Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Telah Datang Masanya Ustadz Tidak Selalu Manusia Menguji Ulang Otoritas Keagamaan Di Era Kecerdasan Buatan

Telah datang masanya ustadz tidak selalu manusia (Menguji ulang oto…
Ustazah AI dengan jutaan pengikut TikTok ternyata bukan manusia. (Ilustrasi: AI)

Tantangan terbesar bukan lagi soal membedakan mana yang asli. Yang lebih krusial adalah memastikan ilmu yang kita terima bisa dipertanggungjawabkan — oleh siapapun atau apapun yang menyampaikannya.

Tabayyun di Era Deepfake

Islam sebenarnya sudah punya jawabannya. Al-Qur’an memerintahkan orang-orang beriman untuk melakukan tabayyun — verifikasi — setiap kali menerima informasi. Bukan sekadar etika sosial, ini adalah fondasi epistemologi Islam: setiap pengetahuan harus diuji sebelum dipercaya.

Di era AI, semangat tabayyun mendapat konteks baru. Yang perlu diverifikasi bukan hanya isi ceramah, tetapi juga sumbernya, proses penyusunannya, dan siapa yang bertanggung jawab atas konten tersebut.

Ulul Albab, Ketua ICMI Jawa Timur periode 2021–2026, menyebut bahwa persoalan ini jauh lebih dalam dari sekadar soal ada atau tidaknya sosok ustazah AI tersebut. “Yang jauh lebih penting adalah pertanyaan: bagaimana jika suatu hari nanti manusia tidak lagi mampu membedakan antara guru agama yang nyata dan representasi digital yang diciptakan oleh mesin?”

Pertanyaan itu bukan retorika. Teknologi deepfake dan AI generatif sudah sampai pada titik di mana perbedaan visual antara manusia dan mesin hampir tidak terlihat. Dalam konteks agama, konsekuensinya bisa sangat serius — mulai dari penyebaran fatwa palsu, manipulasi akidah, hingga eksploitasi kepercayaan komunitas yang rentan.

AI Bukan Musuh, Tapi Bukan Guru

Perlu digarisbawahi satu hal: bukan berarti umat Islam harus memusuhi AI. Sama sekali tidak.

Teknologi ini punya potensi luar biasa untuk membantu dunia keilmuan Islam — menerjemahkan kitab-kitab klasik, mempermudah pembelajaran Al-Qur’an, memperluas akses terhadap literatur keislaman yang selama ini hanya bisa dijangkau kalangan terbatas, hingga mendukung penelitian yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun. Potensi manfaatnya nyata dan besar.

Tapi batasnya juga nyata. AI dapat mengolah data, tapi tidak punya kesadaran moral. Bisa menyusun kalimat yang indah, tapi tidak punya pengalaman spiritual. Bisa meniru cara manusia berbicara, tapi tidak mengenal rasa takut kepada Tuhan.

Seorang guru menanggung beban amanah atas setiap ilmu yang ia sampaikan. Jika ia keliru, ada pertanggungjawaban — di dunia maupun di hadapan Tuhan. AI tidak menanggung itu. Tidak bisa.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda