JAKARTA — Kehadiran kecerdasan buatan atau AI kerap dijanjikan sebagai solusi untuk memangkas waktu kerja manusia. Namun, CEO OpenAI, Sam Altman, justru memiliki pandangan berbeda. Ia meyakini bahwa teknologi tersebut tidak akan mengubah tren masyarakat untuk tetap bekerja dengan durasi yang panjang.
Dalam perbincangan di podcast Relentless bersama Ti Morse, Altman menyatakan bahwa harapan akan adanya minggu kerja yang lebih singkat—seperti janji para pegiat teknologi selama ini—kemungkinan besar tidak akan terwujud dalam skala luas.
Menurutnya, masalahnya bukan terletak pada keterbatasan teknologi, melainkan pada kecenderungan manusia itu sendiri yang memang sangat menyukai persaingan dan kesibukan dalam bekerja.
Sifat Dasar Manusia dan Budaya Kerja
Altman menjelaskan bahwa meski dunia saat ini sudah jauh lebih kaya akan kemewahan dan waktu luang dibandingkan era manapun dalam sejarah, ekspektasi masyarakat justru ikut meningkat. Manusia cenderung selalu menginginkan lebih dan terus menciptakan hal-hal baru untuk dikerjakan.
Fokus orang sering kali tertuju pada pencapaian relatif dibandingkan orang lain, yang membuat budaya kerja keras tetap dominan di masyarakat.
“Teknologi sudah lama menjanjikan waktu luang, tapi kita tidak pernah benar-benar mencapai skala tersebut,” ujar Altman. Ia menambahkan, di masa depan dunia dengan kecerdasan super, orang justru akan merasa lebih sibuk dari yang dibayangkan. Meski nantinya akan ada keluhan, Altman menduga secara rahasia orang-orang tetap merasa senang dengan kesibukan tersebut.
Pernyataan ini mencerminkan sikap yang cukup blak-blakan dari pimpinan perusahaan di balik pengembangan ChatGPT. Padahal, OpenAI sendiri sedang berupaya menyelesaikan berbagai masalah besar dunia melalui teknologi AI.
Namun, Altman menegaskan bahwa strategi masa depan perusahaannya bukan bertujuan untuk mengotomatisasi segalanya secara penuh, melainkan membantu manusia membuat keputusan yang lebih baik.
Dampak AI terhadap Pasar Kerja
Terlepas dari prediksinya soal durasi kerja, Altman mengakui bahwa dampak AI terhadap lapangan pekerjaan akan mulai terasa nyata dalam beberapa tahun ke depan.
Ia tidak memungkiri adanya peran teknologi dalam pergeseran tenaga kerja manusia, meski ia juga yakin akan muncul jenis pekerjaan baru seiring berjalannya waktu.
Hingga saat ini, data dari Layoffs.fyi mencatat bahwa 252 perusahaan telah mengumumkan pemangkasan karyawan sepanjang tahun 2026, dengan total 124.255 orang kehilangan peran mereka.
Altman sempat mengkritik perusahaan yang menjadikan AI sebagai kambing hitam atas pemutusan hubungan kerja yang mereka lakukan. Ia sendiri merasa cukup terkejut bahwa dampak eliminasi pada pekerjaan kerah putih level awal ternyata tidak sedrastis yang ia perkirakan sebelumnya.
Bagi Altman, meskipun OpenAI dinilai cukup akurat dalam prediksi teknis saat merilis ChatGPT pada 2022, mereka mengaku sempat keliru dalam memprediksi implikasi sosial dan ekonomi yang muncul di masyarakat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.