Sabtu, 1 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Selat Hormuz Picu Risiko BioinvasI: 1.500 Kapal Terjebak

BioinvasI Selat Hormuz dari kapal yang lama terhenti
Kapal yang lama mengapung di perairan yang sama berisiko membawa organisme laut ke jalur pelayaran lain. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Penutupan Selat Hormuz sejak 28 Februari, di awal perang Presiden Donald Trump dengan Iran, memunculkan risiko baru yang tidak terlihat di permukaan: bioinvasI Selat Hormuz. Lebih dari 1.500 kapal komersial tertahan di Teluk, dan studi terbaru menyebut situasi itu bisa berubah menjadi peristiwa “superspreader” bioinvasI laut berskala besar.

Dampaknya tidak berhenti di perairan Timur Tengah. Saat kapal-kapal itu kembali masuk ke jaringan pelayaran global, mereka berpotensi membawa mikroba laut, alga, dan invertebrata yang menempel lama di lambung kapal. Dari sana, spesies asing bisa ikut berpindah ke ekosistem lain dan memicu gangguan baru.

Studi sebut situasinya belum pernah terjadi

Peneliti dari University of Maryland dan Woods Hole Oceanographic Institution menilai kondisi di Teluk sekarang “unparalleled” dalam sejarah modern. Menurut mereka, tak ada gangguan pelayaran lain yang membuat begitu banyak kapal menganggur selama itu.

Biasanya, kapal di kawasan ini hanya berada 1-3 hari di pelabuhan sebelum berangkat lagi. Jeda berbulan-bulan membuat kapal-kapal itu punya cukup waktu untuk mengalami biofouling, yakni penumpukan komunitas laut yang tak diinginkan di badan kapal. Masalahnya sederhana, tapi efeknya bisa jauh merembet.

Kalau ribuan kapal itu bergerak lagi tanpa penanganan memadai, organisme yang menempel bisa ikut tersebar ke pelabuhan lain. Itu bukan persoalan estetika di lambung kapal. Ekosistem tujuan yang menerima spesies baru bisa terganggu, bahkan rusak, jika organisme tersebut beradaptasi dan mendominasi lingkungan setempat.

Aturan ada, tapi dinilai belum cukup

Risiko itu sebenarnya sudah lama dikenal. Pada 2023, International Maritime Organization mengesahkan resolusi untuk meminimalkan perpindahan spesies akuatik invasif lewat biofouling. Dalam resolusi itu, kapal yang menganggur 18 sampai 30 hari disarankan mengambil “immediate actions before the next voyage” sebelum berlayar lagi.

Namun para peneliti menilai kerangka pengelolaan biofouling yang ada sekarang masih “insufficient” untuk menghadapi penghentian kapal dalam skala besar dan tidak direncanakan seperti di Teluk. Artinya, celah regulasi masih terbuka saat gangguan pelayaran berlangsung terlalu lama dan melibatkan terlalu banyak kapal sekaligus.

Bagi industri pelayaran, ini jadi sinyal bahwa risiko operasional tak berhenti pada jadwal logistik dan kerugian ekonomi. Kapal yang lama diam bisa berubah menjadi pembawa masalah lintas wilayah. Dan ketika jaringan pelayaran kembali normal, organisme yang tak diundang bisa ikut bergerak bersama arus perdagangan dunia.

Para peneliti menegaskan bahwa dampak manusia dan ekonomi dari perang di Timur Tengah tetap menjadi prioritas tertinggi. Tapi mereka juga mengingatkan satu hal yang tak boleh diabaikan: “While the human and economic consequences of events like the war in the Middle East will always remain the highest priority, ecological impacts cannot be overlooked.”

Di titik inilah Selat Hormuz berubah dari sekadar jalur strategis energi dan perdagangan menjadi alarm biosecurity global. Ribuan kapal yang lama terdiam sekarang membawa risiko yang ikut berlayar bersama mereka.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda