Senin, 20 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Euforia Fans Argentina Padati Times Square Jelang Final Piala Dunia

Ribuan fans Argentina padati Times Square jelang final Piala Dunia
Pendukung Argentina memadati Times Square, New York, menjelang laga final Piala Dunia. (Ilustrasi: AI)

Jantung kota New York, Times Square, benar-benar berubah warna menjadi biru-putih cerah. Ribuan pendukung tim nasional Argentina tumpah ruah ke jalanan, mengubah persimpangan tersibuk di dunia itu menjadi stadion terbuka yang bergelora.

Mereka menggelar aksi banderazo, sebuah tradisi dukungan masif untuk menyambut laga final Piala Dunia melawan Spanyol. Pemandangan ini praktis menghentikan arus pejalan kaki biasa, memaksa turis dan warga lokal berhenti sejenak untuk menyaksikan luapan emosi yang jarang terlihat di sudut kota ini.

Irama tabuhan drum dan nyanyian khas suporter Amerika Latin menggetarkan gedung-gedung tinggi di sekitar Times Square. Biasanya kawasan ini didominasi keramaian seniman jalanan, tapi siang itu, suara mereka tenggelam oleh sorak-sorai ribuan orang yang memakai atribut seragam kebanggaan Argentina.

Kegilaan massa mencapai puncaknya saat seorang pria yang memiliki wajah mirip Lionel Messi muncul di kerumunan. Sontak, orang-orang berebut mendekat, sekadar untuk bersalaman atau berfoto dengan sosok yang dianggap sebagai “kembaran” kapten tim Argentina tersebut.

Nazarena, seorang pendukung asal Buenos Aires yang kini menetap di Atlanta, rela menempuh perjalanan jauh demi merasakan atmosfer ini. Ia tidak memegang tiket pertandingan, namun baginya, berada di kerumunan suporter sudah lebih dari cukup. Baginya, ini bukan sekadar sepak bola.

Ini adalah pelarian emosional. Ia mengakui, kondisi ekonomi di negara asalnya sedang menantang, tapi ketika berada di tengah ribuan suporter lain, beban itu seolah menguap begitu saja.

Baginya, solidaritas yang tercipta di jalanan New York adalah bentuk kemenangan yang sudah mereka rasakan bahkan sebelum pertandingan dimulai.

Persaingan di La Nacional

Tak mau ketinggalan, pendukung Spanyol pun mengonsolidasikan kekuatan mereka di titik berbeda. Mereka memilih La Nacional sebagai markas utama. Lembaga kebudayaan Spanyol tertua di Amerika Serikat yang sudah berdiri sejak 1868 itu mendadak jadi medan tempur mental antara dua kubu.

Manajer komunitas La Nacional, Ania Lopez, mengaku kewalahan. Kotak masuk surel lembaga tersebut dibanjiri permintaan penggemar yang ingin bergabung dalam perayaan atau sekadar menanyakan akses nonton bareng.

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda