Jumat, 17 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Statin dan demensia: Klaim obat kolesterol picu lupa tak terbukti

Ilustrasi statin dan demensia pada obat kolesterol dan laporan medis
Klaim yang mengaitkan statin dan demensia tidak didukung bukti ilmiah kuat, menurut sejumlah riset dan penjelasan ahli. (Ilustrasi: AI)

Masalahnya, otak memproduksi hampir seluruh kolesterolnya sendiri. Ada penghalang darah-otak yang sangat selektif, sehingga kolesterol di aliran darah dan kolesterol di jaringan otak berada di “kolam” yang berbeda. Artinya, menurunkan LDL di darah tidak otomatis menguras kolesterol yang dipakai sel otak untuk bekerja.

“Kalau fungsi otak bergantung langsung pada perubahan kolesterol darah, manusia tak akan mampu menjaga fungsi otak yang stabil meski pola makan dan metabolisme berubah-ubah,” kata Ulrich Laufs, direktur Departemen Kardiologi Leipzig University Hospital, kepada DW. Ia menegaskan bahwa otak tidak hidup dari kolesterol darah yang naik-turun setiap hari.

Penjelasan ini penting karena banyak unggahan di media sosial memotong fakta biologis, lalu menjadikannya bukti seolah statin membahayakan sistem saraf. Padahal, hubungan yang terlihat sederhana di layar ponsel tidak bekerja sesederhana itu di tubuh manusia.

Peringatan FDA sering disalahpahami

Masih ada satu alasan mengapa kebingungan ini bertahan lama. Pada Februari 2012, Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat menambahkan peringatan label pada statin setelah menerima laporan memori hilang, bingung, dan pelupa dari sebagian pengguna.

Laporan semacam ini memang penting untuk pengawasan keamanan obat. Tapi laporan spontan dari pasien dan dokter tidak cukup untuk membuktikan sebab-akibat. Bisa jadi gejala muncul karena faktor lain, lalu kebetulan terjadi setelah obat diminum.

FDA sendiri menulis bahwa efek kognitif itu “umumnya tidak serius” dan membaik setelah obat dihentikan. Lembaga itu tidak menemukan bukti bahwa statin menyebabkan penurunan kognitif permanen atau penyakit seperti Alzheimer.

Di laman panduan obat kolesterol FDA yang berlaku saat ini, hilang ingatan juga tidak tercantum sebagai efek samping umum. Meski begitu, informasi pada label lama masih tersisa pada sebagian informasi resep, termasuk untuk rosuvastatin pada dokumen tertentu. Laufs menyebut label semacam itu kerap membingungkan pasien, apalagi ketika bukti baru sudah menunjukkan risiko itu tidak kuat.

“Sulit menghapus peringatan dari label setelah terlanjur dimasukkan, bahkan ketika bukti berikutnya menunjukkan peringatan itu tidak didukung,” ujarnya. “Itu masih jadi bahan diskusi.”

Dampaknya ke masyarakat jelas terasa. Di Indonesia, statin dipakai luas untuk menurunkan kolesterol pada pasien dengan risiko serangan jantung dan stroke.

Kalau pasien keburu takut lalu menghentikan obat tanpa konsultasi, risiko kardiovaskular bisa naik lagi, sementara manfaat pengendalian LDL yang selama ini dijaga dokter ikut hilang. Di titik ini, klaim liar di media sosial bukan cuma membuat orang cemas.

Ia bisa mengganggu kepatuhan minum obat yang menyelamatkan nyawa.

Glanz menegaskan tak ada bukti kuat bahwa statin mengganggu kerja otak, termasuk daya ingat dan konsentrasi. Sejumlah kasus individu memang pernah melaporkan gejala setelah mulai minum statin, tetapi gejala itu bersifat sementara dan tidak cukup untuk membalikkan temuan riset besar yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Johns Hopkins Medicine mencatat lebih dari 200 juta orang di dunia menggunakan statin. Di tengah angka sebesar itu, satu studi besar yang melibatkan 123.000 peserta dan tidak menemukan perbedaan gangguan kognitif jauh lebih kuat dibanding unggahan viral yang hanya beredar tanpa konteks.

Sampai titik ini, data ilmiah masih menempatkan statin sebagai obat kolesterol yang bermanfaat, bukan pemicu demensia.

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda