Febri dari Kementerian Perindustrian menjelaskan, kebijakan ini menjadi pemantik utama bagi masuknya arus modal. Menurutnya, ada beberapa jenis industri, terutama barang galian bukan logam, yang baru pertama kali muncul karena perusahaan dipaksa membangun fasilitas di sini agar bisa tetap berjualan.
“Saya menggarisbawahi terutama industri barang galian bukan logam, ada industri yang baru pertama kali berproduksi karena mereka berinvestasi dan membangun fasilitas produksi di sini,” ungkap Febri di Jakarta, Kamis (30/7).
Bagi pelaku usaha, membangun pabrik di lokal bukan lagi sekadar pilihan efisiensi, melainkan kebutuhan untuk bertahan hidup di pasar domestik. Ketika pintu impor ditutup atau diperketat, investasi fisik menjadi jalan keluar yang paling masuk akal. Efek domino dari kebijakan ini adalah berkurangnya ketergantungan pada barang impor secara bertahap.
Sekarang, tantangannya bergeser pada kemudahan operasional di lapangan. Keberhasilan 152 perusahaan ini untuk mulai berproduksi adalah langkah awal yang positif.
Pemerintah kini dituntut untuk menjaga stabilitas regulasi agar perusahaan-perusahaan yang baru menginjakkan kaki di tanah air ini tidak lagi melirik negara lain untuk relokasi.
Rantai pasok dalam negeri yang selama ini bolong-bolong perlahan mulai terisi, menciptakan ekosistem manufaktur yang jauh lebih mandiri dari sebelumnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.