JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Cara beli saham di BEI pada 2026 bisa dilakukan lewat ponsel, selama calon investor punya KTP, rekening bank atas nama sendiri, dan akun sekuritas yang sudah terdaftar di OJK. Modal awalnya juga tidak harus besar; di beberapa sekuritas, setoran bisa mulai dari Rp100 ribu.
Proses ini makin ringkas karena pembukaan rekening efek kini banyak dilakukan secara daring. BEI juga terhubung dengan ASN Digital untuk verifikasi data tertentu, sehingga alur pembukaan akun tidak lagi seruwet dulu. Tapi tetap ada tahapan yang harus dilalui, dari pembukaan rekening efek sampai aktivasi RDN.
Syarat dasar cara beli saham di BEI
Sebelum masuk ke aplikasi trading, investor perlu menyiapkan dokumen dan data yang diminta perusahaan sekuritas. Syarat paling umum adalah warga negara Indonesia berusia 17 tahun ke atas, punya KTP, email aktif, nomor ponsel aktif, serta rekening bank atas nama sendiri.
NPWP biasanya diminta saat pembukaan akun, meski pada beberapa sekuritas statusnya bersifat opsional atau disarankan. Untuk modal awal, angka minimal bergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan sekuritas. Ada yang membuka akses mulai Rp100 ribu, ada pula yang mensyaratkan setoran lebih tinggi.
5 langkah beli saham di BEI 2026
Langkah pertama adalah memilih perusahaan sekuritas. BEI tidak menjual saham langsung ke investor ritel. Jalurnya selalu lewat sekuritas yang mengantongi izin OJK.
Calon investor biasanya menimbang tiga hal: biaya transaksi, kemudahan aplikasi, dan kelengkapan riset. Fee beli umumnya berada di kisaran 0,15 persen hingga 0,25 persen, sementara fee jual sekitar 0,25 persen sampai 0,35 persen. Semakin ringan biaya transaksi, semakin efisien untuk investor yang masih kecil nilainya.
Setelah memilih sekuritas, investor mengisi formulir pembukaan rekening efek lewat aplikasi, lalu mengunggah KTP, NPWP bila diminta, selfie, dan dokumen pendukung lain. Verifikasi biasanya memakan waktu satu hingga tiga hari kerja.
Berikutnya, sekuritas akan menerbitkan RDN atau Rekening Dana Nasabah. Rekening ini dipakai untuk menampung dana transaksi saham. Uang untuk membeli saham harus masuk ke RDN lebih dulu, lalu bisa dipakai saat memasang order.
Setelah akun aktif, investor mengunduh aplikasi trading milik sekuritas, masuk dengan user ID dan password, lalu mulai mencari kode saham. Contohnya BBCA untuk Bank Central Asia. Begitu kode ditemukan, investor tinggal menekan tombol beli, memilih jumlah lot, lalu memasang harga dan jenis order.
Satu lot di pasar saham Indonesia berisi 100 lembar saham. Jadi kalau harga BBCA Rp9.000 per lembar, maka satu lot membutuhkan dana sekitar Rp900.000 sebelum fee dan pajak. Jenis order yang umum dipakai adalah GTC atau Day, tergantung strategi dan kebiasaan investor.
Setelah order cocok dengan penjual, saham masuk ke portofolio. Kalau dijual, dana hasil penjualan masuk ke RDN pada hari penyelesaian transaksi T+2 sebelum dipindahkan ke rekening bank.
Biaya dan pajak transaksi saham
Biaya transaksi saham di BEI terdiri dari fee ke sekuritas dan pajak jual ke negara. Angkanya bisa berbeda antarperusahaan, tapi kisaran dasarnya relatif serupa.
| Jenis biaya | Besaran |
|---|---|
| Fee beli | 0,15% – 0,25% |
| Fee jual | 0,25% – 0,35% |
| Pajak jual | 0,1% final |
Data biaya ini penting karena memengaruhi hasil investasi, terutama untuk transaksi jangka pendek. Investor yang sering keluar-masuk saham biasanya lebih sensitif terhadap fee dan pajak dibanding investor yang menahan saham lebih lama.
Dampak langsung bagi investor ritel
Bagi investor ritel, kemudahan buka akun dan modal awal yang rendah membuat pasar saham makin terjangkau. Akibatnya, anak muda, pekerja kantoran, sampai pemula yang baru belajar investasi bisa masuk tanpa harus menunggu tabungan besar. Jalurnya juga lebih transparan karena semua proses tercatat di aplikasi dan terhubung ke sistem sekuritas resmi.
Tapi kemudahan itu juga punya konsekuensi. Investor yang buru-buru sering terjebak membeli saham hanya karena ramai dibicarakan, lalu panik saat harga turun. Di pasar modal, keputusan tetap harus berbasis data perusahaan, bukan sekadar ikut arus. Saham bank besar seperti BBCA, BBRI, TLKM, UNTR, dan ASII sering dipilih pemula karena likuid dan dikenal lebih stabil dibanding saham berisiko tinggi.
Fraksi harga baru dan pilihan saham awal
Mulai 2026, BEI memakai fraksi harga baru. Untuk saham di bawah Rp200, perdagangan bisa bergerak per Rp1, sehingga harga lebih fleksibel di level bawah. Ini memberi ruang yang lebih rapat untuk penawaran di saham murah, meski investor tetap perlu memahami risikonya.
Kalau baru mulai, saham blue chip di indeks LQ45 sering dipakai sebagai pintu masuk. Likuiditasnya tinggi, laporan keuangannya mudah diakses, dan pergerakan harganya cenderung tidak seacuh saham gorengan. Untuk langkah awal, disiplin jauh lebih penting daripada mengejar untung cepat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.