Ratusan kader Partai Perindo duduk tegak di Ballroom Hotel Borobudur, Jakarta, Senin malam. Mereka menyimak dengan saksama saat Ketua Majelis Persatuan Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo, berdiri di depan podium. Malam itu, bukan sekadar agenda rutin Bimbingan Teknis 2026 yang dibahas. Hary sedang memberikan kuliah singkat tentang daya tahan dan nasib di panggung politik nasional.
Kisah Prabowo Subianto menjadi bahan utama pembicaraan. Hary mengajak para kader melihat ke belakang, tepatnya dua puluh tahun silam. Menurutnya, kesuksesan seorang pemimpin bukanlah hasil dari keberuntungan semalam, melainkan akumulasi dari kegagalan yang terus diperbaiki. Ia menegaskan, politik membutuhkan ketekunan yang nyaris tak masuk akal.
Hary membedah perjalanan panjang sang Presiden ke-8 RI itu dengan detail. Tahun 2004 menjadi titik awal saat Prabowo mencoba peruntungan lewat konvensi Partai Golkar, namun kandas. Lima tahun berselang, ia maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri. Hasilnya? Masih belum memihak.
Rentetan kegagalan itu berlanjut di Pemilu 2014 saat Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa, lalu di Pemilu 2019 bersama Sandiaga Uno. “Pak Prabowo, juga 20 tahun. 2004 ikut konvensi Golkar, kalah. 2009 jadi cawapres Bu Mega. Kemudian 2014 capres sama Pak Hatta. Dan 2019 sama Bang Sandi. Kalah terus. 2024, sukses,” ujar Hary di hadapan anggota DPRD Perindo dari seluruh pelosok nusantara.
Bagi Hary, pola perjalanan Prabowo adalah bukti bahwa kerja keras saja tidak cukup. Ada variabel lain yang tak bisa dikendalikan sepenuhnya: momentum. Prabowo dianggap sebagai sosok yang mampu menjaga api semangatnya tetap menyala meski berkali-kali tumbang di kotak suara. Ketekunan itu akhirnya bertemu dengan waktu yang tepat pada 2024.
Belajar dari Sejarah Partai Besar
Pembahasan Hary tak berhenti pada figur pribadi. Ia menarik benang merah sejarah untuk menjelaskan bagaimana partai politik bisa menjelma menjadi kekuatan besar di Indonesia. Ia mencontohkan PDIP dan PKB sebagai studi kasus yang paling relevan. Menurutnya, pertumbuhan pesat kedua partai tersebut tidak lepas dari kemampuan mereka membaca dan memanfaatkan gelombang perubahan zaman.
PDIP, kata Hary, mendapatkan momentum emas pasca-peristiwa Juli. Simpati publik yang membanjir saat itu menjadi bahan bakar utama yang membesarkan partai pimpinan Megawati tersebut. Begitu pula dengan PKB yang lahir dari rahim Reformasi. Ketika kebutuhan masyarakat akan perubahan begitu mendesak, kehadiran sosok seperti Gus Dur yang memimpin partai baru menjadi magnet kuat bagi konstituen.
“PDIP bisa besar, awal momentum kita tahu, peristiwa Juli, kemudian masyarakat punya simpati dan mereka tumbuh besar. PKB bisa besar, juga momentum perubahan pada saat itu, dari Orde Baru ke Reformasi. Tokoh-tokoh seperti Gus Dur muncul, membuka partai, masyarakat ingin ada perubahan, terus kemudian tumbuh,” papar pria yang akrab disapa HT ini.
Pesan tersirat bagi kader Perindo sangat jelas. Hary ingin bawahannya di tingkat daerah memahami bahwa besar atau kecilnya partai sangat bergantung pada ketajaman insting membaca situasi. Politik, baginya, adalah soal keselarasan antara strategi yang matang dan kemauan masyarakat.
Di akhir penyampaiannya, Hary menekankan agar kader tidak terburu-buru dan frustrasi jika hasil kerja keras belum terlihat dalam waktu singkat. Kisah Prabowo yang memakan waktu dua dekade untuk menaklukkan panggung nasional adalah pengingat bahwa panggung politik adalah maraton, bukan sekadar adu lari cepat.
Para kader Perindo yang hadir tampak merespons dengan anggukan. Mereka sadar, tantangan pemilu ke depan membutuhkan kombinasi antara kesabaran, kerja keras di lapangan, serta kecerdasan dalam menangkap setiap celah momentum yang muncul di masyarakat.
Kini, tinggal bagaimana mereka menerjemahkan pesan tersebut dalam kerja-kerja politik di daerah pemilihan masing-masing menjelang kontestasi selanjutnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.