Atlet 32 tahun itu memang sudah punya pengalaman besar: tiga kali juara dunia di trek dan dua kali juara dunia di jalan raya. Nomor individual pursuit putri sendiri baru resmi bergeser dari 3,000m ke 4,000m pada 1 Januari 2025, jadi rekor baru masih terus berdatangan.
Kenapa momen unik ini mencuri perhatian
Bagian yang paling ringan justru datang dari angkat besi. Joshua Uikilifi dari Tonga menghibur penonton di SEC Armadillo dengan gerakan tari yang ia tampilkan setiap kali angkatan sukses.
Di kelas men’s 110kg, ia mencatat total 331kg dan finis keempat, di belakang Taniela Rainibogi dari Fiji yang merebut emas dengan Games record 378kg. Tapi ingatan banyak penonton jelas melekat pada suasana riuh dan tarian Uikilifi.
Kalau medali diberikan untuk ekspresi selepas angkatan, suasananya mungkin lain lagi.
Velodrome juga punya ceritanya sendiri. Nigeria menarik perhatian lewat seragam para pembalapnya yang disebut terinspirasi kit timnas sepak bola putra pada Piala Dunia 2018. Oyindamola Abdullahi Tijani dan pilot Okeyah Bethel tampil di men’s tandem B 1,000m time trial, lalu finis kelima di final.
Di media sosial, penampilan mereka langsung mendapat banyak sambutan. Emas jatuh ke tangan Skotlandia melalui Neil Fachie bersama pilot Aaron Pope, disusul James Ball dan Matthew Rotherham dari Wales, sementara Australia lewat Kane Perris dan Luke Zaccaria merebut perunggu.
Lalu ada nama yang bikin orang berhenti sebentar. David Beckham dan Ronaldo hadir di Sir Chris Hoy velodrome, meski bukan tokoh sepak bola yang biasa dikenal orang. David Beckham Elkatohchoongo tampil bersama Ronaldo Singh Laitonjam dan Rojit Singh Yanglem dalam skuad sprint India.
Nama mereka memang diambil dari idola sepak bola keluarga. Elkatohchoongo pernah bercerita kepada AFP pada 2023 di Asian Games bahwa ayahnya adalah mantan pesepak bola tim nasional dan sangat mengagumi David Beckham.
Sementara Laitonjam dinamai bukan dari Ronaldo, melainkan Ronaldinho, setelah sang ayah bertaruh dengan rekan kerja saat menyaksikan laga Brasil melawan Inggris di Piala Dunia 2002.
Meski nama mereka mengundang senyum, hasilnya tetap keras di lintasan. India finis ketujuh dan terakhir di kualifikasi.
Dari seluruh rangkaian hari itu, Glasgow seperti mengingatkan bahwa olahraga besar selalu punya dua sisi yang jalan bersamaan: drama teknis yang menentukan medali, dan momen manusiawi yang membuat arena terasa hidup.
Re-race di para atletik akan jadi fokus berikutnya, sementara sorotan di trek dan velodrome masih terus bergerak ke nomor-nomor lanjutan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.