Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Rupiah diprediksi menguat seiring selera pasar pada aset EM meningkat

Rupiah diprediksi menguat seiring selera pasar pada aset EM meningkat
Foto: Ahsen/Pexels

JAKARTA — Rupiah diprediksi menguat pada perdagangan Selasa, 30 Juni 2026, seiring selera pasar terhadap aset emerging market meningkat. Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, melihat tekanan dari luar negeri mulai mereda dan membuka ruang bagi mata uang Garuda bergerak lebih baik.

Prediksi itu penting bagi pelaku pasar dalam negeri. Arah rupiah biasanya ikut menentukan sentimen di saham, obligasi, hingga biaya impor. Kalau rupiah bergerak lebih tenang, pasar punya napas lebih panjang. Kalau sebaliknya, gejolak kecil saja bisa cepat terasa ke harga barang dan keputusan investasi.

Rupiah diprediksi menguat di kisaran Rp17.820-Rp17.870

Rully memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp17.820 sampai Rp17.870 per dolar AS. Ia menilai penguatan itu ditopang perubahan selera risiko pelaku pasar yang mulai kembali mengejar aset berisiko, terutama di negara berkembang. Faktor global jadi pemicu utamanya.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan kembali menguat pada kisaran di Rp17.820 – Rp17.870 dipengaruhi oleh faktor global meningkatnya selera risiko/risk on pelaku pasar pada aset emerging market setelah yen jatuh dan tren harga minyak yang turun, serta index dollar yang mulai menjinak,” kata Rully kepada ANTARA di Jakarta.

Rupiah sendiri sempat melemah pada pembukaan perdagangan. Pada Selasa pagi, nilai tukar rupiah bergerak turun 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.883 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.851 per dolar AS.

Angka itu menunjukkan pasar masih bergerak hati-hati. Tapi arah sentimen belum sepenuhnya buruk.

Yen jatuh, dana masuk ke aset berisiko

Salah satu pendorong utama datang dari Jepang. Mengutip Xinhua, yen melemah ke level terendah terhadap dolar AS dalam hampir 39 tahun. Mata uang Jepang itu sempat jatuh ke sekitar 161,90 per dolar AS dalam perdagangan di New York, level terlemah sejak Desember 1986.

Rully menjelaskan, pelemahan yen mendorong sebagian pelaku pasar meninggalkan aset aman atau safe asset dan beralih ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Pilihan itu biasanya mengalir ke pasar saham dan aset negara berkembang yang masih dianggap menarik saat risk on membesar.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda