Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Kenapa Banyak Mahasiswa Pintar Justru Tidak Percaya Diri?

Kenapa Banyak Mahasiswa Pintar Justru Tidak Percaya Diri?
Kenapa Banyak Mahasiswa Pintar Justru Tidak Percaya Diri?

JAKARTA — Nilai bagus di setiap ujian. Mampu menjelaskan materi rumit kepada teman. Tapi saat diminta presentasi atau tampil di depan kelas, langsung mundur dengan alasan “Aku belum cukup pintar.”

Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Banyak mahasiswa dengan kemampuan akademik solid justru dilanda keraguan diri yang kuat—mereka lebih sibuk melihat kekurangan daripada prestasi yang sudah diraih. Kondisi ini ternyata punya nama: imposter syndrome.

Perbandingan Sosial Memicu Rasa Tertinggal

Di era media sosial, kita lebih sering melihat kesuksesan orang lain daripada proses kerja keras di baliknya. Hasilnya, mahasiswa merasa tertinggal sekalipun prestasi mereka sebenarnya solid. Padahal setiap orang punya waktu dan perjalanan yang berbeda.

Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain menjadi salah satu pemicu utama hilangnya kepercayaan diri. Apa yang terlihat di timeline Instagram adalah puncak gunung es—tidak terlihat usaha, kegagalan, atau malam tanpa tidur yang mendahului kesuksesan itu.

Tekanan Akademik Memaksa Kesempurnaan

Sistem pendidikan juga turut andil. Tuntutan nilai tinggi, aktif organisasi, mengikuti lomba, mengumpulkan prestasi—semuanya bergabung menjadi beban psikologis. Sekali melakukan kesalahan, mahasiswa langsung meragukan kompetensi diri sendiri.

Lingkungan akademik yang kompetitif ini menciptakan standar kesempurnaan yang tidak realistis. Seolah-olah tidak ada ruang untuk belajar dari kegagalan atau mengakui bahwa “belum bisa” adalah bagian normal dari proses pertumbuhan.

Imposter Syndrome: Ketika Kesuksesan Tidak Terasa Milik Sendiri

Imposter syndrome adalah kondisi ketika seseorang merasa tidak pantas atas keberhasilan yang dicapai. Mereka menganggap keberhasilan hanya hasil keberuntungan, bukan kerja keras. Padahal data menunjukkan mereka sudah berusaha, belajar, dan berjuang untuk apa yang diraih.

Menurut Angel Ruth Silalahi, mahasiswi Universitas HKBP Nomensen Pematangsiantar Prodi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris, yang sering menghambat seseorang “bukanlah kurangnya kemampuan, melainkan kurangnya kepercayaan terhadap dirinya sendiri.”

Definisi Percaya Diri yang Sebenarnya

Banyak yang keliru mengira percaya diri berarti merasa paling hebat atau tidak boleh punya kelemahan. Padahal percaya diri adalah kemampuan untuk mengakui kekurangan, namun tetap yakin mampu terus belajar dan berkembang.

Ini perbedaan penting. Percaya diri bukan soal kesempurnaan, melainkan kepastian bahwa kita bisa tumbuh dari ketidaksempurnaan itu.

Strategi Sederhana: Bandingkan dengan Diri Sendiri

Daripada terus membandingkan dengan orang lain, bandingkan diri dengan versi diri di masa lalu. Apakah hari ini kita lebih baik dari kemarin? Apakah pemahaman kita sudah berkembang? Apakah keberanian kita tumbuh? Jika jawabannya iya, berarti pertumbuhan sedang terjadi.

Pertumbuhan tidak harus spektakuler atau terlihat di media sosial. Bisa jadi sesederhananya berani mengangkat tangan di kelas saat belum memahami materi sepenuhnya, atau mencoba presentasi meski masih gugup. Itu sudah prestasi.

Tidak Semua Harus Juara Kelas untuk Sukses

Setiap mahasiswa punya potensi berbeda. Tidak semua orang harus menjadi yang terbaik di kelas untuk berhasil di masa depan. Yang lebih penting adalah terus belajar, berani mencoba, dan tidak takut gagal—karena kegagalan adalah guru terbaik.

Pesan terakhir ini sederhana tapi kuat: “Kamu tidak harus sempurna untuk menjadi berharga. Teruslah melangkah, sekecil apa pun itu. Kamu hebat dengan caramu sendiri.”

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda