LONDON — percobaan pembunuhan yang dilakukan Dawood Safi, 28 tahun, di Uxbridge, London barat, berujung pada vonis juri di Southwark Crown Court. Pria yang bekerja sebagai pengemudi Uber itu dinyatakan bersalah mencoba membunuh landlord-nya, Shahzad Farrukh, setelah rangkaian penusukan brutal yang juga menewaskan Wayne Broadhurst pada Oktober lalu.
Di ruang sidang, Safi mengaku bersalah atas pembunuhan Broadhurst dengan dakwaan manslaughter karena kondisi tanggung jawab yang berkurang akibat gangguan psikotik. Tapi untuk serangan terhadap Farrukh, juri pada Kamis menyatakan dia bersalah atas percobaan pembunuhan. Putusan untuk tuduhan percobaan pembunuhan terhadap seorang remaja 14 tahun masih dalam pertimbangan.
Kronologi serangan yang berubah jadi pembantaian jalanan
Jaksa menggambarkan aksi Safi sebagai serangan yang kacau, tiba-tiba, dan tanpa provokasi. Menurut Jonathan Laidlaw KC, penuntut dalam perkara ini, Safi lebih dulu menyerang Farrukh dan bocah 14 tahun, lalu keluar ke jalan dan bertemu Broadhurst yang sedang berjalan bersama anjingnya.
Farrukh sempat melihat bayangan Safi di balik pintu kaca dapur rumahnya. Saat pintu dibuka, ia mendapati Safi membawa pisau dapur besar. Serangan pun terjadi seketika. “Dia melancarkan serangan tanpa peringatan terhadap Mr Farrukh, yang tidak bersenjata dan sama sekali tidak siap,” kata Laidlaw di persidangan.
Meski ditusuk di leher, Farrukh dan remaja itu berhasil menyelamatkan diri. Tetangga di Uxbridge ikut turun tangan mencoba menghentikan Safi. Situasi tak berhenti di sana. Saat insiden meluber ke jalan, Broadhurst menjadi korban berikutnya.
Broadhurst, 49 tahun, ditusuk 14 kali di kepala, leher, dada, dan punggung. Laidlaw menyebut penyerangan terhadap Broadhurst sebagai “serangan yang mengamuk, acak, dan sama sekali tak diprovokasi”. Korban akhirnya tewas di lokasi.
Gangguan mental, asylum, dan perdebatan di ruang sidang
Kasus ini jadi rumit karena unsur kesehatan mental Safi. Pengadilan mendengar bahwa empat ahli kesehatan mental menyimpulkan Safi mengalami “keruntuhan mental total” saat penusukan berlangsung. Jaksa juga menjelaskan bahwa saat itu Safi mendengar suara, tenggelam dalam paranoia, dan meyakini ada orang-orang yang mengendalikan serta merencanakan sesuatu terhadap dirinya.
Safi diketahui berasal dari Afghanistan. Ia masuk ke Inggris dengan truk pada 2020 dan mendapat suaka pada 2022. Dalam persidangan, terungkap ia sempat berbohong soal usianya ketika tiba di Inggris. Ia juga pernah mengatakan kepada psikiater bahwa ayahnya dibunuh Taliban dalam sengketa tanah ketika ia berusia 10 tahun. Jaksa menilai cerita itu tidak benar.
Pengadilan menempatkan latar belakang itu sebagai bagian dari upaya memahami kondisi mental Safi, bukan pembenaran atas serangan. Di banyak kasus kriminal di Inggris, pembuktian gangguan mental bisa mengubah arah dakwaan dari pembunuhan menjadi manslaughter, selama hakim atau juri menerima bahwa kapasitas berpikir terdakwa memang terganggu berat saat peristiwa terjadi.
Dampaknya buat proses hukum dan penanganan kesehatan mental
Kasus Safi menunjukkan betapa tipis batas antara kejahatan kekerasan dan persoalan kesehatan mental yang tidak tertangani. Bagi keluarga korban, perdebatan soal tanggung jawab berkurang sering terasa jauh dari rasa kehilangan. Keluarga Broadhurst bahkan disebut menginginkan Safi dihukum atas pembunuhan, bukan manslaughter.
Di sisi lain, putusan ini menegaskan bahwa pengadilan Inggris tetap membedakan niat kriminal murni dan tindakan dalam kondisi psikotik berat. Di sistem hukum seperti ini, bukti medis bisa mengubah jenis dakwaan, lama hukuman, dan tempat penahanan—apakah di penjara biasa atau fasilitas kesehatan jiwa yang aman.
Relevansinya besar. Banyak negara, termasuk Indonesia, masih berhadapan dengan persoalan serupa: bagaimana memastikan pelaku kekerasan yang mengalami gangguan jiwa tetap diproses secara adil, tanpa mengabaikan keselamatan publik.
Kasus seperti Safi memperlihatkan bahwa penanganan dini, asesmen medis yang akurat, dan pengawasan setelah diagnosis bukan sekadar urusan rumah sakit. Itu juga urusan keamanan warga di jalan, di rumah, dan di lingkungan terdekat.
Laidlaw menyebut Safi mengalami delusi dan paranoia yang berat pada saat kejadian. “Dia mendengar suara, dipenuhi kecurigaan, dan percaya keluarga serta orang-orang di sekitarnya mengendalikannya,” ujar Laidlaw di hadapan juri, sebelum pengadilan melanjutkan pertimbangan untuk tuduhan terhadap remaja 14 tahun.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.