Kamis, 16 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

AS Dorong daylight saving time permanen, nasibnya kini di Senat

daylight saving time permanen di ruang sidang Kongres
Kongres AS mendorong daylight saving time permanen lewat Sunshine Protection Act. (Ilustrasi: AI)

Soal keselamatan, pro dan kontra sama-sama tajam

Penentang daylight saving time permanen, termasuk Senator Tom Cotton, khawatir soal pagi musim dingin yang terlalu gelap. Cotton menyebut matahari terbit yang mundur akan mengganggu keselamatan dan kesejahteraan publik. Dalam cuplikan yang dibacakan dalam wawancara itu, ia menilai pagi musim dingin akan menjadi “terlalu absurd” bila jam dipertahankan seperti sekarang.

Cotton juga menyorot angka yang sering muncul dalam debat ini: 87 persen warga Amerika akan melihat matahari terbit setelah pukul 08.00 pada musim dingin jika daylight saving time permanen diterapkan.

Yates menepis kekhawatiran itu dengan merujuk riset lama. Ia mengatakan studi soal percobaan permanen daylight saving time pada 1974 tidak menunjukkan lonjakan besar kematian pejalan kaki. Ia justru berpendapat waktu terang yang lebih panjang di sore hari bisa menekan kecelakaan bagi pejalan kaki.

“Kalau Anda peduli keselamatan pejalan kaki, tidak ada keraguan bahwa daylight saving time permanen adalah pilihan yang lebih aman,” kata Yates.

Dampaknya ke sekolah, kerja, dan rutinitas harian

Di sinilah isu ini terasa langsung bagi masyarakat. Ketika pagi musim dingin jadi lebih gelap, jadwal sekolah dan kerja ikut terdorong ke kondisi yang kurang nyaman, terutama di wilayah pinggiran dan pedesaan. Anak-anak berangkat dalam gelap. Pekerja juga. Pulang pun gelap.

Bagi sebagian orang, problemnya bukan hanya terang atau gelap. Ini soal energi, kebiasaan, dan produktivitas. Sore yang masih terang berarti lebih banyak waktu untuk aktivitas luar ruang, olahraga, atau sekadar pulang kerja tanpa langsung berhadapan dengan malam.

Di AS, debat ini juga menyentuh soal peran negara bagian. Yates menyebut keputusan waktu permanen lebih tepat diserahkan ke masing-masing negara bagian setelah Kongres menghentikan perubahan jam dua kali setahun. Posisi itu ia gambarkan sebagai isu hak negara bagian, sesuatu yang menurutnya bahkan bisa disepakati oleh Senator Cotton.

Mitos soal petani masih hidup sampai sekarang

Di ujung wawancara, pembahasan bergeser ke sejarah kelahiran daylight saving time. Ada mitos lama yang bilang kebijakan ini lahir untuk membantu petani. Yates menyebut asal-usul anggapan itu justru datang dari seorang peritel di Boston, bukan dari kalangan pertanian.

Soal sejarah ini penting karena memperlihatkan satu hal: banyak argumen tentang jam musim panas bertahan lama meski dasarnya lemah. Perdebatan hari ini bukan cuma soal kebiasaan lama, tapi juga soal data, keselamatan, dan siapa yang paling menanggung dampaknya ketika jam diputar lagi.

Untuk saat ini, bola ada di Senat. Jika kamar atas ikut meloloskan rancangan itu, Amerika Serikat bisa mendekati perubahan besar yang selama ini cuma jadi wacana. Tapi bila mandek lagi, perubahan jam dua kali setahun bakal terus berjalan seperti biasa.

“Kalau kami bisa menghentikan perubahan jam ini, itu yang paling diinginkan orang,” kata Yates.

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda