Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

FIFA Panen Cuan di Piala Dunia 2026, tapi Komersialisasi Dikritik Fans

FIFA Panen Cuan di Piala Dunia 2026, tapi Komersialisasi Dikritik Fans
Foto: mediaindonesia.com

Pesta sepak bola dunia baru saja usai dengan Spanyol keluar sebagai kampiun usai menundukkan Argentina 1-0. Piala Dunia 2026 mencatatkan diri sebagai edisi paling masif dalam sejarah, namun euforia di atas lapangan berbanding terbalik dengan kekecewaan penggemar terhadap sisi bisnis FIFA yang dianggap terlalu agresif.

Rekor Penonton dan Lonjakan Pendapatan

Data Bloomberg menunjukkan lebih dari 15 juta orang memadati stadion dan area festival selama turnamen berlangsung. Angka ini menegaskan status Piala Dunia 2026 sebagai perhelatan terbesar berdasarkan jumlah penonton. Kesuksesan operasional ini turut mendongkrak pundi-pundi keuangan FIFA.

Awalnya, organisasi sepak bola dunia tersebut memproyeksikan pendapatan sekitar USD 9 miliar. Namun, efektivitas komersialisasi di lapangan membuat FIFA kini menargetkan peningkatan ekspektasi pendapatan hingga USD 2 miliar dari proyeksi awal.

Meski angka fantastis tercapai, format baru 48 tim yang menyajikan 104 pertandingan dalam 39 hari menuai kritik terkait kesejahteraan pemain. Jadwal yang sangat padat memaksa para atlet bertanding di tengah kelelahan ekstrem, sementara di luar lapangan, sistem tiket menjadi sorotan tajam.

Polemik Harga Tiket Dinamis

FIFA memperkenalkan sistem harga tiket dinamis yang secara otomatis menyesuaikan biaya berdasarkan permintaan waktu nyata. Kebijakan ini memicu lonjakan harga ke level tertinggi yang pernah ada. Penggemar dari Nashville, Asad Hussain, secara terbuka mengungkapkan keresahannya.

Ia menyebut kombinasi penetapan harga dinamis serta kerumitan masalah visa dan tiket membuat akses untuk menonton pertandingan langsung menjadi sangat sulit bagi banyak pihak.

Obsesi FIFA terhadap keuntungan finansial terlihat dari cara-cara kreatif mereka menghasilkan uang. FIFA tidak hanya mengambil porsi dari penjualan makanan dan minuman di stadion, tetapi juga merambah ke pasar memorabilia unik.

Salah satunya adalah penjualan potongan rumput lapangan final Spanyol-Argentina yang diawetkan dalam resin dan dipaketkan bersama trofi kaca kristal seharga USD 3 ribu per unit.

Hydration Break dan Celah Iklan

Salah satu poin kritik paling keras dari penggemar adalah penerapan hydration break. FIFA mengeklaim jeda minum ini penting untuk kesejahteraan pemain di tengah suhu musim panas yang menyengat. Namun, publik mencium adanya agenda komersial di baliknya. Jeda tersebut membuka slot iklan tambahan bagi penyiar resmi seperti Fox di Amerika Serikat.

Slot iklan 30 detik pada ajang ini dibanderol mulai dari USD 250 ribu hingga USD 750 ribu. Dengan adanya dua kali hydration break per pertandingan, penyiar mendapatkan tambahan 8 slot iklan per laga atau total 832 slot di seluruh turnamen.

Estimasi menunjukkan inventaris iklan tambahan ini berpotensi meraup pendapatan hingga mendekati USD 500 juta.

Hal ini diprediksi akan menjadi standar baru yang meningkatkan nilai jual hak siar untuk turnamen-turnamen mendatang, sekaligus mengonfirmasi kekhawatiran banyak pihak bahwa kenyamanan penonton kini berada di bawah bayang-bayang kebutuhan profit organisasi.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda