Jumat, 17 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Statin dan demensia: Klaim obat kolesterol picu lupa tak terbukti

Ilustrasi statin dan demensia pada obat kolesterol dan laporan medis
Klaim yang mengaitkan statin dan demensia tidak didukung bukti ilmiah kuat, menurut sejumlah riset dan penjelasan ahli. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Klaim yang mengaitkan statin dan demensia ramai beredar di media sosial, padahal bukti ilmiah yang dihimpun DW Fact Check tidak menunjukkan obat penurun kolesterol itu meningkatkan risiko pikun, gangguan memori, atau penurunan fungsi kognitif.

Isu ini mencuat lagi setelah unggahan di Facebook, Bluesky, X, TikTok, dan platform lain menyebarkan kekhawatiran bahwa statin “menyebabkan” demensia. Padahal, lebih dari 200 juta orang di dunia memakai obat ini, sehingga satu klaim keliru saja bisa membuat banyak pasien ragu melanjutkan terapi yang diresepkan dokter.

Statin dan demensia: apa kata riset besar

DW Fact Check menelusuri klaim bahwa statin adalah “penyebab nomor satu” demensia. Hasilnya jelas: bukti terbaik yang tersedia tidak mendukung pernyataan itu.

Salah satu rujukan paling kuat datang dari Cholesterol Treatment Trialists’ Collaboration, kelompok riset yang dikoordinasikan Oxford Population Health, dan dipublikasikan di The Lancet pada awal 2026.

Peneliti menganalisis data lebih dari 123.000 peserta dalam 19 uji klinis acak, tersamar ganda, dan berskala besar. Tidak ada perbedaan laporan gangguan kognitif atau gangguan memori antara kelompok statin dan plasebo.

Sejumlah tinjauan sistematis dan meta-analisis lain sampai pada kesimpulan serupa. Pengguna statin tidak menunjukkan kenaikan risiko demensia. Bahkan, sebagian peneliti menilai obat ini bisa memberi dampak protektif pada jenis demensia tertentu, terutama yang berkaitan dengan pembuluh darah.

“Kami punya alasan untuk meyakini statin dapat membantu pada penyakit memori seperti demensia dan Alzheimer,” kata Dr. Wenzel Glanz, neurolog senior di memory clinic Universitätsmedizin Magdeburg sekaligus German Center for Neurodegenerative Diseases (DZNE) di Magdeburg, seperti dikutip DW.

Glanz menambahkan, kadar lemak darah yang tinggi justru merupakan faktor risiko demensia vaskular. Karena statin menurunkan lipid darah, ia menilai obat ini justru mungkin berperan positif terhadap kesehatan otak pada konteks tertentu.

Kenapa argumen itu terdengar masuk akal, tapi keliru

Meski begitu, klaim di internet sering terdengar meyakinkan karena mengambil potongan biologi yang benar, lalu menarik kesimpulan yang salah. Otak memang organ tubuh yang paling kaya kolesterol. Zat ini penting untuk membangun membran sel, membungkus serabut saraf dengan mielin, dan membantu komunikasi antarneuron.

Masalahnya, otak memproduksi hampir seluruh kolesterolnya sendiri. Ada penghalang darah-otak yang sangat selektif, sehingga kolesterol di aliran darah dan kolesterol di jaringan otak berada di “kolam” yang berbeda. Artinya, menurunkan LDL di darah tidak otomatis menguras kolesterol yang dipakai sel otak untuk bekerja.

“Kalau fungsi otak bergantung langsung pada perubahan kolesterol darah, manusia tak akan mampu menjaga fungsi otak yang stabil meski pola makan dan metabolisme berubah-ubah,” kata Ulrich Laufs, direktur Departemen Kardiologi Leipzig University Hospital, kepada DW. Ia menegaskan bahwa otak tidak hidup dari kolesterol darah yang naik-turun setiap hari.

Penjelasan ini penting karena banyak unggahan di media sosial memotong fakta biologis, lalu menjadikannya bukti seolah statin membahayakan sistem saraf. Padahal, hubungan yang terlihat sederhana di layar ponsel tidak bekerja sesederhana itu di tubuh manusia.

Peringatan FDA sering disalahpahami

Masih ada satu alasan mengapa kebingungan ini bertahan lama. Pada Februari 2012, Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat menambahkan peringatan label pada statin setelah menerima laporan memori hilang, bingung, dan pelupa dari sebagian pengguna.

Laporan semacam ini memang penting untuk pengawasan keamanan obat. Tapi laporan spontan dari pasien dan dokter tidak cukup untuk membuktikan sebab-akibat. Bisa jadi gejala muncul karena faktor lain, lalu kebetulan terjadi setelah obat diminum.

FDA sendiri menulis bahwa efek kognitif itu “umumnya tidak serius” dan membaik setelah obat dihentikan. Lembaga itu tidak menemukan bukti bahwa statin menyebabkan penurunan kognitif permanen atau penyakit seperti Alzheimer.

Di laman panduan obat kolesterol FDA yang berlaku saat ini, hilang ingatan juga tidak tercantum sebagai efek samping umum. Meski begitu, informasi pada label lama masih tersisa pada sebagian informasi resep, termasuk untuk rosuvastatin pada dokumen tertentu. Laufs menyebut label semacam itu kerap membingungkan pasien, apalagi ketika bukti baru sudah menunjukkan risiko itu tidak kuat.

“Sulit menghapus peringatan dari label setelah terlanjur dimasukkan, bahkan ketika bukti berikutnya menunjukkan peringatan itu tidak didukung,” ujarnya. “Itu masih jadi bahan diskusi.”

Dampaknya ke masyarakat jelas terasa. Di Indonesia, statin dipakai luas untuk menurunkan kolesterol pada pasien dengan risiko serangan jantung dan stroke.

Kalau pasien keburu takut lalu menghentikan obat tanpa konsultasi, risiko kardiovaskular bisa naik lagi, sementara manfaat pengendalian LDL yang selama ini dijaga dokter ikut hilang. Di titik ini, klaim liar di media sosial bukan cuma membuat orang cemas.

Ia bisa mengganggu kepatuhan minum obat yang menyelamatkan nyawa.

Glanz menegaskan tak ada bukti kuat bahwa statin mengganggu kerja otak, termasuk daya ingat dan konsentrasi. Sejumlah kasus individu memang pernah melaporkan gejala setelah mulai minum statin, tetapi gejala itu bersifat sementara dan tidak cukup untuk membalikkan temuan riset besar yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Johns Hopkins Medicine mencatat lebih dari 200 juta orang di dunia menggunakan statin. Di tengah angka sebesar itu, satu studi besar yang melibatkan 123.000 peserta dan tidak menemukan perbedaan gangguan kognitif jauh lebih kuat dibanding unggahan viral yang hanya beredar tanpa konteks.

Sampai titik ini, data ilmiah masih menempatkan statin sebagai obat kolesterol yang bermanfaat, bukan pemicu demensia.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda