Kamis, 16 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Penangkapan bos penerbit di Vietnam terkait buku Ho Chi Minh

Penangkapan bos penerbit terkait buku Ho Chi Minh di Hanoi
Polisi Hanoi menangkap tiga pejabat penerbit terkait buku tentang Ho Chi Minh yang dipersoalkan pemerintah. (Ilustrasi: AI)

HANOI — penangkapan bos penerbit di Vietnam kembali menyorot ketatnya kontrol negara atas buku dan narasi sejarah. Polisi Hanoi pada Rabu, 16 Juli 2025, mengumumkan penahanan tiga pejabat Vietnam Writers’ Association Publishing House terkait buku kontroversial tentang Ho Chi Minh.

Ketiganya adalah direktur, pemimpin redaksi, dan kepala dewan redaksi penerbit itu. Mereka dituduh melanggar aturan pidana terkait pembuatan, penyimpanan, distribusi, atau penyebaran informasi yang dianggap melawan Republik Sosialis Vietnam.

Isi buku Ho Chi Minh yang dipersoalkan

Buku berjudul Stories with Thanh – A New Account of Light mengisahkan tahun-tahun Ho Chi Minh di luar negeri ketika ia mencari jalan untuk memicu pembebasan nasional di tanah air. Menurut otoritas, isi buku itu “mendistorsi sejarah” revolusi, kebijakan partai, dan garis besar negara.

Penerbit sudah menarik buku tersebut dari peredaran setelah mendapat tekanan dari pemerintah. Langkah itu muncul setelah penulisnya, mantan eksekutif telekomunikasi Nguyen Thanh Nam, lebih dulu ditangkap pada awal Juli dengan tuduhan anti-negara.

Seorang influencer yang mempromosikan buku itu di kanal media sosialnya juga ikut diamankan pada periode yang sama. Soal ini, aparat menilai promosi dan penyebaran buku ikut memperluas dampak dari konten yang dianggap menyimpang.

Kenapa penangkapan ini penting

Kasus ini menunjukkan bahwa di Vietnam, perkara buku sejarah tidak berhenti di meja editor. Ia bisa merembet ke ruang pidana. Bagi industri penerbitan, pesan yang terbaca sangat jelas: penerbit, penyunting, dan promotor memikul risiko hukum yang sama ketika pemerintah menilai sebuah karya menabrak garis resmi negara.

Dampaknya juga terasa ke pembaca. Buku yang menyentuh tokoh pendiri negara atau narasi perjuangan nasional bisa ditarik dari rak dengan cepat, sementara penulis dan penerbit menghadapi konsekuensi hukum berlapis. Dalam iklim seperti itu, ruang diskusi publik soal sejarah menjadi makin sempit.

Reuters melaporkan, polisi Hanoi menyebut ketiga pejabat penerbit itu terlibat dalam “editing, revising, publishing, and promoting” buku tersebut. Pernyataan itu mempertegas bahwa aparat tidak hanya mengejar penulis, tapi juga rantai produksi di belakangnya.

Gelombang penindakan terhadap buku dan promosi digital

Kasus ini juga menunjukkan bagaimana promosi di media sosial kini ikut masuk radar penegakan hukum. Satu unggahan yang mempopulerkan buku dapat dianggap memperbesar penyebaran materi yang dinilai bermasalah. Di situ letak taruhannya.

Untuk industri penerbitan, situasi seperti ini memaksa redaksi dan penerbit di Vietnam berhitung jauh lebih hati-hati sebelum mengangkat tema sejarah, politik, atau tokoh revolusi. Bukan cuma isi naskah yang diperiksa. Jalur distribusi, promosi, sampai komentar publik juga bisa disorot aparat.

Kasus Stories with Thanh kini menambah daftar panjang penindakan terhadap pihak-pihak yang dianggap menantang versi resmi sejarah Vietnam. Dan angka terakhirnya tidak kecil: tiga pejabat penerbit sudah ditangkap, menyusul penulis dan seorang influencer yang lebih dulu terseret perkara yang sama.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda