Senin, 13 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Cek Kesehatan Reproduksi: Jadwal Skrining Wajib Sesuai Usia Anda

Dokter sedang memberikan konsultasi kesehatan reproduksi kepada pasien perempuan
Konsultasi rutin dengan dokter spesialis menjadi langkah preventif kunci bagi kesehatan perempuan di setiap jenjang usia. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Kebutuhan kesehatan reproduksi perempuan terus bergeser seiring bertambahnya usia. Memahami tahapan skrining yang tepat bukan sekadar untuk mendeteksi dini penyakit, tetapi langkah krusial menjaga kualitas hidup jangka panjang.

Para ahli menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan rutin dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan (obgyn). Kunjungan ini mencakup evaluasi kondisi organ vital hingga pencegahan penyakit degeneratif seperti osteoporosis dan kanker ginekologi.

Jadwal Skrining dan Kesehatan Reproduksi

Memasuki usia 20-an, fokus utama bagi perempuan yang aktif secara seksual adalah pemantauan kesehatan reproduksi dasar. Dr. Freda Khoo, konsultan kebidanan dan kandungan di Freda Khoo Clinic for Women, menyarankan pemeriksaan Pap smear pertama dilakukan saat menginjak usia 25 tahun. Berdasarkan panduan medis umum, tes ini sebaiknya diulang setiap tiga tahun sekali hingga usia 29 tahun.

Memasuki usia 30 tahun, metode pemeriksaan berubah. Skrining HPV (human papillomavirus) direkomendasikan setiap lima tahun. Perbedaan mendasar terletak pada fokusnya: Pap smear mendeteksi sel abnormal, sedangkan tes HPV mencari virus penyebab infeksi yang memicu perubahan sel tersebut.

Bagi kelompok usia muda, tes HPV sering kali tidak menjadi prioritas utama karena sistem kekebalan tubuh biasanya mampu membersihkan infeksi HPV secara alami.

Pentingnya Deteksi Dini di Usia Matang

Saat memasuki usia 30-an hingga 40-an, tantangan kesehatan sering kali berkaitan dengan fertilitas atau kesuburan. Dr. Seet Meei Jiun, Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi di KK Women’s and Children’s Hospital, menyebutkan pentingnya evaluasi bagi pasangan yang kesulitan mendapatkan keturunan.

Bagi perempuan di atas usia 35 tahun, pemeriksaan kesuburan disarankan lebih cepat tanpa harus menunggu hingga satu tahun masa percobaan.

Selain masalah kesuburan, skrining kanker payudara melalui mammogram menjadi prioritas mulai usia 40 hingga 49 tahun, yang disarankan dilakukan setahun sekali. Bagi perempuan berusia 50 tahun ke atas, pemeriksaan dapat dilakukan setiap dua tahun. Melakukan pemeriksaan payudara mandiri (SADARI) pun wajib dimulai sejak pubertas untuk mengenali tekstur dan perubahan jaringan payudara secara rutin.

Manajemen Gejala Perimenopause

Mendekati masa perimenopause atau akhir usia 40-an, gejala seperti gangguan tidur, perubahan suasana hati, hingga hot flushes kerap muncul. Dr. Robin Edwards dari Raffles Women’s Centre menyatakan bahwa konsultasi dengan dokter spesialis sangat membantu untuk mengelola gejala tersebut.

Sering kali, dokter juga akan melakukan tes darah untuk memeriksa fungsi tiroid karena gejalanya, seperti kelelahan atau perubahan berat badan, sering kali menyerupai fluktuasi hormon menopause.

Apa dampak nyata bagi Anda? Mengabaikan jadwal skrining rutin berisiko melewatkan fase deteksi dini pada penyakit yang sebenarnya bisa diobati, seperti kanker serviks atau gangguan hormon. Mengambil langkah preventif sejak dini merupakan investasi kesehatan yang paling berharga untuk menghindari komplikasi medis serius di masa depan.

Pastikan Anda tidak ragu untuk mendiskusikan kondisi kesehatan seksual atau gejala yang dirasakan dengan tenaga medis. Keterbukaan komunikasi dengan dokter membantu identifikasi dini terhadap infeksi menular seksual (IMS) yang sering kali tidak menunjukkan gejala namun berpotensi merusak organ panggul internal jika dibiarkan.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda