JAKARTA — Klaim yang mengaitkan statin dan demensia ramai beredar di media sosial, padahal bukti ilmiah yang dihimpun DW Fact Check tidak menunjukkan obat penurun kolesterol itu meningkatkan risiko pikun, gangguan memori, atau penurunan fungsi kognitif.
Isu ini mencuat lagi setelah unggahan di Facebook, Bluesky, X, TikTok, dan platform lain menyebarkan kekhawatiran bahwa statin “menyebabkan” demensia. Padahal, lebih dari 200 juta orang di dunia memakai obat ini, sehingga satu klaim keliru saja bisa membuat banyak pasien ragu melanjutkan terapi yang diresepkan dokter.
Statin dan demensia: apa kata riset besar
DW Fact Check menelusuri klaim bahwa statin adalah “penyebab nomor satu” demensia. Hasilnya jelas: bukti terbaik yang tersedia tidak mendukung pernyataan itu.
Salah satu rujukan paling kuat datang dari Cholesterol Treatment Trialists’ Collaboration, kelompok riset yang dikoordinasikan Oxford Population Health, dan dipublikasikan di The Lancet pada awal 2026.
Peneliti menganalisis data lebih dari 123.000 peserta dalam 19 uji klinis acak, tersamar ganda, dan berskala besar. Tidak ada perbedaan laporan gangguan kognitif atau gangguan memori antara kelompok statin dan plasebo.
Sejumlah tinjauan sistematis dan meta-analisis lain sampai pada kesimpulan serupa. Pengguna statin tidak menunjukkan kenaikan risiko demensia. Bahkan, sebagian peneliti menilai obat ini bisa memberi dampak protektif pada jenis demensia tertentu, terutama yang berkaitan dengan pembuluh darah.
“Kami punya alasan untuk meyakini statin dapat membantu pada penyakit memori seperti demensia dan Alzheimer,” kata Dr. Wenzel Glanz, neurolog senior di memory clinic Universitätsmedizin Magdeburg sekaligus German Center for Neurodegenerative Diseases (DZNE) di Magdeburg, seperti dikutip DW.
Glanz menambahkan, kadar lemak darah yang tinggi justru merupakan faktor risiko demensia vaskular. Karena statin menurunkan lipid darah, ia menilai obat ini justru mungkin berperan positif terhadap kesehatan otak pada konteks tertentu.
Kenapa argumen itu terdengar masuk akal, tapi keliru
Meski begitu, klaim di internet sering terdengar meyakinkan karena mengambil potongan biologi yang benar, lalu menarik kesimpulan yang salah. Otak memang organ tubuh yang paling kaya kolesterol. Zat ini penting untuk membangun membran sel, membungkus serabut saraf dengan mielin, dan membantu komunikasi antarneuron.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.