Jumat, 24 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

IHSG Melesat 20 Persen dari Level Terendah Juni, Ini Sederet Pemicunya

Grafik tren kenaikan indeks harga saham gabungan di layar trading
IHSG mencatatkan penguatan signifikan pada Juli 2026 didorong oleh sektor komoditas dan kebijakan fiskal. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal pemulihan signifikan dengan mencatatkan lonjakan 20 persen sejak mencapai titik terendahnya pada awal Juni. Penguatan indeks yang terjadi pada Kamis, 23 Juli ini menempatkan pasar saham Indonesia dalam jalur menuju fase bull market.

Kenaikan IHSG sebesar 1,5 persen pada perdagangan Kamis tersebut didorong oleh pergeseran strategi investor yang kini melirik kembali saham-saham tertinggal. Laporan Bloomberg menyebutkan, emiten berkapitalisasi besar di sektor komoditas menjadi motor utama penguatan indeks kali ini.

PT Amman Mineral Internasional dan PT Barito Renewables Energy tercatat sebagai kontributor terbesar terhadap reli pasar modal domestik.

Sentimen Pemulihan Kepercayaan

Membaiknya kinerja pasar modal Indonesia tidak lepas dari langkah strategis otoritas. Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen pada Rabu, 22 Juli, sembari meluncurkan insentif untuk menarik aliran modal masuk dan memperkuat rupiah.

Stabilitas fiskal turut menjadi sorotan, terutama setelah pemerintah meningkatkan disiplin fiskal dan menyesuaikan skala program makan siang gratis.

Mohit Mirpuri, partner di SGMC Capital Pte, Singapura, menilai level terendah pada 8 Juni akan bertahan. Pasar saat ini menurutnya lebih memperhitungkan stabilitas dibandingkan potensi pemburukan ekonomi. Kepercayaan investor juga terbantu oleh keputusan S&P Global Ratings yang tetap mempertahankan peringkat serta prospek kredit Indonesia.

Secara teknikal, rupiah menguat lebih dari 1 persen dibandingkan level terendahnya di awal Juni. Sementara itu, imbal hasil surat utang negara tenor 10 tahun juga melandai lebih dari 10 basis poin dari rekor tertinggi tiga tahun yang sempat dicapai bulan lalu.

Tantangan Keberlanjutan Pasar

Meskipun reli ini mencatatkan kenaikan 14 persen sepanjang bulan ini dan mengungguli berbagai indeks acuan global, kekhawatiran mengenai arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto masih membayangi. IHSG sendiri masih mencatatkan penurunan sekitar 26 persen sepanjang tahun berjalan. Ketidakpastian mengenai transparansi pasar juga memicu kehati-hatian di kalangan manajer investasi global.

MSCI Inc. dijadwalkan mengambil keputusan final pada November mendatang mengenai kemungkinan penyesuaian status pasar saham Indonesia menjadi frontier market atau pasar perintis. Sinyal serupa sempat datang dari S&P Dow Jones Indices terkait kemungkinan reklasifikasi tersebut. Investor asing sejauh ini masih mencatatkan jual bersih, meski intensitasnya mulai melambat.

Data menunjukkan investor asing menarik dana sebesar 161 juta dolar AS bulan ini, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan arus keluar pada Juni yang menembus lebih dari 1 miliar dolar AS. Rajiv Batra, co-head for global emerging markets equity strategy JPMorgan Chase & Co., menyatakan posisi underweight dari investor jangka panjang masih cukup besar.

“Begitu pasar mulai meyakini bahwa Indonesia tetap bertahan di indeks emerging markets dan MSCI merestui langkah para pembuat kebijakan, saya pikir aliran modal masuk akan kembali ke Indonesia. Dan reli saham Indonesia akan menjadi jauh lebih berkelanjutan,” ujar Rajiv melalui wawancara dengan Bloomberg TV.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda