EAST RUTHERFORD — Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2026. Di New York/New Jersey Stadium (MetLife), La Roja menekuk Argentina 1-0 lewat gol tunggal Ferran Torres pada menit 106, tepat di paruh pertama perpanjangan waktu. Trofi kedua sepanjang sejarah sepak bola Spanyol pun resmi datang, enam belas tahun setelah gelar perdana di Afrika Selatan 2010.
Laga yang berlangsung Senin dini hari WIB itu — dan diikuti jutaan penonton Indonesia lewat siaran serta streaming final — berjalan alot. Sembilan puluh menit waktu normal berakhir tanpa gol, sebelum satu momen di kotak penalti Argentina mengubah segalanya. Bagi Argentina, kekalahan ini menutup ambisi mempertahankan gelar juara dunia yang mereka rebut di Qatar 2022 — sebuah back-to-back yang terakhir kali terjadi lewat Brasil pada 1958 dan 1962.
⚽ Baca juga: Piala Dunia 2026 — Bagan, Jadwal Hari Ini & Klasemen Live
Gol Ferran Torres yang menentukan
Kebuntuan pecah di menit 106. Umpan silang dalam Spanyol melayang melewati kerumunan pemain di kotak penalti, Nico Williams menyambut di tiang jauh dan menyundulnya ke bawah, lalu Ferran Torres menyelesaikan bola liar itu dengan sepakan kaki kiri ke tengah atas gawang. Emiliano Martínez, yang sepanjang malam menjadi tembok Argentina, kali ini tak sanggup menjangkau.
Gol itu tak lahir dari kebetulan. Luis de la Fuente lebih dulu memasukkan Torres menggantikan Mikel Oyarzabal di babak kedua, menambah tenaga segar di lini depan yang terus menggedor. Ketika Spanyol akhirnya menemukan celah, Torres berada di tempat yang tepat pada saat yang paling menentukan dalam kariernya.
| Ringkasan Final Piala Dunia 2026 | Keterangan |
|---|---|
| Skor akhir | Spanyol 1-0 Argentina |
| Pencetak gol | Ferran Torres 106′ (assist Nico Williams) |
| Kartu merah | Enzo Fernández (Argentina) — kuning kedua, injury time babak kedua |
| Stadion | New York/New Jersey Stadium (MetLife), East Rutherford |
| Wasit | Slavko Vinčić (Slovenia) |
| Hasil | Juara dunia ke-2 Spanyol (setelah 2010) |
Kartu merah Enzo mengubah keseimbangan
Titik balik lain terjadi sebelum perpanjangan waktu. Di masa tambahan babak kedua, Enzo Fernández menerima kartu kuning kedua usai tekel telat pada Pau Cubarsí. Argentina harus bermain dengan sepuluh orang — kartu merah pertama di sebuah final Piala Dunia sejak 2010.
Lionel Scaloni langsung menyesuaikan. Ia menarik Julián Álvarez dan memasukkan bek Marcos Senesi untuk merapatkan pertahanan, menyisakan Lionel Messi nyaris sendirian sebagai muara serangan. Argentina bertahan dengan disiplin, tetapi keunggulan jumlah pemain perlahan menggerus daya tahan mereka saat laga menembus 120 menit.
Sebelum gol Torres, Spanyol sempat mengira sudah unggul. Di awal perpanjangan, Nico Williams menceploskan bola hasil rebound dari Martínez, namun wasit Vinčić menganulirnya karena menilai Mikel Merino menginjak kaki Nicolás Otamendi dalam proses build-up. Keputusan itu memicu protes, tetapi tetap berdiri.
Spanyol menguasai, Argentina menanti
Statistik lapangan berpihak pada Spanyol. Anak asuh De la Fuente mendominasi penguasaan bola dan menciptakan mayoritas peluang, sementara Argentina nyaris tak melepaskan tembakan tepat sasaran sepanjang waktu normal. Lamine Yamal, Pedri, Merino, dan Williams bergantian menekan; jawabannya selalu berupa penyelamatan Martínez.
Ini bukan final yang cantik. Ini final yang keras — penuh tekel, adu argumen, dan kesabaran satu tim menunggu lawannya lengah. De la Fuente bahkan berani melempar dua nama yang belum bermain semenit pun di turnamen ini, Martín Zubimendi dan Eric García, ke tengah tekanan final untuk menjaga stabilitas di sisa perpanjangan.
Jalur kedua tim menuju MetLife
Spanyol melenggang ke final setelah menyingkirkan Prancis 2-0 di semifinal, meneruskan rekor pertahanan mereka yang nyaris tanpa cela sepanjang turnamen. Argentina menembus partai puncak lewat drama comeback 2-1 atas Inggris. Di perebutan tempat ketiga sehari sebelumnya, Prancis mengalahkan Inggris dalam laga gila berkesudahan 6-4.
| Babak | Hasil |
|---|---|
| Semifinal | Spanyol 2-0 Prancis |
| Semifinal | Argentina 2-1 Inggris |
| Perebutan tempat ketiga | Prancis 6-4 Inggris |
| Final | Spanyol 1-0 Argentina |
Final ini juga menandai pertemuan pertama Spanyol dan Argentina di Piala Dunia sejak 1990. Dua raksasa dengan filosofi berlawanan — penguasaan bola rapi khas Spanyol melawan kelihaian Argentina di momen krusial — akhirnya bertemu di panggung tertinggi, dan malam ini milik La Roja.
Sepatu Emas: Mbappe di puncak, Messi menyusul
Meski Prancis tersingkir di semifinal, Kylian Mbappe menutup turnamen sebagai pencetak gol terbanyak dengan 10 gol dan 4 assist, mengunci penghargaan Sepatu Emas Piala Dunia 2026. Lionel Messi finis sebagai runner-up daftar top skor dengan 8 gol, disusul Jude Bellingham dan Erling Haaland yang sama-sama mengemas 7 gol.
| # | Pemain | Negara | Gol | Assist |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Kylian Mbappe | Prancis | 10 | 4 |
| 2 | Lionel Messi | Argentina | 8 | 4 |
| 3 | Jude Bellingham | Inggris | 7 | 1 |
| 4 | Erling Haaland | Norwegia | 7 | 0 |
| 5 | Ousmane Dembele | Prancis | 6 | 2 |
| 6 | Harry Kane | Inggris | 6 | 1 |
Bagi Messi, turnamen ini menjadi penampilan Piala Dunia terakhirnya dengan level produktivitas yang tetap tinggi di usia 39 tahun. Namun trofi yang paling ia inginkan untuk mengulang kejayaan Qatar harus berpindah ke tangan generasi baru Spanyol yang dipimpin Yamal, Pedri, dan Torres.
Gelar ini juga menjadi puncak kerja panjang Luis de la Fuente, pelatih yang naik dari tim junior Spanyol dan kini menuntaskannya di level tertinggi. Ia mewarisi generasi emas baru — Lamine Yamal yang baru 19 tahun, Pedri sang metronom lini tengah, hingga Nico Williams dan Ferran Torres yang bergantian menjadi pembeda. Bagi Spanyol, ini bukan sekadar trofi, melainkan penegasan bahwa filosofi penguasaan bola mereka masih relevan di sepak bola modern.
Di sisi lain lapangan, Argentina meninggalkan MetLife dengan kepala tertunduk namun terhormat. Bermain hampir setengah jam dengan sepuluh orang, mereka menahan gempuran Spanyol hingga menit-menit akhir sebelum akhirnya menyerah. Lionel Scaloni tetap membangun tim yang kompetitif empat tahun setelah kejayaan Qatar, dan Messi — di kemungkinan Piala Dunia terakhirnya — pergi sebagai salah satu pencetak gol tersubur turnamen. Estafet kini berpindah, tetapi jejak generasi Argentina itu tak terhapus.
Spanyol kini berdiri sejajar dengan negara-negara yang pernah mengangkat trofi Piala Dunia lebih dari sekali, menegaskan bahwa gelar 2010 bukanlah puncak yang berdiri sendiri. Dari Johannesburg ke New Jersey, La Roja menuntaskan lingkaran itu dengan cara yang paling dramatis: satu gol, di menit 106, lewat kaki kiri Ferran Torres.
