Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Meta Klaim Model AI Terbarunya Mulai Dekati ChatGPT

Meta Klaim Model AI Terbarunya Mulai Dekati ChatGPT
Meta kini berupaya keras memangkas jarak dalam perlombaan teknologi kecerdasan buatan (AI) global. Credit: JournalArta

JAKARTA — Meta kini berupaya keras memangkas jarak dalam perlombaan teknologi kecerdasan buatan (AI) global. Perusahaan pimpinan Mark Zuckerberg tersebut mengklaim model AI terbarunya sudah mulai mendekati kemampuan ChatGPT besutan OpenAI yang selama ini mendominasi pasar.
Persaingan teknologi makin panas. Meta menaruh harapan besar pada proyek tersembunyi mereka.
Informasi ini mencuat dari pernyataan Alexandr Wang, Kepala Meta Superintelligence Labs. Dalam pertemuan internal perusahaan, Wang mengungkapkan bahwa Meta tengah menggodok model dengan nama sandi Watermelon. Model ini digadang-gadang mampu mengejar kapabilitas model andalan OpenAI, yakni GPT-5.5. Menurut laporan *Business Insider*, pengembangan ini menjadi langkah krusial bagi Meta setelah merilis model sebelumnya yang dikenal internal sebagai Avocado atau Muse Spark pada April lalu.

Investasi Besar untuk Kejar Ketertinggalan

Meta selama ini dipandang tertinggal dibandingkan pemain besar lain seperti Google dan Anthropic. Meski telah mengucurkan dana jumbo untuk belanja chip, pembangunan pusat data, hingga perekrutan talenta terbaik, posisi Meta di jajaran depan industri AI sering kali dianggap belum cukup kuat.
Bagi raksasa teknologi, AI bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan tulang punggung bisnis masa depan. Zuckerberg menyadari betul bahwa tertinggal dalam inovasi kecerdasan buatan berarti kehilangan relevansi di mata pengguna dan investor.
Wang menjelaskan bahwa Watermelon dilatih dengan kapasitas komputasi yang jauh lebih masif ketimbang pendahulunya. Peningkatan daya komputasi ini diharapkan bisa mendongkrak performa secara signifikan. Fokus pengembangan kali ini menyasar kemampuan *coding* yang lebih cerdas serta peningkatan pada fungsi *agentic capabilities*, yang memungkinkan AI bekerja lebih mandiri untuk menyelesaikan tugas kompleks pengguna.
Saat ditanya mengenai persaingan dengan Claude Opus milik Anthropic di sektor pemrograman, Wang memberikan jawaban optimistis. Ia meyakini Meta akan mampu menghadirkan model yang sepadan dalam waktu dekat. Pengguna, katanya, pasti akan merasakan perbedaan performa yang signifikan. Optimisme ini bukan tanpa dasar, mengingat Meta memiliki akses ke ekosistem data yang sangat besar melalui platform Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

Urgensi Kemampuan Agentic

Mengapa kemampuan *agentic* menjadi begitu penting dalam peta persaingan ini? Selama ini, chatbot AI konvensional bekerja layaknya mesin pencari yang menjawab pertanyaan secara statis. Namun, era *agentic* mengubah aturan main. AI jenis ini mampu menyusun rencana, mengambil langkah proaktif, hingga mengeksekusi tugas lintas aplikasi tanpa harus diperintah berkali-kali oleh manusia.
Misalnya, jika Anda meminta AI untuk “merencanakan perjalanan bisnis”, model *agentic* tidak hanya memberi daftar destinasi. Ia akan memesan tiket, mengatur jadwal di kalender, hingga berkomunikasi dengan rekan kerja Anda jika terjadi perubahan rencana. Inilah medan tempur baru yang sedang diperebutkan oleh Meta dan OpenAI.
Pengamat industri teknologi mencatat bahwa Meta memiliki keuntungan unik berupa model terbuka (open-source) melalui Llama. Dengan menyediakan model yang kuat bagi komunitas pengembang, Meta sebenarnya tengah membangun benteng pengaruh yang sulit ditembus oleh model tertutup milik OpenAI. Jika Watermelon berhasil dirilis dengan performa yang mumpuni, Meta akan mendapatkan loyalitas pengembang yang lebih besar.

Dampak Bagi Ekosistem Teknologi

Kehadiran model-model baru dari OpenAI, seperti GPT-5.5 dan GPT-5.6, memang menjadi tolok ukur standar industri saat ini. Meskipun GPT-5.6 belum dirilis secara luas karena adanya tinjauan kebijakan dari pemerintah Amerika Serikat, posisi OpenAI tetap sulit digoyahkan.
Jika klaim Wang benar, ini menjadi bukti bahwa strategi investasi besar-besaran Meta mulai membuahkan hasil nyata. Bagi pengguna di Indonesia, perkembangan ini tentu dinanti. Persaingan ketat antar-raksasa teknologi biasanya berujung pada fitur yang lebih canggih dan harga layanan yang lebih terjangkau.
Pengembangan AI yang makin cepat ini memaksa perusahaan untuk terus berinovasi tanpa henti. Meta tidak lagi hanya ingin menjadi pengikut, melainkan penantang serius yang siap mengubah peta persaingan. Konsumen adalah pemenang utamanya.
Data menunjukkan bahwa kebutuhan akan AI yang mampu melakukan *coding* dan otomatisasi tugas meningkat hingga dua kali lipat dalam satu tahun terakhir. Perusahaan yang mampu menawarkan solusi paling efisien akan menguasai pangsa pasar.

Poin Penting Pengembangan AI Meta:

  • Nama Proyek: Watermelon menjadi suksesor dari model Avocado (Muse Spark).
  • Fokus Utama: Peningkatan kemampuan pemrograman (coding) dan fungsi agentic capabilities.
  • Daya Saing: Meta mengklaim model terbarunya mulai mampu mengejar level kemampuan GPT-5.5 milik OpenAI.

*”Kami sedang dalam tahap pelatihan intensif dan pengguna akan menyukai apa yang sedang dikembangkan saat ini,”* ujar Alexandr Wang dalam sebuah kesempatan diskusi internal.
Melihat dinamika ini, kita bisa mengharapkan babak baru dalam integrasi AI ke perangkat harian. Entah itu di dalam aplikasi media sosial atau asisten pribadi pada kacamata pintar, Meta sedang memastikan bahwa mereka berada di baris terdepan ketika era AI benar-benar mengubah cara kita bekerja dan berinteraksi dengan dunia digital. Pertarungan raksasa baru saja dimulai, dan hasilnya akan menentukan arah masa depan komputasi global.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda