Rabu, 29 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Bukan Ajaib: Bagaimana Aplikasi Gratis Tetap Bisa Menghasilkan Uang Miliaran Rupiah?

tampilan layar smartphone yang menampilkan berbagai jenis aplikasi gratis beserta simbol aliran pendapatan seperti iklan
Bukan Ajaib: Bagaimana Aplikasi Gratis Tetap Bisa Menghasilkan Uang Miliaran Rupiah?. Credit: Dok. JournalArta

Sejumlah aplikasi tidak menjual produk sendiri, melainkan mengarahkan pengguna ke barang atau layanan pihak ketiga dan menerima komisi dari transaksi. Aplikasi resep bisa menautkan bahan makanan, aplikasi perjalanan bisa merekomendasikan hotel atau tiket pesawat, sementara aplikasi gaya hidup dapat membagikan tautan produk fashion.

Model lain berjalan lewat penjualan barang fisik dan jasa nyata. Tokopedia dan Shopee, misalnya, gratis diunduh tetapi mendapatkan pendapatan dari biaya layanan penjual dan fitur promosi berbayar. Gojek dan Grab juga gratis dipasang, namun memperoleh penghasilan dari potongan setiap pesanan transportasi atau makanan.

5. Data, sponsor, dan dukungan pengguna

Beberapa aplikasi memanfaatkan data perilaku yang telah dihapus identitasnya. Data itu dikumpulkan secara anonim dan teragregasi, lalu dijual sebagai wawasan tren ke perusahaan riset atau pengiklan. Bahan menegaskan praktik ini harus tunduk pada regulasi perlindungan data seperti UU PDP di Indonesia atau GDPR di Eropa.

Di sisi lain, ada pula kemitraan eksklusif dan sponsor brand. Aplikasi lari bisa disponsori merek sepatu atau minuman energi, aplikasi keuangan dapat bekerja sama dengan bank, dan aplikasi pendidikan bisa menggandeng lembaga kursus resmi. Untuk proyek komunitas dan open source, donasi serta pendanaan bersama juga menjadi sumber hidup.

Promosi silang dan lisensi teknologi melengkapi model bisnis itu. Pengembang yang punya banyak aplikasi bisa mempromosikan produk lain di dalam aplikasinya sendiri, sementara teknologi seperti prediksi cuaca, terjemahan, atau pengenalan gambar bisa dijual lewat API.

Yang paling penting, hampir semua aplikasi sukses menggabungkan beberapa sumber pendapatan sekaligus. Duolingo dalam bahan disebut memadukan iklan, langganan versi super, dan toko dalam aplikasi. TikTok mengandalkan iklan beranda, fitur belanja afiliasi, dan hadiah virtual siaran langsung.

Dampaknya terasa langsung bagi pengguna. Aplikasi bisa tetap gratis di awal, tetapi pengalaman memakai aplikasi sering dibentuk oleh cara pengembang mencari uang. Kalau monetisasi terlalu agresif, pengguna mudah pergi. Kalau terlalu ringan, bisnisnya rapuh. Di titik itu, keseimbangan jadi taruhan utama, karena aset paling bernilai justru ada pada komunitas penggunanya.

Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda