Kamis, 16 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

AS Dorong daylight saving time permanen, nasibnya kini di Senat

daylight saving time permanen di ruang sidang Kongres
Kongres AS mendorong daylight saving time permanen lewat Sunshine Protection Act. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — daylight saving time permanen di Amerika Serikat kembali selangkah lebih dekat jadi kenyataan setelah DPR AS meloloskan Sunshine Protection Act. Jika Senat ikut setuju, Negeri Paman Sam tak lagi dua kali setahun memutar jam maju dan mundur seperti selama ini.

Langkah itu penting bukan cuma buat pembuat kebijakan di Washington. Di banyak kota, keputusan ini akan ikut mengubah ritme sekolah, jam berangkat kerja, sampai kapan orang masih mendapat cahaya matahari di sore hari. Dan itu bukan urusan kecil.

Langkah besar yang belum pernah terjadi di DPR

Rancangan undang-undang bipartisan itu kini melaju ke Senat AS. Menurut laporan PBS NewsHour, inilah kemajuan terbesar sejauh ini untuk mengakhiri tradisi perubahan jam dua kali setahun yang selama puluhan tahun memicu debat panjang.

Scott Yates, pendiri Lock the Clock Alliance, menyebut momen ini sebagai terobosan yang belum pernah dicapai sebelumnya. “Kami belum pernah melihat ini lolos di DPR sebelumnya. Ini langkah besar maju,” kata Yates dalam wawancara dengan Geoff Bennett.

Ia juga menekankan dukungan lintas partai yang luas. Menurut Yates, suara dari Partai Republik dan Demokrat sama-sama terlihat kuat. “Dengan momentum seperti ini, kami bisa pergi ke Senat dan mengatakan, lihat, inilah yang diinginkan orang,” ujarnya.

Kenapa perdebatan ini tak kunjung selesai

Pokok sengketanya sederhana, tapi sensitif. Banyak orang setuju soal satu hal: mereka lelah memindahkan jam dua kali setahun. Namun soal waktu mana yang harus dipertahankan, kubu pendukung masih terbelah antara daylight saving time permanen dan waktu standar permanen.

Yates menyebut ada jalan tengah lewat masa transisi dua tahun. Gagasan itu memberi waktu bagi tiap negara bagian, dewan sekolah, dan pemangku kebijakan lokal untuk menilai jam mana yang paling cocok bagi mereka. “Tidak ada solusi sempurna yang cocok untuk semua negara bagian,” katanya.

Pendekatan itu juga jadi alasan mengapa beberapa negara bagian seperti Indiana dan Michigan kerap disebut dalam debat ini. Bagi Yates, kedua wilayah itu disebut lebih pas memakai waktu standar permanen. Tapi keputusan akhir, tegasnya, sebaiknya tetap berada di tangan negara bagian.

Soal keselamatan, pro dan kontra sama-sama tajam

Penentang daylight saving time permanen, termasuk Senator Tom Cotton, khawatir soal pagi musim dingin yang terlalu gelap. Cotton menyebut matahari terbit yang mundur akan mengganggu keselamatan dan kesejahteraan publik. Dalam cuplikan yang dibacakan dalam wawancara itu, ia menilai pagi musim dingin akan menjadi “terlalu absurd” bila jam dipertahankan seperti sekarang.

Cotton juga menyorot angka yang sering muncul dalam debat ini: 87 persen warga Amerika akan melihat matahari terbit setelah pukul 08.00 pada musim dingin jika daylight saving time permanen diterapkan.

Yates menepis kekhawatiran itu dengan merujuk riset lama. Ia mengatakan studi soal percobaan permanen daylight saving time pada 1974 tidak menunjukkan lonjakan besar kematian pejalan kaki. Ia justru berpendapat waktu terang yang lebih panjang di sore hari bisa menekan kecelakaan bagi pejalan kaki.

“Kalau Anda peduli keselamatan pejalan kaki, tidak ada keraguan bahwa daylight saving time permanen adalah pilihan yang lebih aman,” kata Yates.

Dampaknya ke sekolah, kerja, dan rutinitas harian

Di sinilah isu ini terasa langsung bagi masyarakat. Ketika pagi musim dingin jadi lebih gelap, jadwal sekolah dan kerja ikut terdorong ke kondisi yang kurang nyaman, terutama di wilayah pinggiran dan pedesaan. Anak-anak berangkat dalam gelap. Pekerja juga. Pulang pun gelap.

Bagi sebagian orang, problemnya bukan hanya terang atau gelap. Ini soal energi, kebiasaan, dan produktivitas. Sore yang masih terang berarti lebih banyak waktu untuk aktivitas luar ruang, olahraga, atau sekadar pulang kerja tanpa langsung berhadapan dengan malam.

Di AS, debat ini juga menyentuh soal peran negara bagian. Yates menyebut keputusan waktu permanen lebih tepat diserahkan ke masing-masing negara bagian setelah Kongres menghentikan perubahan jam dua kali setahun. Posisi itu ia gambarkan sebagai isu hak negara bagian, sesuatu yang menurutnya bahkan bisa disepakati oleh Senator Cotton.

Mitos soal petani masih hidup sampai sekarang

Di ujung wawancara, pembahasan bergeser ke sejarah kelahiran daylight saving time. Ada mitos lama yang bilang kebijakan ini lahir untuk membantu petani. Yates menyebut asal-usul anggapan itu justru datang dari seorang peritel di Boston, bukan dari kalangan pertanian.

Soal sejarah ini penting karena memperlihatkan satu hal: banyak argumen tentang jam musim panas bertahan lama meski dasarnya lemah. Perdebatan hari ini bukan cuma soal kebiasaan lama, tapi juga soal data, keselamatan, dan siapa yang paling menanggung dampaknya ketika jam diputar lagi.

Untuk saat ini, bola ada di Senat. Jika kamar atas ikut meloloskan rancangan itu, Amerika Serikat bisa mendekati perubahan besar yang selama ini cuma jadi wacana. Tapi bila mandek lagi, perubahan jam dua kali setahun bakal terus berjalan seperti biasa.

“Kalau kami bisa menghentikan perubahan jam ini, itu yang paling diinginkan orang,” kata Yates.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda