Aphindo menyoroti bahwa regulasi pemerintah saat ini dinilai kurang memberikan ruang napas bagi keberlangsungan industri plastik hilir. Salah satu poin krusial yang terus didorong adalah evaluasi kebijakan bea masuk impor bahan baku yang belum tersedia di dalam negeri. Menurut Henry, pemerintah seharusnya memberikan insentif yang lebih nyata agar industri domestik tidak semakin terpinggirkan di rumahnya sendiri.
“Industri sangat tergantung pada ketersediaan bahan baku hingga kepastian hukum. Tanpa adanya sinkronisasi antara kebijakan hulu dan hilir, pelaku industri lokal akan semakin terjepit di pasar sendiri,” tegas Henry dalam dialog di program *Manufacture Check*, CNBC Indonesia, Rabu (01/07/2026).
Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Ketidakpastian hukum dan rantai pasok yang tidak efisien membuat daya saing produk dalam negeri semakin rendah dibandingkan barang impor. Banyak pabrik plastik lokal yang sebenarnya memiliki teknologi mumpuni namun kalah dalam aspek efisiensi biaya. Pelaku usaha kini berharap ada penyesuaian tarif bea masuk serta dukungan logistik yang lebih baik untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
Dampak Sosial dan Lapangan Kerja
Persaingan ini bukan sekadar urusan angka di atas kertas atau sekadar adu murah harga di pasar. Isu ini menyangkut keberlangsungan lapangan kerja bagi ribuan pekerja di sektor plastik hilir. Jika pabrik tidak bisa beroperasi karena kalah bersaing, risiko pemutusan hubungan kerja menjadi ancaman nyata yang tak bisa diabaikan.
Sektor industri plastik adalah pendukung utama bagi banyak rantai nilai ekonomi lain. Mulai dari industri makanan dan minuman hingga sektor konstruksi, semuanya bergantung pada kemasan plastik. Jika pasokan domestik mati dan digantikan sepenuhnya oleh impor, Indonesia akan kehilangan kedaulatan atas rantai pasok kebutuhan dasar industrinya sendiri.
Satu hal yang pasti, jika pemerintah tidak segera melakukan intervensi kebijakan yang tepat sasaran, ketergantungan pada produk impor dikhawatirkan akan terus meningkat. Kondisi ini berpotensi mematikan produsen lokal yang sudah berupaya keras bertahan di tengah gejolak ekonomi global. Ke depan, langkah konkret berupa proteksi tarif yang cerdas dan penguatan rantai pasok dalam negeri menjadi kunci agar industri ini tidak sekadar menjadi penonton di pasar sendiri. Fokus kini beralih pada bagaimana pemerintah merespons tuntutan pelaku usaha untuk memastikan ekosistem industri manufaktur nasional tetap kompetitif hingga akhir tahun.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.