Rabu, 29 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Harga Starlink Indonesia 2026: Berapa Biaya Langganan & Perangkatnya?

Harga Starlink Indonesia 2026
Harga Starlink Indonesia 2026: Berapa Biaya Langganan & Perangkatnya?. Credit: Dok. JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Layanan internet satelit Starlink resmi beroperasi di Indonesia untuk memperluas akses konektivitas hingga ke pelosok daerah yang sulit dijangkau jaringan kabel fiber optik. Kehadiran teknologi besutan SpaceX milik Elon Musk ini menyasar wilayah-wilayah yang selama ini mengalami kendala sinyal internet, terutama di daerah terpencil, pulau-pulau, hingga kawasan pegunungan.

Masyarakat yang ingin menikmati layanan ini perlu memperhatikan skema biaya yang berlaku. Untuk berlangganan, pengguna dikenakan biaya layanan bulanan sebesar Rp750.000 untuk akses internet tanpa batas. Selain biaya langganan, terdapat pengeluaran investasi awal untuk pembelian perangkat keras berupa antena parabola dan modem yang dipatok seharga Rp7.800.000.

Rincian Biaya Perangkat dan Layanan

Calon pengguna harus menyiapkan dana tambahan di luar biaya perangkat dan langganan bulan pertama. Terdapat komponen biaya pengiriman perangkat sebesar Rp345.000, serta biaya deposit sebesar Rp750.000. Dengan demikian, total akumulasi dana yang dibutuhkan pada awal pendaftaran mencapai Rp9.645.000 untuk memperoleh perangkat sekaligus mengaktifkan layanan.

Harga tersebut mencakup akses penuh ke teknologi satelit Low Earth Orbit (LEO) yang memungkinkan kecepatan transfer data lebih tinggi dengan latensi lebih rendah dibandingkan teknologi satelit konvensional. Meski demikian, biaya ini dapat mengalami perubahan mengikuti kebijakan perusahaan, sehingga pengecekan berkala melalui situs resmi starlink.com tetap diperlukan bagi calon pelanggan.

Keunggulan Teknologi dan Jangkauan

Keunggulan utama Starlink terletak pada jangkauan geografisnya yang mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk sekitar 17.000 pulau. Teknologi satelit yang mengorbit di ketinggian rendah ini dirancang untuk mengatasi tantangan infrastruktur di area 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Pemanfaatan teknologi ini diharapkan mampu menyokong sektor krusial seperti puskesmas terpencil untuk akses kesehatan digital serta mendukung kegiatan pendidikan di pelosok negeri.

Berbeda dengan penyedia layanan internet kabel di perkotaan, Starlink menawarkan kemudahan instalasi dengan sistem plug and play. Pengguna hanya perlu mengarahkan antena ke arah langit setelah perangkat diterima. Model ini menjadi solusi praktis bagi sektor bisnis yang bergerak di bidang pertambangan, perkebunan, maupun operasional kapal di tengah laut yang tidak memungkinkan penarikan kabel fisik.

Status Operasional di Indonesia

Secara legal, Starlink telah mengantongi izin operasional B2C atau eceran dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Layanan di Indonesia sendiri dikelola melalui entitas lokal yang bekerja sama dengan pihak terkait. Peluncuran resmi layanan ini telah dilakukan di Bali pada Mei 2024 yang dihadiri langsung oleh Elon Musk bersama pihak pemerintah Indonesia. Selain itu, pemerintah juga menjadwalkan uji coba penggunaan perangkat ini di kawasan Ibu Kota Nusantara sebagai upaya akselerasi infrastruktur digital di pusat pemerintahan baru.

Masyarakat yang berminat dapat melakukan pendaftaran melalui situs resmi dengan memasukkan alamat lengkap untuk memastikan cakupan area. Setelah verifikasi lokasi berhasil, pengguna memilih paket layanan dan melunasi pembayaran awal. Perangkat kemudian akan dikirimkan langsung ke alamat tujuan.

Keberadaan internet satelit ini bukan dimaksudkan untuk menggantikan layanan Wi-Fi rumah yang sudah stabil di kota-kota besar, melainkan berfungsi sebagai jembatan digital bagi daerah dengan tantangan geografis yang selama ini memiliki akses internet terbatas dan kecepatan rendah.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda