berat: menyatukan negara yang retak, menekan kriminalitas yang kian liar, dan membuktikan bahwa nama Fujimori bisa berarti sesuatu yang berbeda dari yang diingat banyak orang.

Kampanye panjangnya — termasuk kerja keras melunak citra diri yang selama ini dianggap konfrontatif — kini harus dibuktikan bukan sekadar strategi elektoral.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda