Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Sengketa Hak Cipta, Midjourney Tuntut Transparansi AI Studio Hollywood

Sengketa Hak Cipta, Tuntut Transparansi AI Studio Hollywood
Pertarungan hukum di industri kreatif kian memanas. Credit: JournalArta

JAKARTA — Pertarungan hukum di industri kreatif kian memanas. Midjourney, platform generator gambar berbasis kecerdasan buatan, kini menuntut Warner Bros. Discovery, Disney, hingga Universal Studios untuk membuka dokumen internal terkait penggunaan teknologi AI mereka di pengadilan. Langkah ini menjadi babak krusial dalam perang perebutan narasi soal siapa yang sebenarnya berhak menggunakan data untuk melatih mesin pintar.
Permintaan ini muncul sebagai respons atas gugatan hak cipta yang dilayangkan studio-studio raksasa tersebut tahun lalu. Mereka menuduh Midjourney melakukan pelanggaran karena sistemnya mampu menghasilkan karakter berhak cipta seperti Superman atau Batman. Sebaliknya, Midjourney berargumen bahwa proses pelatihan AI menggunakan data publik merupakan bentuk *fair use* atau penggunaan yang adil.
Bukan sekadar formalitas, Midjourney meminta akses ke data sangat sensitif. Mereka mengincar rencana bisnis AI, laporan riset, dataset pelatihan, hingga materi presentasi AI yang digunakan studio dalam rapat direksi. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa studio-studio besar tersebut sebenarnya melakukan praktik serupa dalam melatih model AI milik mereka sendiri.

Pentingnya Pembuktian 'Fair Use'

Kenapa ini penting? Bagi industri teknologi dan hukum, kasus ini akan menjadi preseden besar. Jika Midjourney berhasil membuktikan bahwa studio-studio besar juga melatih model AI menggunakan karya berhak cipta, posisi hukum penggugat bisa melemah secara signifikan. Pengacara Midjourney, Bobby Ghajar, menyebut bukti tersebut merupakan inti dari pembelaan mereka.
“Jika penggugat melakukan hal yang sama dengan yang mereka coba hukum, bukti itu akan menghantam dasar argumen mereka,” tulis pihak Midjourney dalam dokumen pengadilan sebagaimana dilaporkan *Variety*. Dengan kata lain, Midjourney ingin menerapkan prinsip *unclean hands*—bahwa pihak yang menggugat pun tidak sepenuhnya bersih dari pelanggaran yang mereka tuduhkan.
Strategi ini bukan perkara sepele. Dalam hukum acara perdata Amerika Serikat, prinsip *unclean hands* digunakan untuk menyatakan bahwa seorang penggugat tidak berhak mendapatkan pemulihan hukum (seperti ganti rugi atau injungsi) jika mereka sendiri terlibat dalam perilaku tidak terpuji terkait subjek perkara tersebut. Jika Midjourney sukses membuka “kotak pandora” dokumen internal Disney atau Warner Bros, narasi bahwa “AI adalah pencuri” bisa berbalik menjadi “semua orang melakukannya.”
Sebelumnya, pada pertengahan Juni, hakim sempat membatasi akses data yang diminta Midjourney. Hakim hanya mengizinkan penyerahan informasi yang berkaitan dengan aplikasi AI yang digunakan untuk konsumsi publik. Midjourney kini mengajukan permohonan ke pengadilan federal agar putusan hakim tersebut dibatalkan dan akses ke data internal lebih luas bisa dibuka.

Pertaruhan Data dalam Industri AI

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda