Selasa, 28 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Skrining Dini Selamatkan Hongkonger dari Takdir Kanker Hati

Skrining Dini Selamatkan Hongkonger dari Takdir Kanker Hati
Skrining Dini Selamatkan Hongkonger dari Takdir Kanker Hati

HONG KONG — skrining dini menjadi penentu hidup seorang perempuan Hong Kong bernama Ms Lam, yang sejak lama tahu dirinya memikul risiko besar kanker hati. Ibunya dan neneknya sama-sama meninggal karena penyakit itu. Riwayat keluarga membuat ia tak pernah menganggap sehat sebagai sesuatu yang bisa dianggap pasti.

Ms Lam, yang kini berusia lima puluhan, mengatakan ia sudah mengetahui sejak usia dua puluhan bahwa dirinya membawa virus hepatitis B. Sejak saat itu, ia rutin menjalani pemeriksaan kesehatan untuk menjaga apa yang ia sebut sebagai “bom” di tubuhnya.

Langkah itu terus ia ulang dari tahun ke tahun, sampai kebiasaan tersebut sempat terputus ketika pandemi Covid-19 membatasi banyak orang pergi ke fasilitas kesehatan.

Skrining dini dan risiko yang diwariskan keluarga

Kisah Ms Lam menggambarkan bagaimana penyakit yang tampak diam bisa bergerak tanpa tanda. Ibunya bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali sebelum akhirnya didiagnosis pada stadium lanjut, dan saat itu operasi sudah bukan pilihan. Bagi keluarga yang pernah kehilangan dua generasi karena kanker hati, jeda kecil dalam pemeriksaan bisa terasa seperti jarak yang panjang sekali.

Itulah sebabnya pemeriksaan rutin punya arti besar. Bukan cuma untuk mencari jawaban, tapi untuk membuka kesempatan bertindak lebih awal. Dalam cerita Ms Lam, skrining dini bukan sekadar prosedur medis. Ia berubah menjadi kebiasaan yang menjaga pintu tetap terbuka, saat ancaman penyakit justru sering datang diam-diam.

Di titik ini, cerita Ms Lam juga menyorot hubungan antara hepatitis B dan kanker hati yang membuat banyak orang hidup dengan kewaspadaan tinggi. Ia sudah menata hidup dengan kesadaran itu sejak muda, dan keputusan untuk terus mengecek kondisi tubuhnya jadi bagian dari cara ia mengelola risiko yang diwariskan keluarga.

Yang berubah setelah pemeriksaan rutin sempat terhenti

Gangguan saat pandemi Covid-19 menunjukkan satu hal yang sering terlupa: kebiasaan medis yang tampak sederhana bisa punya dampak besar ketika berhenti. Untuk orang dengan risiko tertentu, jeda pemeriksaan tidak cuma berarti menunda kunjungan. Bisa juga berarti menunda kesempatan menemukan masalah pada waktu yang lebih aman.

Bagi pembaca, cerita ini memberi gambaran konkret bahwa skrining dini bukan urusan orang sakit saja. Ia menyentuh mereka yang merasa sehat, tetapi punya riwayat keluarga atau faktor risiko lain yang tak terlihat dari luar. Dalam kasus Ms Lam, justru karena ia datang berkala, ancaman yang membayangi hidupnya tidak dibiarkan bergerak tanpa pengawasan.

Ms Lam mengingat kembali kalimat yang ia pakai untuk menggambarkan hidupnya sejak muda: “I knew I carried the hepatitis B virus when I was in my twenties and had since then undergone regular health check-ups to manage the bomb,”.

Dari sana, cerita ini bergerak ke satu pesan sederhana: pemeriksaan yang datang tepat waktu sering kali bekerja diam-diam, sebelum penyakit sempat mengambil banyak pilihan dari tangan seseorang.

Dan bagi keluarga seperti milik Ms Lam, langkah berikutnya tetap sama: menjaga ritme pemeriksaan, lalu menunggu hasil dengan harapan yang lahir dari kebiasaan panjang, bukan dari keberuntungan sesaat.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda