Selasa, 7 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Daya Saing Indonesia di ASEAN Kian Tergerus: Tantangan Struktural di Tengah Badai Ekonomi Global 2026

Ilustrasi grafik perbandingan pertumbuhan ekonomi dan indeks daya saing negara-negara ASEAN tahun 2026 dengan latar belakang
Ilustrasi grafik perbandingan pertumbuhan ekonomi dan indeks daya saing negara-negara ASEAN tahun 2026. Credit: Dok. JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Di tengah upaya keras pemerintah menjaga stabilitas makroekonomi pasca-defisit neraca perdagangan pertama dalam enam tahun, sebuah pertanyaan kritis kembali mencuat di kalangan pelaku usaha dan pengamat ekonomi: mengapa daya saing Indonesia di kawasan ASEAN kian anjlok?

Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun Indonesia memiliki ukuran pasar domestik yang besar, kemampuan negara ini untuk bersaing secara efisien dalam rantai pasok global semakin tertekan. Sementara negara tetangga seperti Vietnam dan Filipina terus menarik minat investasi langsung asing (FDI) dengan insentif fiskal dan infrastruktur logistik yang lebih gesit, Indonesia justru terjebak dalam paradoks sumber daya alam yang melimpah namun nilai tambah industrinya stagnan.

Bayang-Bayang Defisit dan Ketergantungan Impor

Kabar buruk tentang defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan dari struktur ekonomi yang masih rapuh. Selama 72 bulan sebelumnya, Indonesia menikmati surplus berkat lonjakan harga komoditas. Namun, ketika harga komoditas global mulai terkoreksi dan permintaan eksternal melemah akibat kebijakan moneter ketat Amerika Serikat (AS), kelemahan struktural Indonesia segera terlihat.

Salah satu poin paling mengkhawatirkan adalah ketergantungan sektor industri terhadap bahan baku impor. Fenomena ini sangat terasa di industri pangan sehat yang sedang digandrungi konsumen lokal. Alih-alih memanfaatkan potensi pertanian domestik, banyak produsen masih mengandalkan impor untuk menjaga konsistensi kualitas dan menekan biaya produksi jangka pendek. Hal ini kontraproduktif dengan tujuan ketahanan nasional dan justru memperparah defisit transaksi berjalan saat nilai tukar Rupiah melemah.

Kompetisi Sengit dengan Vietnam dan Filipina

Di mata investor global, persepsi terhadap “biaya berbisnis” di Indonesia semakin kurang menarik dibandingkan dengan pesaing regionalnya. Vietnam, misalnya, telah berhasil memposisikan diri sebagai hub manufaktur alternatif utama pengganti China, didukung oleh perjanjian perdagangan bebas yang agresif dan tenaga kerja yang produktif.

Sementara itu, Filipina juga menunjukkan kemajuan signifikan dalam sektor jasa dan teknologi digital. Kedua negara ini mampu menawarkan ekosistem regulasi yang lebih sederhana dan kepastian hukum yang lebih baik bagi investor asing. Di sisi lain, Indonesia masih bergulat dengan birokrasi yang berbelit-belit dan ketidakpastian regulasi yang sering berubah-ubah, menciptakan friksi yang menghambat efisiensi operasional perusahaan multinasional.

Dampak Kebijakan Moneter dan Inflasi

Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda