Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Paradoks AI Coding: Kenapa Kecepatan Saja Tak Cukup bagi Developer?

Paradoks AI Coding
Foto: panumas nikhomkhai/Pexels

JAKARTA — Penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam pemrograman kini sudah lazim di hampir setiap perusahaan teknologi. Namun, di balik kemampuan AI dalam mempercepat penulisan kode, muncul masalah baru yang justru memperlambat proses pengembangan perangkat lunak secara keseluruhan. Fenomena ini memaksa banyak tim rekayasa perangkat lunak untuk mengevaluasi kembali bagaimana mereka mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam alur kerja harian.

Studi terbaru dari GitLab menyoroti sebuah fenomena yang disebut sebagai ‘paradoks AI’. Meskipun 91 persen organisasi telah menggunakan minimal dua alat bantu berbasis AI, mayoritas pengembang merasa kecepatan pengiriman perangkat lunak tidak sebanding dengan produktivitas penulisan kodenya. Kondisi ini menciptakan celah antara ekspektasi manajemen yang tinggi dan realitas teknis di lapangan yang justru lebih kompleks.

Mengapa Kecepatan AI Bisa Menjadi Beban?

Produktivitas memang meningkat di tahap awal pembuatan kode. Sebanyak 78 persen pengembang mengaku bisa menulis kode lebih cepat, dan 73 persen merasa kualitas kodenya lebih baik. Angka-angka ini terlihat menggembirakan di atas kertas. Tapi, realitanya, beban kerja hanya bergeser ke hilir, menciptakan tumpukan tugas baru yang tidak terduga.

Sebanyak 85 persen pengembang mengakui bahwa hambatan terbesar saat ini adalah proses peninjauan (review) dan validasi kode, bukan lagi tahap pembuatannya. AI mungkin bisa menghasilkan fungsi dalam hitungan detik, tetapi manusia tetap menjadi satu-satunya entitas yang bertanggung jawab atas keamanan dan kebenaran logika kode tersebut. Pengembang kini menghabiskan lebih banyak waktu untuk “menambal” hasil kerja AI daripada menulis kode dari nol.

Situasi ini membuat produktivitas yang dijanjikan AI menjadi tidak efisien. Ketika pengembang harus membedah ribuan baris kode hasil AI untuk mencari potensi kerentanan, waktu yang seharusnya digunakan untuk inovasi malah habis untuk pemeliharaan. Tanpa adanya kendali yang ketat, kecepatan tinggi justru menjadi liabilitas atau beban bagi perusahaan, bukan sebuah keuntungan kompetitif.

Krisis Tata Kelola dan Keamanan

Tantangan utama yang muncul adalah masalah visibilitas. Sebanyak 43 persen pengembang mengaku kesulitan membedakan mana kode yang ditulis manusia dan mana hasil generatif AI. Hal ini memicu kekhawatiran serius terkait pemeliharaan jangka panjang dan aspek keamanan. Data GitLab menunjukkan 34 persen pengembang bahkan tidak mampu memastikan apakah kode hasil AI berperan dalam insiden teknis di sistem mereka.

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda