Selasa, 7 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Rupiah Ditutup Menguat Tipis, Dolar AS Turun Jadi Rp17.975

Rupiah Ditutup Menguat Tipis, Dolar AS Turun Jadi Rp17.975
Foto: Polina Tankilevitch/Pexels

Di titik ini, pelaku usaha ikut memperhatikan arah rupiah. Importir bisa merasakan napas yang sedikit lebih panjang jika tekanan pelemahan tak berlanjut, sementara eksportir tetap harus membaca peluang dari kurs yang masih berada di level tinggi. Bagi rumah tangga, dampaknya terasa pada barang impor, bahan baku, dan harga produk yang sensitif terhadap kurs.

Soal itu, stabilitas rupiah punya efek berantai. Jika kurs bergerak liar, biaya impor naik, harga produksi bisa terdorong, lalu inflasi ikut tertekan ke atas. Maka, penguatan tipis hari ini memang belum mengubah gambar besar, tapi cukup memberi sinyal pasar belum kehilangan pijakan.

Koordinasi BI dan pemerintah ikut jadi perhatian

Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia dan pemerintah juga terus menjaga koordinasi fiskal-moneter. Dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Selasa (7/7/2026), Gubernur BI Perry Warjiyo memaparkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi, termasuk nilai tukar rupiah.

Menurut Perry, salah satu langkah itu ditempuh lewat penerbitan Surat Berharga Negara atau SBN yang diselaraskan dengan kebijakan moneter. BI dan pemerintah juga berusaha menjaga kecukupan likuiditas pasar supaya pertumbuhan uang beredar tetap memadai.

Perry menilai stabilitas rupiah berhubungan langsung dengan kesehatan fiskal. Karena itu, BI dan pemerintah mendorong imbal hasil instrumen seperti SRBI dan SBN agar tetap menarik bagi investor asing. Strategi ini ditujukan untuk menahan arus keluar dana dan mengundang modal masuk ke pasar domestik.

Ia menyebut pada triwulan I-2026 terjadi aliran modal keluar sebesar US$1,47 miliar. Tapi pada triwulan II-2026, arus modal berbalik masuk dan mencapai US$7,98 miliar. Perubahan ini menunjukkan respons investor masih sangat bergantung pada imbal hasil, persepsi risiko, dan arah kebijakan.

“Kami sepakat sama-sama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, juga berpengaruh penting kesehatan fiskal. Kami sepakat menaikkan suku bunga SRBI dan SBN agar terjadi inflow hasilnya positif,” ujar Perry dalam rapat itu.

Perry juga menegaskan BI akan menanggung tambahan beban remunerasi pemerintah yang muncul akibat penyesuaian suku bunga SBN. “Semua kenaikan suku bunga akan kami tanggung dan kami tingkatkan remunerasi pemerintah, jadi win-win solution,” katanya.

Di luar kurs, BI dan pemerintah masih memantau inflasi. Harga global yang tinggi bisa cepat merembet ke dalam negeri, jadi sinergi keduanya tetap jadi penentu arah ekonomi beberapa bulan ke depan. Untuk pasar, pesan utamanya jelas: rupiah masih dijaga, tapi tekanan eksternal belum benar-benar hilang.

Data pembanding dari ANTARA juga menunjukkan rupiah pada sesi pagi sempat berada di Rp17.995 per dolar AS. Artinya, pergerakan hari ini memang cukup lebar, lalu menguat menjelang penutupan. Pasar bergerak cepat. Dan rupiah ikut merespons.

“Kami terus menjaga stabilitas agar pasar tetap percaya,” kata Perry, menegaskan arah koordinasi yang akan terus dipakai BI dan pemerintah di tengah gejolak global.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda