JAKARTA — Mata anak-anak masa kini sering kali terpaku pada layar bercahaya terang. Dari bangun tidur hingga waktu rehat, perangkat digital menjadi teman setia yang sulit dilepaskan.
Fenomena ini memicu keresahan para orang tua, terutama ketika interaksi dunia nyata mulai memudar dan perkembangan emosional buah hati terganggu.
Saat Permainan Tradisional Jadi Cara Mengurangi Kecanduan Gadget Anak, sebuah gerakan di Sidoarjo muncul sebagai bukti bahwa solusi sering kali ditemukan justru pada akar budaya kita sendiri.
Achmad Irfandi, penggagas gerakan ini, merasakan betul bagaimana jarak antarindividu melebar karena kehadiran gawai. Berangkat dari kegelisahan tersebut, ia mendirikan Kampung Lali Gadget (KLG) pada 1 April 2018 di Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo.
Langkahnya sederhana namun berdampak besar: mengajak anak-anak kembali ke lapangan untuk berkeringat lewat permainan tempo dulu yang nyaris terlupakan.
Transformasi Budaya dan Dampak Sosial
Penting untuk memahami bahwa kecanduan gadget bukan sekadar soal waktu pemakaian. Dampak yang ditimbulkan menyasar aspek mendalam, mulai dari gangguan perkembangan fisik hingga pola pikir anak.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa minimnya aktivitas fisik akibat durasi menatap layar yang berlebihan dapat menurunkan kemampuan motorik dan kecerdasan sosial anak. Mereka menjadi ahli di dunia maya, namun sering canggung saat harus berhadapan langsung dengan lingkungan sekitar.
Inisiatif KLG mencoba mendobrak tembok digital tersebut. Di sana, permainan tradisional bukan hanya dianggap sebagai hiburan, melainkan instrumen untuk melatih kerja sama tim dan empati.
Anak-anak yang tadinya sibuk dengan jempol di atas layar, beralih memainkan egrang, gobak sodor, atau sekadar berlarian di ruang terbuka. Gerakan tubuh dan tawa bersama menjadi bahasa komunikasi yang tak bisa digantikan oleh algoritma aplikasi apa pun.
Keberlanjutan dan Ekonomi Lokal
Apa yang dimulai sebagai gerakan komunitas kecil perlahan bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi. Kampung Lali Gadget kemudian berkembang menjadi Desa Sejahtera Astra Lali Gadget. Fokusnya tidak lagi hanya tentang membatasi penggunaan gawai, tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui pengembangan desa sebagai destinasi eduwisata berbasis kearifan lokal.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.