Senin, 27 Juli 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Kader muda PDIP Sidoarjo antusias ikuti peringatan Kudatuli

Pertunjukan teatrikal kader PDIP Sidoarjo memperingati 30 tahun Kudatuli dengan semangat tinggi
Kader muda PDIP Sidoarjo menampilkan pertunjukan teatrikal dalam peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996, dengan antusiasme tinggi dan penghayatan mendalam tentang perjuangan partai. (Ilustrasi: AI)

Visual yang kasar dan nyata dari arsip video tahun 90-an membuat sejarah itu terasa sangat dekat, bukan lagi sekadar narasi di buku pelajaran.

Belajar dari Akar Rumput

Peringatan yang digelar di level daerah ini menjadi sinyal bahwa trauma 1996 tidak hanya milik elite partai di Jakarta. Refleksi ini dilakukan serentak untuk memperkuat konsolidasi internal.

Di Jakarta, Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto sempat mengulas filosofi ketangguhan rakyat kecil yang ia ibaratkan seperti akar rumput. Dihancurkan berkali-kali pun, mereka akan selalu tumbuh kembali.

Kader-kader muda di Sidoarjo menyerap pesan tersebut dengan cara mereka sendiri. Mereka berdiskusi, saling bertukar pandangan tentang arah demokrasi saat ini, dan bagaimana nilai-nilai perlawanan dari peristiwa Kudatuli masih relevan hingga hari ini. Diskusi mengalir cair, memecah kekakuan suasana formal di awal acara.

Menjelang larut malam, rangkaian acara ditutup dengan doa bersama. Suasana berubah haru ketika beberapa tokoh pelaku sejarah mulai berbagi kesaksian. Suara mereka bergetar saat mengisahkan bagaimana mereka bertahan di balik barikade kantor partai di bawah intimidasi.

Bagi generasi Z dan milenial di ruangan itu, mendengarkan langsung cerita dari pelaku sejarah jauh lebih berkesan daripada membaca ribuan baris teks.

Malam itu di Sidoarjo menjadi pengingat bahwa organisasi politik akan tetap berdiri tegak selama ingatan akan perjuangan pendahulu dijaga oleh generasi penerusnya. Mereka tidak hanya merayakan sejarah, tapi sedang memastikan api perjuangan itu tidak padam oleh waktu.

Doa-doa yang dipanjatkan malam itu bukan hanya untuk para korban, melainkan harapan agar demokrasi di tanah air tidak lagi harus dibayar dengan tetesan darah seperti tiga dekade lalu.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda