Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Energi Nuklir di Dunia dan Kesiapan Indonesia: Antara Potensi Besar dan Tantangan Berat

Energi nuklir dunia
Energi Nuklir di Dunia dan Kesiapan Indonesia: Potensi Besar dan Tantangan Berat. Credit: Dok. JournalArta

Indonesia sebenarnya telah mengenal riset nuklir sejak tahun 1950-an. Namun rencana pembangunan PLTN sempat tertunda puluhan tahun karena berbagai alasan, mulai dari penemuan cadangan gas besar hingga dinamika kebijakan dan kekhawatiran keselamatan.

Kini, wacana itu kembali bangkit dengan dorongan kuat. Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Dewan Energi Nasional menargetkan PLTN pertama beroperasi pada 2032, dengan kapasitas awal sekitar 500 megawatt menggunakan teknologi SMR, lalu dikembangkan hingga total 7 gigawatt pada 2034. Lokasi yang dikaji antara lain Kabupaten Bangka Tengah di Bangka Belitung dan Kabupaten Bengkayang di Kalimantan Barat, serta opsi pembangkit terapung yang lebih cocok untuk negara kepulauan.

Dewan Energi Nasional juga telah membentuk Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO) sebagai lembaga koordinasi lintas sektor yang berpedoman pada standar Badan Tenaga Atom Internasional atau IAEA. Selain itu, BRIN dan BAPETEN terus memperkuat persiapan sumber daya manusia, regulasi, serta kerja sama dengan negara mitra seperti Rusia, Korea Selatan, dan Prancis.

Kesiapan Indonesia: Apa yang Sudah Ada?

Jika dilihat dari sisi persiapan, Indonesia sebenarnya telah memiliki beberapa fondasi penting:

Pertama, Regulator Independen. BAPETEN sudah beroperasi puluhan tahun mengawasi fasilitas nuklir riset dan penggunaan radiasi, serta mulai menyusun kerangka peraturan khusus untuk teknologi baru seperti SMR dan PLTN terapung. BAPETEN juga berkomitmen menerapkan prinsip keselamatan, keamanan, dan garda aman sesuai standar internasional.

Kedua, Potensi Sumber Daya Alam. Indonesia memiliki cadangan bahan baku nuklir seperti uranium dan thorium yang cukup besar, terutama di wilayah Bangka Belitung, Kalimantan, dan Sulawesi Selatan. Hal ini berpotensi mengurangi ketergantungan impor bahan bakar jangka panjang.

Ketiga, Kebutuhan yang Mendesak. Pertumbuhan ekonomi nasional membutuhkan tambahan pasokan listrik stabil yang besar. Di saat yang sama, target pengurangan emisi mengharuskan pengurangan ketergantungan pada batu bara. PLTN mampu beroperasi terus-menerus tanpa tergantung cuaca, menjadikannya opsi pasokan dasar yang bersih.

Keempat, Dukungan Teknologi Baru. Teknologi reaktor modern seperti SMR memiliki risiko kecelakaan jauh lebih rendah, ukuran lebih kecil, dan biaya pembangunan dapat disesuaikan bertahap. Teknologi ini dinilai lebih cocok untuk kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau.

Tantangan Besar: Apakah Benar-Benar Siap?

Halaman:123Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda