Jumat, 31 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Benarkah Curling Irons Lebih Aman dari Air Styler? Simak Faktanya

Benarkah Curling Irons Lebih Aman dari Air Styler? Simak Faktanya
Benarkah Curling Irons Lebih Aman dari Air Styler? Simak Faktanya

JAKARTA — Selama ini, banyak orang menghindari penggunaan alat penata rambut panas karena dianggap menjadi musuh utama kesehatan helai rambut. Namun, pandangan ini perlahan mulai bergeser dengan adanya diskusi mendalam mengenai bagaimana panas sebenarnya bekerja pada rambut kita.

Dr. Julie Chung, salah satu pendiri merek perawatan rambut T3, memberikan sudut pandang yang berbeda. Ia menyebutkan bahwa panas pada alat penata rambut sering kali mendapatkan stigma yang tidak tepat. Banyak orang kini lebih memilih mengeringkan rambut secara alami atau air dry dengan alasan menghindari kerusakan, namun cara tersebut justru memiliki risiko tersendiri.

“Rambut berada dalam kondisi paling rapuh saat basah. Kekuatan tariknya berkurang dan lebih mudah patah,” ujar Dr. Chung seperti dilansir oleh TechRadar. Selain risiko patah, membiarkan rambut kering dengan sendirinya sering kali menyebabkan tekstur yang lebih kusut dan terlihat tidak sehat bagi mereka yang memang memiliki jenis rambut kering.

Meluruskan Mitos Curling Irons dan Air Styler

Kehadiran alat penata rambut berbasis udara seperti air styler memang sempat dianggap sebagai solusi mutlak bagi ketakutan akan kerusakan akibat panas. Meski demikian, Dr. Chung menanggapi tren tersebut dengan cukup skeptis. Menurutnya, tidak serta merta air styling lebih baik dibandingkan penggunaan curling iron atau catokan tradisional.

Kunci dari kesehatan rambut saat ditata bukan terletak pada jenis alatnya, melainkan pada cara penggunaan serta pemilihan material. Dr. Chung menyarankan penggunaan alat yang menggunakan material keramik. Keramik dikenal sebagai penghantar panas yang lebih baik dan mampu menyebarkan panas secara merata tanpa menciptakan titik panas berlebih atau hot spots yang merusak.

Teknologi distribusi panas yang lembut, termasuk pemanfaatan panas inframerah jauh, menjadi aspek penting agar rambut tetap terjaga kelembapannya. Pada akhirnya, seberapa sering pengguna menata rambut dan seberapa ahli mereka dalam mengendalikan alat tersebut menjadi faktor penentu utama kerusakan rambut, bukan semata-mata karena alatnya.

Bahaya Kecepatan Tinggi pada Hair Dryer

Selain alat pengeriting, penggunaan hair dryer juga sering kali salah kaprah. Banyak orang terobsesi dengan alat yang memiliki daya hembus paling tinggi, padahal hal ini justru bisa berbahaya. Dr. Chung menegaskan bahwa rata-rata konsumen tidak perlu menggunakan panas pada pengaturan tertinggi dengan kecepatan maksimal setiap hari.

Kebiasaan mengarahkan hembusan udara panas terkonsentrasi ke satu bagian rambut secara terus-menerus bisa menyebabkan hilangnya kelembapan alami secara drastis tanpa menutup kutikula rambut. Dampak jangka panjang dari kebiasaan ini adalah rambut yang terasa sangat kering dan rusak.

Sebagai alternatif, konsep Soft Air dikembangkan dengan cara memberikan volume udara yang lebih besar pada suhu yang lebih rendah. Pendekatan ini memungkinkan proses pengeringan tetap efisien tanpa harus menghilangkan kelembapan rambut secara berlebihan.

Dengan pengaturan yang tepat serta bantuan ion untuk mengurangi statis, rambut justru bisa tampil lebih lembut dan minim kusut meskipun tidak dikeringkan menggunakan suhu ekstrem.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda