JAKARTA — yen Jepang anjlok ke level terendah sejak 1986 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (30/6), memicu kekhawatiran pasar bahwa pemerintah Jepang akan kembali turun tangan di pasar valuta asing. Mata uang negeri Sakura itu sempat menyentuh 162,41 per dolar AS sebelum diperdagangkan di sekitar 162,23.
Penurunan ini tidak berhenti di level harian. Dalam hitungan kuartal, yen diperkirakan melemah sekitar 2 persen pada kuartal kedua, yang berarti pelemahan kuartalan keempat berturut-turut. Bagi pasar, angka itu bukan sekadar statistik. Itu sinyal bahwa tekanan terhadap yen belum reda dan jurang suku bunga dengan AS masih jadi beban utama.
Tekanan kurs makin berat
Rekor terendah baru ini menempatkan Jepang pada situasi yang sudah beberapa kali dihadapi sepanjang tahun: pasar menguji kesabaran otoritas, lalu spekulasi intervensi meningkat. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan pemerintah siap merespons dengan tepat kapan saja, meski ia belum membeberkan bentuk langkah yang akan ditempuh.
Pasar membaca pernyataan itu sebagai peringatan halus. Tapi, peringatan semacam ini juga sudah sering muncul. Para pelaku pasar tahu, intervensi bukan sekadar soal membeli yen satu kali. Efeknya harus cukup besar untuk mengubah ekspektasi trader yang terus memantau selisih imbal hasil antara Jepang dan AS.
“Ini adalah masalah kapan, bukan apakah, Kementerian Keuangan (MOF) akan kembali melakukan intervensi untuk mendukung yen,” kata Carol Kong, ahli strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia, dikutip dari Reuters, Selasa (30/6/2026).
Menurut Kong, intervensi apa pun juga belum tentu membalikkan tren penguatan dolar AS yang lebih luas terhadap yen. Ia bahkan memperkirakan yen akan menyentuh 164 per dolar AS pada awal 2027. Proyeksi itu memberi gambaran bahwa tekanan terhadap mata uang Jepang bisa berlangsung lama, bukan hanya beberapa hari.
Jejak intervensi sebelumnya belum cukup
Pemerintah Jepang sudah beberapa kali menggelontorkan dana besar untuk menahan pelemahan mata uangnya. Reuters melaporkan, otoritas Jepang pernah mengucurkan 11,7 triliun yen atau sekitar US$72,25 miliar dalam intervensi sebelumnya, disertai kenaikan suku bunga oleh bank sentral. Namun, langkah itu belum mampu menghentikan arah pelemahan secara permanen.
Yen memang sempat menguat sementara pada akhir April dan awal Mei. Saat itu pasar merespons tindakan pemerintah dengan lebih hati-hati. Harganya naik sebentar. Lalu turun lagi. Tekanan kembali datang saat pedagang memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve AS pada akhir tahun ini, yang membuat dolar tetap menarik di mata investor global.
Di sinilah masalah inti yen berada. Selama suku bunga AS jauh lebih tinggi dibanding Jepang, arus modal cenderung mengalir ke aset dolar. Akibatnya, yen sulit mendapat napas panjang. Pemerintah Jepang bisa masuk pasar, tetapi untuk menahan arus besar seperti ini, langkah sekali dorong sering tidak cukup.
Dampak ke pasar dan konsumen
Pelemahan yen bukan hanya urusan meja transaksi valuta asing. Di Jepang, kurs yang lemah bisa membuat biaya impor energi, pangan, dan bahan baku lebih mahal. Tekanan itu bisa merembet ke harga barang, biaya produksi, sampai daya beli masyarakat. Bagi wisatawan dan pelaku bisnis lintas negara, volatilitas kurs juga menambah ketidakpastian biaya.
Untuk pembaca di Indonesia, pergerakan yen tetap penting dipantau. Kurs Jepang yang terus melemah bisa memengaruhi harga perjalanan ke Jepang, biaya kuliah, belanja online lintas negara, hingga harga produk impor tertentu yang punya rantai pasok dari Negeri Sakura. Jika tren ini berlanjut, pelaku usaha yang bergantung pada yen juga perlu menyiapkan skenario lindung nilai lebih ketat.
Pasar kini menunggu satu pertanyaan yang sama: kapan Tokyo benar-benar masuk lagi. Satu hal jelas, level 162,41 per dolar AS pada Selasa menjadi penanda baru bahwa tekanan pada yen belum selesai, dan angka itu bisa bergerak lebih jauh bila kebijakan AS tetap menahan dolar di jalur kuat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.