Rabu, 8 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Sejak Juara 2002, Tim Eropa Selalu Jadi Momok Brasil di Piala Dunia

Ilustrasi timnas Brasil tertunduk menghadapi tim Eropa di Piala Dunia
Ilustrasi timnas Brasil tertunduk menghadapi tim Eropa di Piala Dunia. (Ilustrasi: AI)

EAST RUTHERFORD — Kutukan fase gugur kembali menghantui Brasil di Piala Dunia 2026. Kekalahan 1-2 dari Norwegia di babak 16 besar yang berlangsung di MetLife Stadium, Senin (6/7) pagi WIB, memperpanjang derita tim Samba saat bersua wakil Benua Biru.

Erling Haaland menjadi mimpi buruk bagi Alisson Becker melalui dua gol yang ia lesakkan. Kemenangan ini sekaligus memastikan langkah Vinicius Junior dan kolega terhenti lebih awal, mengulangi pola tragis yang terus berulang dalam dua dekade terakhir.

Tradisi Kekalahan yang Berulang

Sejak mengangkat trofi juara pada edisi 2002, Brasil seakan kehilangan taji saat berhadapan dengan tim Eropa di babak gugur. Kekalahan atas Norwegia merupakan kali keenam secara beruntun Brasil tersingkir dari turnamen akbar ini oleh tim dari Eropa.

Sejarah kelam ini dimulai pasca-kejayaan 2002. Pada 2006, Prancis menghentikan langkah Brasil di perempat final. Empat tahun berselang, giliran Belanda yang memupus harapan mereka. Puncaknya terjadi pada 2014, saat kekalahan memalukan 1-7 dari Jerman di depan pendukung sendiri menjadi salah satu luka terdalam sepak bola Brasil.

Tren negatif ini berlanjut pada 2018 ketika Belgia menyingkirkan Selecao, disusul drama adu penalti melawan Kroasia pada 2022. Kini, Norwegia menjadi tim terbaru yang menuliskan namanya sebagai pengubur mimpi Brasil.

Ketajaman Haaland dan Dampaknya

Di balik nestapa Brasil, Erling Haaland justru tengah menikmati puncak performanya. Penyerang Manchester City itu kini telah mencetak tujuh gol di Piala Dunia 2026, menjadikannya penantang serius untuk gelar Sepatu Emas bersaing dengan nama besar seperti Lionel Messi dan Kylian Mbappe.

“Mencetak tujuh gol untuk Norwegia di Piala Dunia terasa sangat istimewa. Sulit menemukan kata-kata, rasanya seperti tidak nyata,” ujar Haaland pasca-laga seperti dilansir dari laporan AFP.

Data menunjukkan betapa dominannya tim Eropa dalam menekan Brasil. Sebelum Haaland, tercatat nama Toni Kroos dan Andre Schurrle sebagai pemain terakhir yang mampu mencetak dua gol ke gawang Brasil dalam satu laga fase gugur Piala Dunia, tepatnya pada semifinal 2014.

Mengapa Brasil Selalu Kesulitan?

Bagi penikmat sepak bola, kegagalan rutin Brasil ini memicu diskusi panjang mengenai krisis identitas taktis. Brasil sering kali unggul dalam penguasaan bola, namun terlihat rentan saat menghadapi tim Eropa yang bermain dengan blok pertahanan disiplin dan transisi serangan kilat.

Tim Eropa saat ini mampu mengeksploitasi celah di lini belakang Brasil dengan efisiensi tinggi, sebuah kontras dari permainan Samba yang cenderung mengandalkan magis individu.

Dampak dari kegagalan konsisten ini bagi industri sepak bola Brasil sangat masif. Harapan publik yang selalu menempatkan Selecao sebagai unggulan utama kini mulai berubah menjadi tekanan psikologis berat bagi para pemain muda.

Kegagalan demi kegagalan di panggung global berpotensi menurunkan daya tawar pemain Brasil di bursa transfer Eropa jika tren ini tidak segera diperbaiki melalui regenerasi taktik yang lebih adaptif.

Ke depan, pertanyaannya bukan lagi tentang siapa pelatih berikutnya, melainkan apakah Brasil mampu mengubah paradigma bermain mereka untuk mematahkan dominasi Eropa yang sudah berlangsung selama 24 tahun terakhir. Dunia akan menanti jawaban dari Selecao pada Piala Dunia berikutnya.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda