JAKARTA — single kedua Beabadoobee berjudul Switchblade resmi dirilis dan langsung mengarah ke album barunya yang paling dinanti, Pylon. Lagu ini datang sebagai jembatan penting sebelum album penuh itu meluncur, sambil membawa warna rock yang lebih gelap dan emosional.
Beabadoobee, penyanyi sekaligus penulis lagu kelahiran Filipina yang memiliki nama asli Beatrice Laus, memakai Switchblade untuk mengulik pertanyaan soal keberanian, pertahanan diri, dan pilihan antara melawan atau menghindar. Di bagian inti lagu, ia mempertanyakan, “self-defence is to be brave/Do you start the fight/Or take the flight?”
Lagu ini tidak memberi jawaban gamblang. Justru di situlah daya tariknya. Beabadoobee seolah mengajak pendengar masuk ke ruang yang penuh kebimbangan, tempat rasa takut, marah, dan rapuh saling bertabrakan tanpa harus diselesaikan dengan kesimpulan rapi.
Album Pylon dibangun dari emosi yang saling bertubrukan
Dalam keterangan yang dikutip dari bahan JPNN, Pylon disebut sebagai karya yang cakupannya lebih luas dan kompleks dibanding rilisan Beabadoobee sebelumnya. Album itu diarahkan sebagai album rock yang berani, dengan spektrum emosi yang lebar: marah, kesepian, gembira, tertekan, sampai jatuh cinta secara mendalam.
Yang menarik, semua emosi itu tidak dibingkai sebagai kekacauan semata. Beabadoobee justru memandangnya sebagai inti dari proses kreatifnya. Ia menyebut Pylon merayakan ketidaktahuan dan menunjukkan bahwa tetap tenang di tengah ketidakpastian bisa melahirkan sesuatu yang kuat, baik secara musikal maupun emosional.
“Pylon bercerita tentang menerima bahwa perasaan negatif akan kembali muncul, menerima rasa tidak aman dan kebingungan. Itu semua adalah bagian penting dari proses tumbuh dan mengenal diri sendiri lebih baik. Kita harus melewati semua hal itu, aku harus menulis tentang hal itu,” kata Beabadoobee.
Kenapa rilis single kedua ini penting
Buat industri musik, rilis single kedua seperti Switchblade biasanya punya fungsi yang lebih besar daripada sekadar pemanasan promosi. Lagu ini membantu pendengar menangkap arah album sebelum semua trek dirilis, sekaligus memberi sinyal tentang tema, warna suara, dan ambisi artistik yang dibawa sang musisi.
Di kasus Beabadoobee, sinyal itu cukup jelas. Ia tidak memilih jalur aman dengan lagu pop yang serba ringan. Ia justru mengedepankan material yang lebih mentah, lebih berlapis, dan lebih personal. Itu bisa memperkuat identitasnya di telinga pendengar lama, sekaligus menarik perhatian mereka yang mengikuti perkembangan rock alternatif modern.
Untuk pendengar di Indonesia, rilisan seperti ini juga relevan karena pasar musik kini cepat menangkap pergeseran arah seorang artis. Begitu satu single baru keluar, pembicaraan bisa langsung bergeser ke ekspektasi album, kemungkinan tur, sampai bagaimana album itu akan diterima di layanan streaming. Satu lagu. Efeknya panjang.
Switchblade menandai arah baru yang lebih berani
Switchblade memperlihatkan Beabadoobee sedang berada di fase yang tidak ingin sekadar mengulang formula lama. Ia memakai metafora yang tajam, tapi tetap membuka ruang tafsir. Pendengar tidak digiring ke satu makna tunggal, melainkan diajak membaca ulang pengalaman takut, bertahan, dan memilih langkah berikutnya.
Di tengah lanskap musik yang sering mengejar lagu singkat dan mudah dicerna, pendekatan seperti ini terasa menonjol. Ada ruang untuk lirik yang menyulitkan, ada ruang untuk emosi yang tidak beres-beres. Dan justru di situlah nilai Pylon mulai terbaca sejak sekarang.
JPNN menulis bahwa Switchblade menjadi lagu kedua dari album tersebut, yang menegaskan bahwa siklus menuju album penuh sudah berjalan. Tinggal menunggu bagaimana Beabadoobee merangkai keseluruhan cerita dalam Pylon, dan apakah materi berikutnya akan mempertajam arah rock yang sudah ia buka lewat single ini.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.