JAKARTA — pitch Spotlight yang dibagikan Pauline Hanson memicu perhatian karena dokumen itu mendorong program Seven untuk menyorot apa yang disebut sebagai “uncontrolled immigration” atau imigrasi tak terkendali. Dalam pitch itu, produser Seven bahkan disebut mendorong Hanson terbang ke Inggris untuk bertemu Nigel Farage dan merekam edisi khusus Spotlight.
Bahan promosi internal yang diunggah Hanson ke media sosial itu juga menyiratkan Seven bisa membantu sebagian biaya perjalanan Hanson dan timnya. Di dalam email, program current affairs itu memakai frasa “uncontrolled immigration” tujuh kali, sambil menegaskan mereka punya fakta yang menjadi “the backbone of our story”.
Pitch Spotlight Seven dan pesan yang dibawanya
Menurut pitch yang diposting Hanson di Facebook pada Senin, senior producer Luke Mortimer mengatakan program tersebut akan “illustrate the strain uncontrolled immigration is placing on our infrastructure” dan menunjukkan apa yang menurutnya sedang dihadapi Australia “if we don’t take back control of who comes to our country”.
Mortimer juga menulis bahwa pemilih di Britania melihat gambar kapal-kapal penuh migran, sering kali pria muda dari Timur Tengah dan Afrika, menyeberangi Channel Inggris. Ia menambahkan bahwa mereka juga melihat kota-kota pesisir berubah menjadi kamp bagi orang-orang yang mengklaim status pengungsi.
Seven kemudian mengonfirmasi bahwa email itu memang pitch untuk Spotlight. Tapi stasiun televisi itu menjauhkan diri dari isi email yang bocor itu dan menyebutnya hanya satu dari ratusan komunikasi antara Seven dan tim Hanson menjelang tayangnya program.
Seven juga membantah membayar perjalanan Hanson ke Inggris. Dalam email, Mortimer memang menulis, “We can discuss travel arrangements,” yang membuat kesan bahwa urusan perjalanan masih bisa dibicarakan, tetapi Seven menegaskan tidak ada pembayaran perjalanan dari pihaknya.
Kenapa isi pitch ini jadi soal
Yang membuat kisah ini menonjol bukan cuma pertemuan Hanson dengan tokoh sayap kanan Inggris, melainkan nada yang dipakai dalam pitch resmi program berita. Saat sebuah program current affairs ikut mengulang bahasa aktivis anti-imigrasi, batas antara peliputan dan dukungan pandangan politik jadi ikut dipertanyakan.
Bagi penonton, ini penting karena Spotlight bukan sekadar tayangan ringan. Program seperti ini dibaca sebagai jurnalisme investigatif yang punya bobot, jadi bahasa yang dipakai di tahap perencanaan ikut menentukan apakah hasil akhirnya terlihat berimbang atau malah condong sejak awal.
Di Australia, perdebatan soal migrasi memang sensitif, dan pilihan kata bisa langsung memengaruhi cara publik membaca isu itu.
Dalam pitch yang sama, Mortimer menyebut angka-angka yang menurut program menunjukkan banyak warga Australia sudah keberatan dengan tingkat migrasi.
Ia menulis, “Many Australians would be shocked to know our figures are already further down the line – 38.1% of Greater Sydney was born overseas,” lalu menambahkan bahwa wilayah dewan seperti Strathfield memiliki hampir 60% penduduk yang lahir di luar negeri.
Program itu juga mengusulkan perjalanan ke kota pesisir Bournemouth di Inggris. Seven menyebut kota itu mengalami lonjakan lebih dari 50% penduduk kelahiran luar negeri dan ribuan di antaranya ditempatkan di hotel dengan biaya pembayar pajak. Namun, rencana yang tayang kemudian tidak persis seperti itu.
Dari Bournemouth ke Luton, lalu ke layar
Alih-alih Bournemouth, program justru merekam Hanson dan Tommy Robinson berjalan di Luton, sekitar 50 kilometer di utara London. Kota itu memiliki populasi Muslim yang signifikan. Di sana, Hanson mengatakan di depan kamera, “I hate seeing the burqa,” lalu melanjutkan, “These women covered up, I can’t stand it … I don’t want this happening in Australia.”
Liam Bartlett juga menekan Hanson soal pandangannya terhadap konsep deportasi massal. Hanson menjawab, “Oh, I love it,” lalu menegaskan bahwa yang ia maksud adalah “the ones who are here illegally in the country”.
Spotlight sendiri menampilkan wawancara yang lebih luas, termasuk pertanyaan Bartlett tentang alasan Hanson bertemu Tommy Robinson, yang punya vonis pidana kekerasan dan dianggap terlalu ekstrem bahkan untuk Nigel Farage dan partai Reform UK.
Bartlett mengatakan Hanson seharusnya bertemu Farage, tetapi rencana itu berubah setelah Farage mengundurkan diri dari parlemen Inggris dan memicu pemilihan sela di tengah sorotan atas urusan keuangan.
Perdebatan di Australia pun ikut melebar ke ranah politik. Barnaby Joyce membela keputusan Hanson menemui Robinson saat tampil di ABC’s 7.30 pada Senin malam.
Saat ditanya soal komentar Hanson tentang Muslim, Joyce mengakui Robinson pernah melakukan “some things” yang “basically against the law”, namun menegaskan Hanson tidak sedang membenarkan semua tindakan Robinson. “I don’t think that was ever said,” kata Joyce.
Seven pada akhirnya tetap mengeklaim Spotlight sudah menghasilkan jurnalisme yang berimbang.
“Spotlight is proud to have produced a balanced piece of journalism which fairly quizzed Senator Hanson but also allowed her views to be explored and heard in a high-rating special and we thank Senator Hanson for her candid access,” kata juru bicara Seven.
Di saat yang sama, frasa “uncontrolled immigration” tetap tercatat muncul tujuh kali dalam pitch yang diposting Hanson.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.