INDRAMAYU — Lucky Hakim menyatakan siap menjadi orang tua angkat bagi dua balita yang selamat dari kecelakaan maut di Jalur Pantura Indramayu. Pernyataan itu muncul setelah Bupati Indramayu tersebut mendatangi rumah duka dan menjenguk korban yang masih dirawat di rumah sakit, Rabu (15/7).
Lucky Hakim Siap Dampingi Dua Balita Korban Tragedi Pantura
Komitmen itu bukan sekadar ucapan belasungkawa. Lucky menegaskan bahwa pendampingan akan ia lakukan sesuai prosedur hukum yang berlaku, termasuk untuk memastikan masa depan dua balita itu tetap terjaga setelah kehilangan orang tua mereka dalam tragedi yang menewaskan 12 orang.
Dalam keterangan yang disampaikan usai kunjungan, Lucky menyebut duka yang timbul dari insiden tersebut bukan hanya milik keluarga korban, melainkan juga warga Indramayu. Nada suaranya terdengar berat saat ia menggambarkan kehilangan yang dialami para keluarga.
“Saya selaku Bupati Indramayu turut berduka atas kejadian ini. Seindah apa pun kata-kata yang disampaikan tidak akan mampu menggantikan rasa kehilangan keluarga korban,” ujarnya.
Di momen yang sama, pemerintah daerah juga menyerahkan santunan kepada keluarga korban. Bantuan itu menjadi bagian dari respons awal Pemkab Indramayu setelah peristiwa di Jalur Pantura yang menyisakan banyak pertanyaan soal keselamatan berkendara di jalur padat itu. Kecelakaan tersebut sebelumnya juga memicu perhatian publik karena korban jiwa terus bertambah seiring proses pendalaman aparat.
Apa arti langkah ini bagi keluarga korban
Bagi keluarga yang ditinggalkan, perhatian pemerintah daerah punya makna langsung. Dua balita yang selamat kini menghadapi fase paling rapuh dalam hidup mereka: masa pemulihan, proses kehilangan, dan kebutuhan pendampingan jangka panjang. Saat anak masih sangat kecil, perhatian fisik saja tidak cukup. Mereka juga butuh rasa aman, rutinitas, dan figur dewasa yang benar-benar hadir.
Di titik ini, pernyataan Lucky jadi penting karena membuka ruang perlindungan sosial yang lebih konkret. Jika proses adopsi atau pengangkatan anak berjalan sesuai aturan, negara daerah tidak berhenti pada santunan sekali datang. Ada tanggung jawab lanjutan. Ada administrasi. Ada pengawasan. Dan ada kewajiban memastikan hak anak tidak terputus di tengah duka keluarga.
Sumber dari Liputan6.com menyebut Lucky bahkan siap menjadi orang tua angkat bagi anak-anak korban secara menyeluruh, sementara JPNN menegaskan fokus utamanya ada pada dua balita yang kehilangan ibu mereka, yang disebut sebagai orang tua tunggal.
Dua sumber itu sejalan pada inti berita: pendampingan tidak berhenti di rumah duka, melainkan masuk ke pemulihan fisik dan psikologis anak-anak yang selamat.
Pantura kembali mengingatkan soal keselamatan jalan
Kasus ini juga menyorot Jalur Pantura Indramayu sebagai ruas yang tidak bisa dipandang ringan. Jalur ini padat kendaraan, sering dipakai mobil pribadi, angkutan umum, dan kendaraan barang. Begitu kecelakaan terjadi, dampaknya bisa berlapis: korban jiwa, keluarga kehilangan pencari nafkah, anak-anak kehilangan orang tua, lalu beban sosial berpindah ke pemerintah daerah.
Karena itu, respons Lucky Hakim punya bobot politik sekaligus kemanusiaan. Sebagai kepala daerah, ia tidak hanya hadir dalam suasana duka, tetapi juga menandai bahwa tragedi semacam ini menuntut tindak lanjut yang lebih rapi, mulai dari bantuan awal sampai penanganan anak korban.
Di lapangan, publik biasanya menunggu dua hal: simpati dan tindakan. Kali ini, Pemkab Indramayu mencoba menunjukkan keduanya.
Langkah berikutnya kini bergantung pada proses hukum dan administrasi pengangkatan anak. Jika benar dijalankan, pendampingan itu akan menjadi salah satu bentuk tanggung jawab publik yang paling nyata setelah tragedi di Pantura. Dan bagi keluarga korban, hal terpenting sekarang sederhana saja: ada yang tetap menjaga dua balita itu saat dunia mereka berubah dalam satu malam.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.