Suasana panas sempat menyelimuti ruang rapat Komisi II DPR RI beberapa waktu lalu. Anggota DPR dari Fraksi PDIP, Deddy Yevri Sitorus, mendadak jadi sasaran protes Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP). Musababnya, muncul tuduhan bahwa sang legislator melontarkan kata-kata merendahkan profesi jurnalis dengan istilah “Gerombolan Sirkus” saat rapat sedang berlangsung.
Tak mau isu tersebut liar tak terkendali, Deddy pun angkat bicara. Ia menepis mentah-mentah tudingan penghinaan itu. Menurutnya, ada disinformasi mengenai konteks ucapannya yang kini dipermasalahkan oleh sejumlah pihak.
Bukan untuk Wartawan
Deddy menceritakan kronologi sebenarnya. Saat rapat Komisi II DPR berjalan, ia merasa risih dengan kondisi ruangan yang tampak semrawut. Banyak orang berdiri bergerombol di area tengah ruang rapat, padahal area tersebut seharusnya steril atau bisa tertib dengan memanfaatkan balkon yang tersedia di lantai atas.
Pemandangan itulah yang memicu komentarnya kepada pimpinan rapat. “Pimpinan, mohon ruangan ditertibkan, banyak sekali yang berdiri di sini, padahal ada ruangan balkon di atas. Sudah seperti sirkus kita ini,” ungkap Deddy menirukan kembali ucapannya. Ia menegaskan, kalimat itu murni reaksi spontan atas kekacauan fisik di ruang rapat, bukan serangan kepada individu atau profesi wartawan.
Politisi PDIP ini menantang pihak-pihak yang menuduhnya untuk memeriksa kembali rekaman video rapat. Menurut Deddy, bukti otentik tersebut bakal menjawab keraguan soal niatnya. Ia bersikukuh bahwa konteks pembicaraannya adalah soal ketertiban teknis ruangan, bukan merujuk pada keberadaan rekan-rekan jurnalis yang sedang meliput.
Menyayangkan Cara Konfrontasi
Ada kekecewaan mendalam yang ia rasakan. Deddy menyoroti langkah KWP yang langsung melempar tuduhan ke publik tanpa ada upaya tabayun atau konfirmasi langsung kepadanya. Baginya, cara-cara seperti itu jauh dari etika komunikasi profesional.
Pria ini mempertanyakan mengapa tidak ada pihak yang bertanya langsung mengenai maksud kalimatnya sebelum menuduhnya di media. “Saya sangat menyayangkan munculnya tuduhan bahwa saya menghina profesi wartawan. Apalagi tuduhan itu dilempar ke publik tanpa ada klarifikasi sama sekali,” ujarnya dengan nada geram.
Bagi Deddy, perbedaan pendapat atau kesalahpahaman dalam kerja di parlemen adalah hal lumrah. Namun, ia berharap semua pihak mengedepankan dialog sebelum menyimpulkan sesuatu yang bersifat menghakimi. Baginya, komunikasi adalah kunci agar tidak ada fitnah yang tumbuh di lingkungan DPR.
Komitmen pada Kebebasan Pers
Di balik ketegangan tersebut, Deddy memastikan dirinya punya posisi tegas terhadap pers. Ia mengklaim tidak pernah berniat menghalangi tugas jurnalis di parlemen. Rapat kerja antara Komisi II DPR dan pemerintah pun, katanya, selalu bersifat terbuka.
Masyarakat hingga wartawan punya akses penuh untuk meliput kegiatan tersebut. Ia justru melihat peran pers sebagai pilar penting demokrasi yang harus dijaga. Transparansi adalah nafas dari setiap rapat yang ia hadiri. Oleh karena itu, tuduhan anti-pers adalah hal yang sangat jauh dari karakter politik yang ia bangun selama ini.
Kini, Deddy memilih untuk tenang dan berharap publik bisa melihat duduk perkara secara jernih. Ia meyakini bahwa rekam jejaknya selama berada di parlemen akan membuktikan keberpihakannya pada kerja-kerja jurnalistik. Persoalan “Gerombolan Sirkus” ia harapkan selesai di sini, setelah klarifikasi terbuka ini dilayangkan ke ruang publik.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan lanjutan dari pihak KWP terkait klarifikasi resmi yang diberikan Deddy Sitorus. Urusan teknis di ruang rapat yang sempat riuh pun kini sudah kembali normal, dengan pengawasan ketat dari pihak kesekjenan DPR agar tidak terjadi penumpukan massa di area yang tidak semestinya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.