JAKARTA — Persaingan sengit antara Amerika Serikat dan China kini tidak lagi terbatas pada chip semikonduktor, perdagangan, atau teknologi 5G. Medan pertempuran strategis kedua negara adidaya tersebut kini bergeser ke dasar samudera, tepatnya pada infrastruktur kabel bawah laut yang menjadi tulang punggung internet global.
Kabel serat optik yang terbentang di lantai samudra memfasilitasi transmisi data sebesar terabit per detik antarbenua. Infrastruktur ini membawa sekitar 98 persen dari total lalu lintas data dunia. Semula, kabel-kabel ini dianggap sebagai aset telekomunikasi netral, namun kini berubah menjadi aset strategis yang sangat vital di jantung kontestasi dominasi digital.
Mengapa Kabel Bawah Laut Sangat Penting?
Lonjakan kebutuhan akan konektivitas yang stabil pasca-pandemi COVID-19, serta revolusi kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan, telah menempatkan kabel bawah laut sebagai urat nadi peradaban modern.
Bart Hogeveen, pakar dari Australian Strategic Policy Institute (ASPI), menekankan bahwa pihak yang mengendalikan infrastruktur kritis ini dapat memengaruhi bagaimana data digunakan, oleh siapa, dan dengan biaya berapa.
Kekhawatiran akan pengaruh asing dan ketergantungan strategis menjadi semakin tajam di Washington maupun Beijing. Dampak nyata bagi masyarakat global adalah meningkatnya risiko gangguan konektivitas dan ketidakpastian keamanan data jika ketegangan geopolitik terus memuncak.
Negara-negara kini menyadari bahwa mengontrol aliran data dapat memberikan leverage politik dan ekonomi yang besar tanpa harus melepaskan tembakan.
Pertarungan Geopolitik di Dasar Laut
Amerika Serikat mulai memperketat pengawasan terhadap infrastruktur kabel bawah laut melalui Komisi Komunikasi Federal (FCC) pada Juni lalu. Langkah ini merupakan kelanjutan dari inisiatif ‘Clean Cable’ yang bertujuan membatasi partisipasi perusahaan China dalam proyek-proyek kabel sensitif.
Di sisi lain, China terus memperluas jejak kabel globalnya melalui proyek yang terkait dengan Digital Silk Road.
Contoh nyata dari pergeseran ini terlihat pada proyek SeaMeWe-6, sistem kabel sepanjang 21.700 km yang menghubungkan Singapura dan Prancis.
Proyek ini menjadi ajang persaingan diplomatik yang ketat, di mana pertimbangan keamanan nasional kini lebih dominan dibandingkan sekadar efisiensi biaya atau teknologi komersial.
Data dari China Academy of Information and Communications Technology mencatat bahwa perusahaan China, HMN Tech, telah membangun lebih dari 100.000 kilometer sistem kabel di lebih dari 70 negara.
Richard Marles, Wakil Perdana Menteri Australia, bahkan menyebut dasar laut sebagai medan perang baru menyusul serangkaian insiden kerusakan infrastruktur di berbagai wilayah.
Kini, raksasa teknologi seperti Google, Microsoft, Amazon, dan Meta pun mulai terlibat langsung sebagai investor utama, menandakan bahwa kabel bukan lagi sekadar proyek operator telekomunikasi nasional, melainkan pondasi bagi ekonomi digital dunia.
Ringkasan Kunci
- Kabel bawah laut membawa 98 persen lalu lintas data dunia, menjadikannya aset strategis paling kritis dalam ekonomi digital saat ini.
- Teknologi AI dan komputasi awan mendorong permintaan data yang lebih cepat, yang pada gilirannya mempercepat perlombaan penguasaan infrastruktur kabel.
- Geopolitik kini mendominasi proyek kabel, di mana Amerika Serikat dan China saling berlomba untuk memastikan kendali atas jalur data internasional.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.