Rabu, 1 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Pertamina: Harga avtur turun 14 persen mulai 1 Juli

Refueling avtur ke pesawat komersial di bandara
refueling avtur ke pesawat credit:wikimedia

JAKARTA — PT Pertamina Patra Niaga resmi menurunkan harga bahan bakar minyak jenis avtur untuk penerbangan domestik sebesar 14 persen per 1 Juli 2026. Penyesuaian ini berdampak langsung pada biaya operasional maskapai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, yang menjadi pusat pergerakan lalu lintas udara nasional.

Data resmi perusahaan mencatat, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta turun menjadi Rp19.190 per liter dari posisi bulan sebelumnya sebesar Rp22.190 per liter. Selisih Rp3.000 per liter ini diharapkan menjadi katalis efisiensi bagi maskapai yang selama ini menghadapi tekanan biaya bahan bakar tinggi sebagai komponen biaya terbesar dalam struktur operasional penerbangan komersial.

Mekanisme Penyesuaian Harga Pasar

Vice President Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa kebijakan harga ini mengikuti dinamika harga minyak mentah dunia. Penyesuaian dilakukan secara berkala terhadap harga BBM nonsubsidi sesuai dengan regulasi yang ditetapkan pemerintah untuk menjaga daya saing dan akuntabilitas perusahaan.

“Penyesuaian ini mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia dan mengikuti mekanisme yang berlaku. Kami juga telah melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah sebelum menerapkan kebijakan ini,” ujar Kitty dalam keterangan resminya, Rabu (1/7).

Keputusan ini memberi napas bagi industri penerbangan nasional. Dalam struktur operasional maskapai, bahan bakar biasanya menyumbang antara 30 hingga 40 persen dari total biaya perjalanan. Penurunan harga sebesar 14 persen memberikan ruang lebih lebar bagi maskapai untuk mengelola arus kas, terutama di tengah tingginya permintaan mobilitas udara domestik pascapandemi yang terus bertumbuh.

Para analis ekonomi melihat langkah ini sebagai respons logis atas tren penurunan harga komoditas energi global dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun pasar energi sangat volatil karena ketegangan geopolitik, efisiensi yang ditransmisikan oleh Pertamina ke level hilir berpotensi meredam tekanan inflasi dari sektor transportasi.

Penurunan Harga BBM Nonsubsidi Lainnya

Selain avtur, Pertamina juga melakukan penyesuaian harga pada sejumlah produk BBM nonsubsidi lainnya per awal Juli 2026. Kebijakan ini menyasar konsumen kendaraan pribadi dan sektor logistik yang menggunakan produk diesel kelas atas. Berikut rincian perubahan harga untuk beberapa jenis produk:

Jenis Produk Harga Juni (Rp/L) Harga Juli (Rp/L) Penurunan
Pertamax Turbo 20.750 19.300 7%
Dexlite (CN 51) 23.000 19.700 14%
Pertamina Dex (CN 53) 24.800 21.150 15%

Data tabel di atas menunjukkan bahwa produk untuk mesin diesel, seperti Pertamina Dex dan Dexlite, mencatatkan penurunan yang cukup agresif di angka 14 hingga 15 persen. Hal ini menjadi kabar baik bagi pelaku usaha logistik dan angkutan darat yang sangat bergantung pada efisiensi biaya bahan bakar mesin diesel. Sementara untuk Pertamax Turbo, penyesuaian berada di level 7 persen, mencerminkan volatilitas pasar bahan bakar bensin performa tinggi yang berbeda karakter dengan minyak diesel.

Menjaga Kualitas dan Ketersediaan

Perusahaan memastikan bahwa penurunan harga tidak akan mengorbankan kualitas produk. Kitty menambahkan, komitmen utama Pertamina adalah memastikan setiap liter BBM yang disalurkan tetap memenuhi standar teknis yang ketat. Spesifikasi produk seperti *cetane number* untuk Dexlite dan Pertamina Dex tetap dipertahankan sesuai regulasi standar kualitas bahan bakar nasional agar mesin kendaraan tetap awet dan efisien.

“Kami berkomitmen menghadirkan harga yang kompetitif. Di saat yang sama, kami terus memastikan kualitas produk tetap optimal agar konsumen mendapatkan manfaat maksimal, baik untuk performa kendaraan maupun efisiensi bahan bakar secara jangka panjang,” kata Kitty.

Langkah penyesuaian ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga energi global yang tak menentu. Bagi konsumen, ketersediaan BBM di SPBU yang merata sama pentingnya dengan perubahan harga itu sendiri. Fokus Pertamina saat ini tetap pada menjaga kelancaran distribusi ke seluruh wilayah operasional Indonesia.

Ke depan, pasar akan terus mencermati apakah tren penurunan harga minyak dunia ini akan berlanjut atau kembali mengalami tekanan dari kondisi geopolitik global. Ketidakpastian pasokan dari negara-negara penghasil minyak dunia menjadi variabel utama yang bakal menentukan arah kebijakan harga energi di Indonesia pada semester kedua tahun 2026 mendatang. Masyarakat dan pelaku bisnis kini menanti apakah penurunan harga ini akan diikuti oleh kebijakan strategis lainnya dalam mendukung ekosistem logistik nasional yang lebih efisien.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda